Karier Penakluk Axelsen dan Momota Langsung Tamat, Jagat Bulu Tangkis Malaysia juga Pernah Tersandung Match Fixing
Nestri Y August 04, 2026 11:33 PM

INSTAGRAM/@Z_ZULFADLI
Mantan tunggal putra Malaysia, Zulfadli Zulkiffli, yang pernah bersinar di level jujior pernah terlibat kasus match fixing.

BOLASPORT.COM - Proses investigasi BWF terhadap sejumlah pebulu tangkis Indonesia yang diduga terlibat kasus match fixing (pengaturan skor) turut mengingatkan kembali skandal yang juga pernah menimpa Malaysia.

Jagat bulu tangkis Malaysia pernah ditampar kasus serupa yang merobek martabat dan integritas olahraga mereka.

Bahkan parahnya, kasus match fixing pebulu tangkis Malaysia waktu itu melibatkan sosok yang digadang-gadang bakal jadi bintang baru tunggal putra mereka.

Delapan tahun silam, dua pebulu tangkis Negeri Jiran dijatuhi hukuman larangan bertanding oleh BWF per 12 Januari 2018.

Mereka adalah Zulfadli Zulkifli dan Tang Chun Sean yang saat itu masing-masing berusia 25 dan 31 tahun.

Tang Chun Sean, namanya memang kurang dikenal pada saat itu. Ia fokus bermain di sektor tunggal putra.

Tang dihukum larangan bertanding serta terlibat dalam aktivitas selama 15 tahun plus denda sebesar 15.000 dolar AS.

Adapun skors Zulkiffli berlangsung selama 20 tahun ditambah denda 25.000 dolar AS. Itu artinya akhir bagi karier Zulkiffli yang notabene bukan pemain sembarangan.

Zulkiffli merupakan Juara Dunia Junior 2011, Juara Asia Junior 2011, dan peraih medali emas Commonwealth Games 2011.

Tak tanggung-tanggung, dalam perjalanan menjadi Juara Dunia Junior, dia mengalahkan Kento Momota di semifinal dan Viktor Axelsen di final.

Axelsen dan Momota kemudian pernah menjadi pemain nomor satu dunia sebelum sama-sama pensiun pada tahun lalu.

Zulkiffli akhirnya dihukum larangan bertanding selama 20 tahun dengan denda 25.000 dolar AS (Rp 450 juta).

Hal yang membuat miris, keterlibatan mereka dalam skandal pengaturan skor ini sudah terjadi sejak 2013.

Bagi Zulkiffli, tentu tahun tersebut merupakan periode yang sangat disayangkan karena saat itu usianya baru menginjak 20 tahun.

Baru dua tahun semenjak naik kelas ke level senior, ia justru menempuh jalan yang tidak bijaksana untuk karier bulu tangkisnya yang potensial.

Zukiffli terbukti melakukan pengaturan skor di mana BWF menyebutkan bahwa ia memanipulasi hasil empat pertandingan, melakukan total 31 pelanggaran terhadap kode etik olahraga sepanjang 2013-2016.

Awal mula terungkapnya kasus match fixing tersebut berasal dari laporan sesama pemain yang menjadi whistleblower.

Zulkiffli sendiri yang melobi salah seorang pemain di turnamen di Brazilian Grand Prix 2016 dengan iming-iming uang.

Dia juga terbukti melakukan judi pada turnamen Korea Grand Prix 3013, Macau Grand Prix 2013, London Grand Prix 2013, dan Dutch Grand Prix 2013.

Di Korea Grand Prix 2013, BWF menilai Zukiffli tidak mengeluarkan usaha terbaik dan sengaja mengalah saat bermain melawan wakil tuan rumah, Han Ki-hoon.

Bukti-bukti yang didapatkan BWF saat itu meliputi bukti dari aktivitas rekening bank dan telepon seluler miliknya yang diselidiki pada 2017.

Zulkiffli pernah mencoba mengajukan banding atas putusan tersebut tetapi kemudian ditolak pada April 2018.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.