TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU - Warga Desa Sarude, Kecamatan Sarjo, Kabupaten Pasangkayu, dibuat resah dengan meningkatnya serangan buaya yang memangsa ternak sapi dalam sebulan terakhir.
Sedikitnya delapan ekor sapi milik warga dilaporkan tewas diterkam buaya sepanjang Juli 2026.
Peristiwa itu terjadi di kawasan sungai yang selama ini dikenal sebagai habitat reptil predator tersebut.
Salah seorang peternak, Suparman, mengatakan serangan buaya terhadap ternak warga terjadi berulang kali dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
Baca juga: Pengalaman Pawang Rusli Ungkap Ciri Buaya Pernah Memangsa Manusia dan Waktu Rawan Serangan
Baca juga: Detik-Detik Dramatis Pawang Rusli Taklukkan Buaya 4,5 Meter Pemangsa Pencari Kerang di Pasangkayu
Menurutnya, dari delapan ekor sapi yang menjadi korban, lima ekor merupakan miliknya sendiri.
"Kalau sapi saya ada lima ekor yang hilang diterkam buaya. Dua induk, dua anak, ditambah satu lagi yang masih dalam kandungan induknya," kata Suparman saat ditemui di Desa Sarude, Selasa (4/8/2026).
Ia mengaku selama ini warga sudah terbiasa hidup berdampingan dengan buaya yang menghuni sungai tersebut.
Namun, belakangan satwa itu dinilai semakin agresif dan kerap memangsa ternak yang mencari makan di sekitar bantaran sungai.
Suparman menuturkan, sebelumnya ia sering melepas sapi-sapinya untuk merumput.
Namun, setelah kejadian beruntun tersebut, dirinya tidak lagi berani melepas ternak tanpa pengawasan.
"Kalau dulu biasa dilepas, sekarang sudah tidak berani lagi karena takut diterkam buaya," ujarnya.
Ia mengungkapkan, keberadaan buaya di sungai itu hampir setiap hari terlihat oleh warga.
Bahkan, dalam satu waktu, lima hingga tujuh ekor buaya sering terlihat berjejer berjemur di bibir sungai.
"Setiap hari kelihatan. Kadang lima sampai tujuh ekor berjejer di pinggir sungai," katanya.
Kondisi tersebut membuat warga semakin khawatir.
Pasalnya, selain berada di sungai, buaya juga kerap masuk ke area semak-semak di sekitar kebun milik masyarakat.
Menurut Suparman, sebagian besar lahan perkebunan warga berada tidak jauh dari aliran sungai sehingga aktivitas masyarakat di sekitar lokasi cukup tinggi.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada warga Desa Sarude yang meninggal dunia akibat serangan buaya.
"Kalau yang diterkam pernah ada beberapa orang, tapi tidak sampai meninggal," ujarnya.
Suparman juga mengaku pernah terlibat dalam proses pencarian korban serangan buaya yang berasal dari Sulawesi Tengah. Saat itu, jasad korban ditemukan setelah dibawa buaya ke wilayah tersebut.
Warga berharap ada langkah penanganan dari pihak terkait untuk mengurangi potensi konflik antara manusia dan buaya, mengingat keberadaan reptil tersebut dinilai semakin mengancam keselamatan masyarakat maupun ternak mereka. (*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Taufan