Raja Kamehameha I Tak Hanya Menyatukan Hawaii tapi Juga Menginspirasi Dragon Ball
Moh. Habib Asyhad August 04, 2026 02:34 PM

Raja Kamehameha I adalah pemersatu Kepualauan Hawaii. Namanya juga inspirator lahirnya pukulan kamehame khas Son Goku, protagonis utama manga Dragon Ball.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -“Kamehameha I ditakdirkan untuk menjadi hebat sejak lahir,” tulis situs Gohawaii.com. Bagi Anda yang belum tahu, dia adalah raja yang menyatukan Hawaii yang terdiri atas pulau-pulau itu.

Beberapa sejarawan menyebutnya Raja Kamehameha I (kita sebut saja Kamehameha) sebagai seorang pejuang, diplomat, dan pemimpin hebat. Dia menyatukan Kepulauan Hawaii menjadi satu kerajaan pada 1810 setahun bertahun-tahun terlibat konflik.

Sejarawan juga percaya bahwa Kamehameha lahir pada 1758, tahun ketika komet Halley jatuh melewati Hawaii – legenda lokal meramalkan bahwa cahaya di langit dengan bulu seperti burung menandai kelahiran seorang kepala suku yang hebat.

Raja Kamehameha I lahir dengan nama Pai’ea. Setelah lahir, dia langsung disembunyikan dari klan yang bertikai dari Lembah Waipi’o yang terpencil.

Ketika ancaman itu sudah berlalu, Pai’ea kecil dari persembunyiannya dan namanya diubah menjadi Kamehameha yang secara harafiah berarti “yang kesepian”. Dia dilatih sebagai seorang pejuang dan kekuatannya yang legendaris dipercaya bisa membalikkan Batu Naha, yang disebut beratnya mencapai 2,5 dan 3,5 ton.

Batu itu, sekarang, bisa kita saksikan di Hilo.

Pada 1778, Kapten James Cook tiba di Hawaii – dia adalah orang Eropa pertama yang mendarat di Kepulauan Hawaii, pulau yang dia beri nama Kepulauan Sandwich. Kedatangan Kapten James Cook rupanya bertepatan dengan ambisi Kamehameha menyatukan kepulauan tersebut.

Setelah kembali dari persembunyian, Kamehameha mendapat pelatihan khusus dari pamannya, Raja Kalani’opo’u. Dia dilatih berperang dan navigasi, juga sejarah lisan, tata cara upacara keagamaan, dan pengetahuan lainnya yang diperlukan untuk menjadi seorang ali’i-‘ai-moku atau kepala suku.

Kamehameha kemudian tumbuh menjadi pria yang tinggi besar, kuat, dan tak kenal takut. Dia adalah pejuang ulung dengan banyak pengalaman bertempur.

Dia juga terlibat dalam pertempuran yang menewaskan Kapten James Cook. Pertempuran itu mengangkat reputasinya sebagai seorang kepala suku yang tangguh.

Setelah tewasnya James Cook, Raja Kalani'opu'u yang sakit-sakitan dan lemah karena usia, mengumpulkan para pengikutnya dan membagi wilayah kekuasaan Hawaii. Putra kandungnya, Kiwala'o, ditunjuk sebagai pewaris politik dan menjadi raja. Sedangkan Kamehameha dipercaya sebagai pewaris religius sebagai penjaga dewa perang Kūkaʻilimoku atau Kū.

Mengutip National Geographic Indonesia, “Meski Kamehameha berpangkat lebih rendah dan hanya keponakan raja, statusnya sebagai penjaga dewa perang menjadi pendorong kuat bagi ambisi politiknya.”

Dan lebih dari itu, pembagian “warisan” oleh Raja Kalani’opo’u itu disebut menjadi pemicu perang saudara di antara para kepala suku di Kepulauan Hawaii.

Menurut beberapa catatan, Kamehameha lebih muda dibanding Kīwalaʻō. Meski begitu, dia tak segan untuk menentang putra kesayangan pamannya itu.

Selama pemakaman Raja Kalani’opo’u, Kamehameha turun tangan dan melakukan salah satu ritual yang seharusnya dikhususkan untuk Kīwalaʻō. Tentu saja itu sebuah penghinaan besar terhadap pewaris raja.

Ada beberapa versi tentang apa yang terjadi setelah kematian Raja Kalani’opo’u pada 1782. Beberapa sumber menyebut bahwa raja tua itu telah membagi wilayah pulau Hawaii menjadi dua bagian: distrik Ka’u, Puna, dan Hilo untuk sang putra, Kīwalaʻō; sementara Kamehameha mendapatkan Kona, Kohala, dan Hamakua.

Setelah kematiannya, jenazan Kalani’opu’u dibawa Kiwala’o ke rumah pemakaman kerajaan Hale o Kewe di Honaunau di pantai barat Hawaii. Tidak jelas tujuan Kīwalaʻō, apakah benar-benar untuk mensucikan jenazah ayahnya atau untuk merebut Kona.

Menurut beberapa ahli, Kamehameha dan kepala suku lainnya telah berkumpul di Honaunau untuk menunggu pembagian tanah kembali, yang biasanya terjadi pada saat kematian seorang kepala suku, dan untuk membentuk aliansi dadakan. Ketika tampaknya Kamehameha dan sekutunya tidak menerima bagian yang mereka anggap adil, pertempuran pun meletus.

Pada 1786, Kahekili, raja Maui, telah menjadi ali'i atau kepala suku paling kuat di Hawaii. Dia memerintah O'ahu, Maui, Moloka'i, dan Lana'i, serta mengendalikan Kaua'i dan Ni'ihau melalui perjanjian dengan saudara tirinya Ka'eokulani.

Dua tahun kemudian, Kamehameha dan pasukannya, yang dibantu dua pelaut Britania Barat bernama Isaac Davis dan John Young, menginvasi Maui. Ketika itu, Raja Kahekili sedang berada di O'ahu untuk meredakan pemberontakan yang ada di distrik tersebut.

Menggunakan meriam yang berhasil diselamatkan dari kapal Fair American yang tenggelam, prajurit Kamehameha memaksa pasukan Maui mundur. Pertempuran itu menewaskan begitu banyak orang sampai-sampai mayat mereka membendung sungai.

Tapi kemenangan Kamehameha tidak berlangsung lama. Salah satu musuhnya sekaligus sepupunya sendiri, Keoua, yang merupakan kepala suku Puna dan Ka'u, memanfaatkan ketidakhadiran Kamehameha untuk menjarah dan menghancurkan desa-desa di pantai barat Hawaii. Sekembalinya ke Hawaii, Kamehameha langsung melawan Keoua dalam dua pertempuran sengit.

Kamehameha lalu mundur ke pantai barat, sementara Keoua dan pasukannya bergerak ke selatan pulau tersebut. Keoua kehilangan beberapa pasukannya karena uap vulkanik.

Perang antara Kamehameha dan sepupunya ini berakhir pada 1790. Ia dianggap sebagai kampanye militer Hawaii terakhir yang menggunakan senjata tradisional.

Dalam pertempuran selanjutnya, Kamehameha mengadopsi teknologi Barat, faktor yang kemungkinan besar berkontribusi pada banyak kesuksesannya.

Keberadaan Kamehameha di Teluk Kealakekua selama 1790-an membuat banyak kapal asing yang singgah di sana. Dengan begitu, Kamehameha bisa mengumpulkan sejumlah besar senjata api untuk digunakan dalam pertempuran-pertempuran selanjutnya melawan pemimpin lain.

Meski begitu, setelah satu dekade bertempur, nyatanya Kamehameha belum juga menaklukkan semua musuhnya. Karena itulah, dia menuruti nasihat seorang ahli nujum di Kaua’i untuk mendirikan heiau (kuil kuno masyarakat Hawaii) baru yang besar di Pu'ukohola di Kawaihae untuk pemujaan dan pengorbanan kepada dewa perang, Ku.

Dengan begitu, Kamehameha berharap mendapatkan kekuatan spiritual yang memungkinkannya menaklukkan Hawaii. Menurut beberapa sumber, Keoua sempat diundang ke Pu'ukohola untuk menegosiasikan perdamaian, tetapi malah dibunuh dan dikorbankan di altar kuil tersebut.

Dengan tewasnya Keoua, Kamehameha resmi menjadi penguasa seluruh Hawaii.

Menginspirasi Dragon Ball

Manga Dragon Ball, itulah yang pertama terlintas di pikiran kita terkait kamehameha. Mengutip Honolulu Magazine, kamehameha adalah simbol kekuatan, kekuasaan, dan kemuliaan. Ia adalah “Deskripsi yang tepat untuk pria yang menyatukan kepulauan Hawaii dan menjadi raja pertamanya,” tulis situs tersebut.

Kamehameha juga adalah cara yang tepat untuk menggambarkan serangan khas Son Goku, protagonis utama anime Dragon Ball.

Kamehameha adalah pancaran energi yang diproyeksikan Goku dari telapak tangannya yang dia pelajari dari ahli beladiri tua bernama Kakek Kura-kura. Dalam bahasa Jepang, kura-kura adalah “kame” dan gelombang adalah “ha”.

Awalnya Akira Toriyama, mangaka Jepang pencipta Dragon Ball, kesulitan memberi nama serangan khas Goku itu. Dia kemudian berbicara dengan istrinya yang menyarankannya menamai serangan itu dengan nama Raja Hawaii, Kamehameha.

Istri Toriyama percaya bahwa nama itu mudah diingat … dan sisanya adalah sejarah masa kecil kita.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.