Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan pemerintah tidak lagi hanya mengandalkan pembangunan Base Transceiver Station (BTS) untuk pemerataan akses internet, tetapi menyesuaikannya dengan kondisi geografis, jumlah penduduk, dan kebutuhan masing-masing wilayah.

Melalui pendekatan tersebut, pemerintah akan memadukan pembangunan BTS, jaringan fiber optik, satelit, dan teknologi telekomunikasi lainnya agar layanan internet dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, termasuk di daerah dengan medan yang sulit.

"Kita coba petakan mana yang prioritas. Yang mungkin tidak bisa ditembus dengan BTS, mungkin lewat satelit atau moda jaringan telekomunikasi yang lain," kata Nezar saat menerima audiensi Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Timur di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Jakarta, Selasa.

Menurut Nezar, pendekatan tersebut diperlukan karena setiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda sehingga pemilihan teknologi harus disesuaikan dengan kondisi lapangan agar pembangunan konektivitas lebih efektif dan mampu menjangkau wilayah yang selama ini sulit memperoleh akses internet.

Ia mengatakan Kalimantan Timur menjadi salah satu provinsi dengan tingkat konektivitas yang tinggi.

"Provinsi Kalimantan Timur salah satu yang terbaik dalam soal konektivitas, 95,5 persen. Dari 841 desa itu yang sudah terkover 803," ujarnya.

Meski demikian, Nezar mengatakan pemerintah masih mencatat terdapat 269 titik blankspot yang perlu diprioritaskan penanganannya melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BAKTI, dan operator telekomunikasi.

Menurut dia, keterbatasan anggaran tidak boleh menghambat pemerataan akses digital sehingga kolaborasi menjadi kunci untuk mempercepat pembangunan konektivitas di wilayah yang masih mengalami blankspot maupun sinyal lemah.

"Dengan sinergi yang kita lakukan, kita bisa saling menguatkan dan mewujudkan beberapa titik yang memang dibutuhkan oleh masyarakat," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Timur Ririn Sari Dewi mengatakan pemerintah provinsi menerapkan pendekatan yang memadukan berbagai teknologi, mulai dari fiber optik, VSAT, hingga satelit, sesuai dengan kondisi wilayah agar penyediaan layanan internet lebih efektif.

"Kami memilih beberapa paduan teknologi yang paling sesuai sehingga efektif pada saat kita deliver layanan akses internet di desa," ujarnya.

Ririn menambahkan percepatan pemerataan konektivitas membutuhkan dukungan berkelanjutan dari pemerintah pusat, termasuk melalui sinkronisasi data, penguatan kebijakan, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

"Kuncinya sekarang dalam kondisi tersebut kita kolaborasi. Jadi kami mohon dukungan penuh. Komitmen kami juga membersamai program-program, salah satunya internet," kata Ririn.