BANGKAPOS.COM, BANGKA - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bangka, Erwin Ismatudin, akhirnya angkat bicara terkait aksi kedatangan sejumlah warga ke Kantor Bupati Bangka.
Aksi tersebut dipicu oleh penolakan warga terhadap aktivitas penambangan timah di kawasan wisata Pantai Penyusuk, Desa Romodong Indah, Kecamatan Belinyu.
Tanggapan tegas dan solutif tersebut disampaikan Erwin saat memimpin audiensi di Ruang Sekretaris Daerah (Sekda) Bangka, Selasa (4/8/2026).
Dalam ini turut dihadiri oleh jajaran pihak terkait, perwakilan PT Timah Tbk, serta warga dan perwakilan ibu-ibu yang melayangkan protes.
Erwin meminta kepada pihak PT Timah untuk segera merespons dan mengakomodasi, aspirasi serta keresahan yang disampaikan oleh masyarakat setempat.
"Pak Joni (perwakilan PT Timah) nanti akomodir ya apa yang menjadi keluhan masyarakat. Ibu-ibu nanti koordinasi ya, jangan langsung kesini (Kantor Bupati) lagi, dan kalau tidak mau ketemu tidak jodoh," ujar Erwin.
Pihaknya berharap komunikasi dua arah antara warga dan pihak perusahaan dapat terus berjalan lancar tanpa harus berujung pada aksi unjuk rasa di kemudian hari.
Pastikan Masalah Selesai Tanpa Konflik
Erwin menegaskan, hasil dari mediasi ini telah mencapai titik terang (clear). Ia meminta agar seluruh pihak, khususnya warga Desa Romodong Indah dan PT Timah, dapat menjaga situasi tetap kondusif demi menghindari potensi gesekan sosial di tengah masyarakat.
"Sudah clear ya ibu-ibu, nanti tinggal koordinasi saja terkait apa yang menjadi keluhan masyarakat, supaya tambang timah ini tidak menjadi persoalan di masyarakat," pungkasnya.
Dengan tercapainya kesepakatan dalam audiensi ini, polemik aktivitas tambang di kawasan Pantai Penyusuk diharapkan dapat diselesaikan melalui jalur koordinasi yang baik.
Sehingga keindahan dan kelestarian destinasi wisata, tetap terjaga sekaligus keamanan sosial masyarakat terakomodasi.
Dimana sebelumnya, sejumlah warga melayangkan protes keras terhadap aktivitas penambangan timah yang berlokasi di dekat zona kawasan wisata, khususnya di kawasan Pantai Penyusuk, Desa Romodong Indah, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka.
Warga mendatangi Kantor Bupati Bangka, Selasa (4/8/2026) untuk melakukan audiensi guna menyampaikan pendapat terkait persoalan yang terjadi di masyarakat, Selasa (4/8/2026).
Aktivitas tambang yang disebut mulai marak sejak bulan Juni 2026 lalu, dinilai telah menimbulkan banyak dampak negatif, baik dari segi sosial, lingkungan hingga merusak keindahan alam sekitar.
Ketua RT sekaligus Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Pantai Penyusuk, Fitrawati, mengungkapkan bahwa keberadaan sekitar 10 ponton TI atau tower yang beroperasi di dekat bibir pantai sangat meresahkan masyarakat dan pengunjung.
"Memang lah, akses jalan masuk sudah jelek. Jadi, fasilitas di pantai penyusuk itu sangat mengganggu dan terlalu dekat hingga mengganggu pemandangan disekitar pantai," Fitrawati.
Berdasarkan laporan yang diterima, para pengunjung yang mandi di sekitar lokasi aktivitas penambangan mengalami keluhan kesehatan berupa badan gatal-gatal.
Selain masalah kesehatan, dampak ekologis juga dirasakan langsung oleh wisatawan. Warga menyebutkan bahwa karang di kawasan pesisir sejauh kurang lebih tiga meter kini banyak yang mati akibat aktivitas.
"Kalau orang mandi disitu gatal-gatal itu yang kami keluhkan, lalu banyaknya speed-speed yang terparkir di Pantai wisata Penyusuk dan sangat ganggu sekali," terangnya.
Hal senada disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Hutan Kemasyarakatan (HKM) Pena, menyatakan sikap tegas menolak segala bentuk aktivitas pertambangan timah yang berlokasi dekat dengan zona kawasan wisata.
Khususnya, di kawasan Pantai Penyusuk yang memiliki titik koordinat laporan. Menurutnya, aktivitas tambang tersebut berjarak sangat dekat, yaitu sekitar 0,6 mil, sehingga dinilai sangat mengganggu aktivitas pariwisata setempat.
"Karena di bulan Juni itu, ada TI tower yang bekerja di dekat dengan pantai Penyusuk sekitar 10 TI tower dan sangat mengganggu wisata pantai hingga menjadi keluhan para pengunjung," ucapnya.
Apalagi, kata Pena Pantai Penyusuk dikenal sebagai salah satu pantai kebanggaan masyarakat setempat yang harus dijaga kelestariannya dan sangat berdampak kepada masyarakat atau pengunjung.
"Aktivitas tambang timah di sekitar lokasi, membuat pengunjung yang mandi merasa gatal-gatal di badan akibat air yang tercemar. Di Pulau Putri dan kawasan pesisir sekitarnya, karang-karang mati dilaporkan sudah rusak hingga sejauh tiga meter dari bibir pantai," bebernya.
Selanjutnya, jarak tambang yang terlalu dekat dengan kawasan pariwisata dikhawatirkan mematikan potensi wisata bahari dan merusak keasrian lingkungan pesisir.
"Kami sudah melayangkan surat keberatan secara resmi kepada berbagai pihak, mulai dari tingkat Lurah, Camat, komitmen bersama kelompok untuk tetap tegas tidak mengizinkan adanya aktivitas tambang di sekitar kawasan wisata Pantai Penyusuk demi menjaga kelestarian lingkungan hidup dan masa depan pariwisata lokal," tegasnya.
(Bangkapos.com/Adi Saputra).