SURYA.CO.ID SURABAYA - Komunitas Arus Bawah PSHT Jawa Timur menegaskan konflik pascapembacokan dua anggotanya di Surabaya bukan persoalan antarkelompok. Mereka mengajak rekonsiliasi sekaligus mendesak polisi segera menangkap pelaku pembacokan yang masih buron.
Peristiwa pembacokan dua warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di parkiran Ambyar Super Club, Minggu (26/7/2026), sempat memanaskan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Kota Surabaya.
Selama tiga hari setelah kejadian, kelompok PSHT mendatangi markas Maluku Satu Rasa (M1R) di kawasan Jalan Teuku Umar, Kecamatan Tegalsari.
Aksi itu dipicu rasa tidak terima setelah dua anggota PSHT dibacok oleh oknum debt collector (DC) yang diketahui juga merupakan anggota M1R.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran berbagai pihak karena dikhawatirkan berkembang menjadi konflik bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Baca juga: Strategi Kapolrestabes Surabaya Meredam Ketegangan Ratusan Pesilat yang Tuntut Soal Kasus Pembacokan
Koordinator Komunitas Arus Bawah PSHT Jatim, Bondan, menegaskan sejak awal pihaknya memahami bahwa insiden tersebut merupakan persoalan individu, bukan konflik organisasi.
“kita pun sebenarnya tidak mau aksi. Kita sudah lihat masalah tersebut sebenarnya masalah pribadi dan pekerjaan. Tidak ada sambungannya dengan organisasi,” kata Bondan.
Menurut Bondan, situasi semakin memanas setelah bentrokan yang terjadi pada Senin (27/7/2026) dini hari di Jalan Teuku Umar.
Video yang beredar di media sosial memicu kekecewaan anggota PSHT di berbagai daerah karena petugas yang berjaga dianggap melakukan pembiaran terhadap massa yang membawa senjata tajam.
Baca juga: Temui Massa Pesilat, Kapolrestabes Surabaya Tegaskan Kasus Pembacokan Diusut Transparan
Kondisi tersebut kemudian memunculkan gerakan spontan dari komunitas Arus Bawah PSHT.
“Kemarin kami juga sampaikan kekecewaan kami dan mendapat tanggapan dari pihak kepolisian. Sehingga sekarang ini fokus kami kepada agar individu oknum DC yang melakukan aksi premanisme segera ditangkap. Kami arus bawah PSHT tidak ingin bermusuhan terhadap kelompok suku, agama atau organisasi lain yang malah mencederai Bhinneka Tunggal Ika. Yang kami lawan itu tindakan premanisme yang dilakukan oknum DC,” tegas Bondan.
Bondan mengungkapkan hingga kini belum ada komunikasi resmi antara komunitas Arus Bawah PSHT dengan M1R.
Meski demikian, pihaknya menyatakan terbuka untuk membangun komunikasi dan rekonsiliasi agar kedua pihak bersama-sama mencegah aksi premanisme di Surabaya.
“Tentu kita buka lebar pintu komunikasi. Karena sekali lagi musuh kita bukan orang Madura, orang Ambon, atau orang Jawa. Musuh kita adalah tindakan premanisme. Ayo kita duduk bareng dan bersama mencari satu pelaku yang ditetapkan buron,” pungkasnya.