TRIBUNSUMSEL.COM - Penyanyi sekaligus anak presenter Ramzi, Asila Maisa, melayangkan reaksi keras dan somasi terbuka setelah namanya disangkutpautkan terkait kepemilikan tas branded.
Melalui unggahan Instagram-nya, Asila secara tegas menolak narasi yang mengesankan bahwa barang-barang bermerek (branded) yang dikenakannya bersumber dari jabatan sang ayah, Ramzi.
Adapun Asila meradang dengan tudingan yang menyeret namanya dalam unggahan akun pemantau fashion pejabat, @cabinetcouture_season2.
Baca juga: Geram Asila Maisa Dituduh jadi Selingkuhan Rizky Billar, Ramzi: Sosial Media Itu Tempat Sampah
Di mana bermula ketika akun Instagram tersebut membedah estimasi harga sejumlah koleksi barang mewah yang dikenakan Asila, seperti selendang Burberry Wool/Silk Check Scarf (kisaran Rp5,7 juta–Rp16,2 juta) dan tas Louis Vuitton Monogram Neverfull MM (senilai Rp37,5 juta).
Dalam unggahannya, akun tersebut turut menyertakan identitas sang ayah, Ramzi, yang menjabat sebagai Wakil Bupati Cianjur masa jabatan 2025–2030, lengkap dengan rincian total LHKPN senilai Rp29,7 miliar.
Merasa namanya disudutkan dan digiring ke narasi yang menyesatkan, Asila menegaskan bahwa dirinya bukan bagian dari pejabat negara dan seluruh barang mewah yang dimilikinya dibeli menggunakan hasil keringatnya sendiri.
Bahkan, ia menegaskan bahwa kegemarannya memakai tas branded tersebut sudah terjadi sejak ia masih kecil.
"Teruntuk account @cabinetcouture_season2 @cabinet_restyling17 !!! Salam kenal, saya Asila Maisa, seorang penyanyi dan influencer. Saya bukan bagian dari pejabat negara. Betul, ayah saya seorang Wakil Bupati Cianjur 2025-2030, namun saya adalah seorang penyanyi dan influencer yang berpenghasilan sendiri.
Sejak 2022 semua barang-barang branded saya, saya BELI SENDIRI dari penghasilan saya," tulis Asila dalam klarifikasinya, dikutip Tribunsumsel.com pada Selasa (4/8/2026).
Anak dari pasangan Ramzi dan Avi Basalamah ini juga menjelaskan bahwa ayahnya merupakan aktor dan pembawa acara sukses sejak tahun 2000-an yang secara finansial mampu membelikannya barang mewah sejak kecil.
"Ayah saya adalah seorang aktor dan host sedari tahun 2000-an sampai sekarang. Masyaallah beliau mampu untuk membelikan saya barang-barang mewah."
Baca juga: Profil Achmad Dimyati, Wagub Banten Pasang Badan Usai Anak Dituding Gunakan APBN Nonton K-Pop
Namun, Asila memilih mandiri dan membiayai gaya hidupnya sendiri sejak aktif bekerja di dunia hiburan pada 2022.
Asila juga menyoroti deskripsi di profil akun tersebut yang berbunyi "from rakyat taxes to runway pieces, from forests cut down to handbags shown off".
Menurutnya, narasi tersebut sangat tidak relevan jika disematkan kepadanya.
"Berdasarkan tulisan kalian saja, saya sudah tidak layak untuk masuk account kalian. Saya kerja sendiri, berpenghasilan sendiri, dari 2022 - sampai sekarang, saya sudah beli semua sendiri.
Postingan kalian ini jadi lahan dan bahan fitnah untuk orang menilai saya, dan hampir semua penilaian tersebut adalah fitnah," tegas Asila.
Merasa dirugikan, Asila melayangkan somasi hukum dan memberikan batas waktu 1x24 jam kepada pengelola akun untuk menghapus konten terkait dirinya serta menghentikan penggunaan foto pribadinya tanpa izin.
"Saya kasih waktu 1x24 jam. Hapus postingan terkait saya dan saya tidak mengizinkan kalian menggunakan foto saya untuk profile pic kalian ataupun yang lainnya," tegasnya.
Jika permintaan itu tidak dipenuhi, Asila menyatakan akan membawa persoalan tersebut ke jalur hukum.
"Jika tidak, tentu akan saya laporkan kepada pihak yang berwajib," ancamnya.
Melalui unggahan klarifikasinya, Asila menjelaskan bahwa pernyataan tersebut dibuat untuk meluruskan isu yang berkembang mengenai asal-usul barang mewah yang dikenakannya.
Ia menegaskan tudingan yang mengaitkan barang-barang tersebut dengan jabatan Ramzi sebagai Wakil Bupati Cianjur tidak benar.
"Tulisan ini saya tulis untuk memberi penerangan ketika isu yang beredar adalah 'Asila Maisa memakai barang mewah dari hasil posisi jabatan Ramzi dalam pemerintahan'," ujarnya.
Ia menutup pernyataannya dengan meminta netizen agar tidak mudah menggiring opini dengan istilah seperti "sombong", "tone deaf", atau "tidak empati", karena penilaian tersebut tidak berdasar pada kenyataan.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com