TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ngamuk ke Camat Coblong saat sidang pedagang kaki lima (PKL). KDM bahkan sampai membentak camat tersebut.
Dedi Mulyadi mendadak turun ketika melintas Jalan Suci, Kecamatan, Coblong, Kota Bandung.
Dia menertibkan PKL yang mengambil fungsi fasilitas publik.
Mulai dari lapak buah dari mobil yang parkir di badan jalan.
Sampai warung-warung yang memasang terpal dan kayu di pendestrian.
Tak sebatas menertibkan, KDM memberi uang kompensasi sebesar Rp 2 juta pada setiap pedagang yang lapaknya dibongkar.
Walau begitu ia tetap merasa emosi.
KDM meluapkan kemarahannya pada aparatur wilayah tingkat kecamatan yang dinilai sebagai penanggungjawab wilayah.
Camat Coblong, Ratna Rahayu Priyati menjadi sasarannnya.
Dedi menilai kerja Ratna tidak becus sampai membuat malu Gubernur Jawa Barat.
"Bu camat ini gimana ibu. Kok daerah sampai begini kok ibu biarin ?" kata KDM dengan nada tinggi.
Ratna beralan ia sudah berulangkali memberi teguran pada para pedagang.
Baca juga: Penampakan Parkir Liar Depan Kantor Gubernur Dedi Mulyadi di Kota Bogor, Sampai Tutup Jalur Sepeda
Dedi menegaskan bahwa mestinya Ratna melakukan tindakan tegas terhadap pelanggaran.
Sebab kondisi di wilayah tersebut sudah sangat kumuh.
Pedagang buah berdagang menggunakan bangkai mobil pikap.
Lalu penjual minuman menalikan terpal ke pohon.
Baca juga: Satpam Bohong ke Istri Sebelum Tewas Terborgol di Jatiluhur, Dedi Mulyadi Curiga : Selingkuh
"Ini mobil udah satu bulan parkir di situ. Kalau ibu gak berani eksekusi jangan jadi camat. Kan setiap orang ada fungsinya. Camat berfungsi, kelurahan berfungsi. Kalau camat dan lurah berfungsi, gubernur gak usah ngurusin begini, bukan tugas gubernur ini. Tapi karena saya ngantor di sini, malu saya. Ibu kota Provinsi Jawa Barat ini," katanya.
Dedi Mulyadi menegaskan camat seharusnya tidak selalu bekerja di ruang kerja.
Ia juga harus rutin keliling daerah sebagai kepanjangtanganan pemerintah pusat.
"Ngapain di kantor terus ? Camat tuh keluar, dibawa semua pegawai. Ini sudah puluhan tahun, parkir liar dimana-mana. Malu bu, ini Kota Bandung," katanya.
Selain gaji, camat pun mendapat tunjangan kinerja.
"Ibu dapat tunjangan kinerja di sini, kinerjanya lihatin," katanya.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa penertiban seperti yang dilakukannya, merupakan tugas lurah dan camat.
"Masa gubernur terus. Kan orang (bilang), Dedi Mulyadi over lap ngambil pekerjaan bawahannya. Ibu bukan bawahan saya, bawahan pak walikota. Bantu pak walikotanya," katanya.
Ratna Rahayu Priyati memiliki gelar Sarjana Sains Terapan Pemerintah atau S.Stp.
Ia uga memiliki tittle Magister Sains atau M.Si.
Informasi dihimpun Ratna merupakan jebolan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) anglatan 2005.
Ratna mulai berkarier sebagai Sekretaris Lurah di Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung.
Ia kemudian menjadi Lurah Sadang Serang, Kecamatan Coblong.
Lalu Ratna menjabat Kepala Bidang Produk Budaya dan Kesenian pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor.
Sampai kini dia menjadi Camat Coblong yang baru saja dilantik Juli 2026.
https://whatsapp.com/channel/0029VaGzALAEAKWCW0r6wK2t