Cerita Peternak di Pasangkayu Rebut Sapi dari Gigitan Buaya, Berakhir Disembelih di Tepi Sungai
Abd Rahman August 04, 2026 12:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU-Serangan buaya terhadap ternak warga di Desa Sarude, Kecamatan Sarjo, Kabupaten Pasangkayu, tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga menyisakan pengalaman mencekam bagi para peternak.

Salah satunya dialami Suparman, warga Desa Sarude, yang mengaku sempat terlibat tarik-menarik dengan seekor buaya saat berusaha menyelamatkan sapinya yang diterkam di tepi sungai.

Peristiwa itu terjadi pada siang hari ketika ia membawa sapinya ke sungai untuk diberi minum.

Baca juga: Delapan Ekor Sapi Warga di Sarude Pasangkayu Tewas Diterkam Buaya dalam Sebulan, Peternak Resah

Baca juga: Gegara Tatapan Mata di SPBU, Pria di Tapalang Dikeroyok Pelaku Ditangkap Setelah 4 Bulan Buron

Saat itu kondisi terlihat biasa saja dan tidak ada tanda-tanda keberadaan predator tersebut di permukaan air.

Namun saat sapi sedang minum, seekor buaya tiba-tiba muncul dari dalam sungai dan langsung menerkam bagian kepala sapi miliknya.

"Buayanya langsung muncul dan gigit kepala sapi. Saya kaget sekali karena kejadiannya sangat cepat," kata Suparman saat ditemui di Desa Sarude, Selasa (4/8/2026).

Melihat sapinya diseret, Suparman spontan memegang tali yang terikat di leher sapi dan berusaha menariknya menjauh dari sungai. Saat itu terjadi tarik-menarik antara dirinya dan buaya yang sama-sama berusaha menguasai sapi tersebut.

Ia mengaku tenaga buaya sangat kuat. Meski demikian, ia tetap bertahan karena tidak ingin kehilangan ternaknya begitu saja.

"Saya tarik talinya, buayanya juga tarik dari arah sungai. Kuat sekali tenaganya," ujarnya.

Beberapa saat kemudian gigitan buaya akhirnya terlepas. Namun kondisi sapi sudah mengalami luka parah di bagian kepala akibat terkaman predator tersebut.

Setelah berhasil dibawa menjauh dari sungai, sapi itu terlihat lemas dan tidak mampu berdiri dengan normal. Suparman menyadari peluang ternaknya untuk bertahan hidup sangat kecil.

Karena khawatir sapi akan mati dan dagingnya tidak dapat dimanfaatkan, ia akhirnya memutuskan menyembelih ternak tersebut di sekitar lokasi kejadian.

"Sapinya sudah lemas sekali, seperti mau mati. Akhirnya saya sembelih di pinggir sungai," katanya.

Daging sapi tersebut kemudian dijual kepada warga agar kerugiannya tidak terlalu besar.

Meski demikian, kejadian itu menjadi awal dari rentetan serangan buaya yang menimpa ternaknya.

Beberapa hari setelah insiden tersebut, Suparman kembali kehilangan seekor anak sapi. Saat itu ia melihat langsung anak sapi miliknya diserang buaya.

Ia hanya bisa menyaksikan ketika predator itu menggigit tubuh ternaknya lalu menyeretnya ke tengah sungai.

"Saya lihat sendiri anak sapi saya ditarik ke tengah sungai. Tidak sempat diselamatkan," ujarnya.

Tidak lama berselang, induk sapi lainnya juga menjadi korban. Berbeda dengan kejadian sebelumnya, kali ini Suparman menemukan ternaknya sudah berada di dalam sungai dalam kondisi diterkam buaya.

Menurutnya, serangan-serangan itu terjadi dalam waktu yang relatif berdekatan sehingga membuat para peternak semakin waspada.

Dari delapan ekor sapi milik warga yang dilaporkan tewas diterkam buaya dalam sebulan terakhir, lima ekor di antaranya merupakan ternak milik Suparman. 

Korban tersebut terdiri dari dua induk sapi, dua anak sapi, serta satu anak yang masih berada dalam kandungan induknya.

Suparman menuturkan, masyarakat sebenarnya sudah lama hidup berdampingan dengan buaya yang menghuni sungai di wilayah tersebut. Namun dalam beberapa waktu terakhir, kemunculan buaya dinilai semakin sering dan perilakunya semakin agresif.

Bahkan warga kerap melihat lima hingga tujuh ekor buaya berjejer di tepian sungai saat siang hari. 

Selain berada di perairan, reptil tersebut juga sesekali terlihat masuk ke area semak dan lahan perkebunan yang berada tidak jauh dari permukiman warga.

Kondisi itu membuat para peternak kini tidak lagi berani melepas ternaknya bebas untuk mencari makan di sekitar bantaran sungai.

Warga berharap ada langkah penanganan dari pihak terkait untuk mengurangi konflik antara manusia dan buaya, mengingat serangan yang terjadi tidak hanya mengancam ternak, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat yang beraktivitas di sekitar sungai.(*)


Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.