Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sedikitnya 23 titik banjir tersebar di sembilan kecamatan, di mana 40 unit sekolah turut terendam.
Saat ini, Pemerintah Kota Padang tengah mengebut pembersihan fasilitas pendidikan, khususnya pada dua SMP yang terdampak paling parah, guna memastikan kesiapan sekolah sebelum aktivitas belajar siswa kembali dimulai.
Baca juga: Warga Bantaran Sungai Padang Diminta Tingkatkan Kewaspadaan, BMKG Prediksi Hujan Masih Berlanjut
Baca selengkapnya:
1. Perempuan Tertabrak Kereta Api di Depan Bundaran UNP Padang, Saksi Sebut Korban Mundur ke Rel
Seorang pejalan kaki meninggal dunia setelah tertabrak Kereta Api Pariaman Ekspres B5 di jalur rel KM 12/700, tepatnya di depan Bundaran Universitas Negeri Padang (UNP), Kelurahan Air Tawar Timur, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Selasa (4/8/2026).
Korban diketahui berinisial DF (46) warga Kelurahan Tanah Sirah Nan XX, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang.
Kapolsek Padang Utara, AKP Yuliadi, membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, kecelakaan terjadi ketika kereta api melaju dari arah Pariaman menuju Simpang Haru.
"Benar, telah terjadi kecelakaan yang melibatkan kereta api dengan seorang pejalan kaki di kawasan depan Bundaran UNP. Korban meninggal dunia akibat insiden tersebut," ujar Yuliadi.
Baca juga: Banjir Lapau Munggu Ubah Aliran Sungai, Pemprov Sumbar Kerahkan Alat Berat Percepat Penanganan
Menurut Yuliadi, berdasarkan keterangan saksi di lokasi kepada pihak kepolisian, korban awalnya berdiri di pinggir jalur rel saat kereta api mulai mendekat.
Namun, ketika rangkaian kereta melintas, korban justru melangkah mundur ke arah lintasan.
Saksi yang melihat kondisi tersebut langsung berteriak memperingatkan korban. Akan tetapi, peringatan itu diduga tidak didengar sehingga korban tertabrak pada bagian kepala.
"Saksi sudah berupaya memperingatkan korban, namun diduga korban tidak mendengarnya sehingga kecelakaan tidak dapat dihindari," kata Yuliadi.
Setelah menerima laporan, personel Polsek Padang Utara bersama petugas piket langsung mendatangi lokasi kejadian.
Korban kemudian dievakuasi menggunakan ambulans Batalyon 133 menuju Rumah Sakit Hermina Padang.
Namun, setelah dilakukan pemeriksaan oleh tim medis, korban dinyatakan telah meninggal dunia.
Petugas kepolisian selanjutnya melakukan identifikasi korban serta berupaya menghubungi pihak keluarga.
Sekitar pukul 15.00 WIB, polisi berhasil menghubungi keluarga korban di kawasan Piai, Kecamatan Lubuk Begalung.
Tak lama berselang, pihak keluarga tiba di Rumah Sakit Hermina dan membawa pulang jenazah untuk dimakamkan.
Menurut Yuliadi, keluarga menyampaikan bahwa dalam beberapa hari terakhir korban sering mengeluhkan pusing.
"Informasi dari pihak keluarga, korban beberapa hari terakhir memang sering mengeluhkan pusing. Meski demikian, penyebab pasti kejadian masih dalam penanganan dan pendalaman petugas," ujar Yuliadi.
Baca juga: Perempuan Tertabrak Kereta Api di Depan Bundaran UNP Padang, Saksi Sebut Korban Mundur ke Rel
Usai kejadian, polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), meminta keterangan sejumlah saksi, serta mendokumentasikan lokasi sebagai bagian dari penyelidikan.
Yuliadi mengimbau masyarakat agar lebih waspada saat berada di sekitar jalur kereta api dan selalu menjaga jarak aman ketika kereta akan melintas demi menghindari kecelakaan serupa. (*)
2. BPBD Padang Catat 23 Titik Banjir di 9 Kecamatan, Paling Terdampak Wilayah Koto Tangah
Banjir yang melanda Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), akibat hujan deras sejak Senin (3/8/2026), masih berdampak di berbagai wilayah.
Hingga Selasa (4/8/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang mencatat sedikitnya 23 titik banjir yang tersebar di sembilan kecamatan.
Data tersebut masih bersifat sementara karena petugas BPBD terus melakukan pendataan di lapangan.
Selain memetakan wilayah terdampak, tim juga menghitung kerugian materi yang dialami masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulvinto, mengatakan kawasan yang paling banyak terdampak berada di Kecamatan Koto Tangah dan Nanggalo.
"Ini data sementara yang kami himpun hingga sore ini. Pendataan masih terus berlangsung," ujar Hendri, Selasa (4/8/2026).
Baca juga: Pemko Padang Rampungkan Data Korban Banjir Padang Hari Ini, BLT Segera Cair Ke Warga Terdampak
Berdasarkan data BPBD, Kecamatan Koto Tangah menjadi wilayah dengan jumlah titik banjir terbanyak.
Genangan terjadi di Kelurahan Lubuk Minturun, Aia Pacah, Dadok Tunggul Hitam, Koto Panjang Ikua Koto, dan Bungo Pasang.
Sementara itu, di Kecamatan Nanggalo banjir merendam enam kelurahan, yakni Tabing Banda Gadang, Kampung Lapai, Kurao Pagang, Surau Gadang, Gurun Laweh, serta Kampung Olo.
Di Kecamatan Kuranji, banjir tercatat terjadi di empat kelurahan, yaitu Kuranji, Gunung Sarik, Sungai Sapiah, dan Rimbo Tarok.
Wilayah lainnya yang turut terdampak yakni Kelurahan Pengambiran Ampalu di Kecamatan Lubuk Begalung, Kelurahan Rawang dan Mata Air di Kecamatan Padang Selatan, Kelurahan Pisang di Kecamatan Pauh, Kelurahan Bungus Barat di Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kelurahan Gunung Pangilun dan Alai Timur di Kecamatan Padang Utara, serta Kelurahan Padang Pasir di Kecamatan Padang Barat.
Baca juga: Banjir di Padang Dipicu Luapan Air Hulu, Pemko Minta Percepat Perbaikan Sungai dan Tanggul
Hendri menjelaskan banjir dipicu meluapnya sejumlah batang sungai setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Kota Padang selama beberapa jam.
Menurutnya, wilayah di sepanjang bantaran sungai menjadi kawasan yang paling terdampak, terutama di sekitar aliran Batang Kuranji dan sungai yang melintasi kawasan Lubuk Minturun.
"Ini dampak meluapnya Batang Kuranji dan aliran sungai di Lubuk Minturun. Wilayah di sepanjang bantaran sungai yang paling terdampak karena hujan deras kemarin," katanya.
Meski tinggi genangan di sejumlah lokasi cukup signifikan, Hendri menyebut banjir kali ini tidak membawa endapan lumpur seperti yang pernah terjadi pada banjir sebelumnya.
"Kalau sekarang banjirnya hanya air, tidak seperti sebelumnya yang disertai lumpur," ujarnya.
Baca juga: Mayoritas Pengungsi Banjir Padang Pulang, Pemko Siap Salurkan Bantuan Tunai
BPBD Kota Padang memastikan hingga Selasa sore belum menerima laporan adanya korban jiwa akibat bencana tersebut.
Di sisi lain, pendataan kerugian materi masih dilakukan karena sejumlah wilayah baru bisa dijangkau setelah kondisi air mulai berangsur surut.
"Korban jiwa tidak ada laporan. Untuk kerugian materi masih kami hitung. Bantuan darurat berupa makanan siap saji dan selimut sudah kami salurkan sejak tadi malam," kata Hendri.
BPBD mengimbau masyarakat yang bermukim di daerah bantaran sungai dan kawasan rawan banjir agar tetap meningkatkan kewaspadaan, mengingat potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan. (*)
3. Wako Fadly Amran: 40 Sekolah di Padang Terdampak Banjir, Aktivitas Belajar Terpaksa Diliburkan
Sebanyak 40 sekolah di wilayah Kota Padang, Sumatera Barat, dilaporkan terkena dampak banjir parah akibat luapan air sungai yang dipicu cuaca ekstrem.
Kepastian jumlah fasilitas pendidikan yang terdampak bencana tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Padang, Fadly Amran, saat meninjau lokasi sekolah di SMPN 41 Padang, Selasa (4/8/2026).
Puluhan bangunan sekolah tersebut tergenang air hingga mengalami kerusakan fisik akibat tingginya endapan lumpur dan material banjir.
Dari puluhan tempat pendidikan yang diterjang banjir, bangunan SMPN 41 Padang tercatat sebagai lokasi dengan kerusakan terparah.
Fadly Amran menjelaskan bahwa posisi area sekolah yang berada tepat di tepi aliran sungai menjadi pemicu utama parahnya dampak yang ditimbulkan.
"Sekolah yang terdampak banjir saat ini ada sekitar 40 sekolah. Yang terdampak cukup parah itu SMPN 41 Padang yang kita kunjungi hari ini," ujar Fadly di lokasi peninjauan.
Baca juga: Ombudsman Sumbar Soroti Pendanaan Pendidikan Komite Sekolah, Rawan Pungli dan Korupsi
Akibat terendam air dan tertimbun sedimen banjir dalam jumlah besar, seluruh aktivitas Proses Belajar Mengajar (PBM) di 40 sekolah tersebut terpaksa dihentikan sementara.
Pemerintah Kota Padang mengambil langkah cepat meliburkan para siswa demi keselamatan serta kelancaran proses pembersihan fasilitas sekolah.
Fadly Amran menegaskan, pihak pemkot tengah mengupayakan percepatan pemulihan agar bangunan sekolah bisa kembali digunakan secara aman.
"Aktivitas sekolah yang terdampak, PBM-nya sudah diliburkan untuk penanganan ini. Kita usahakan dipercepat pembersihannya sehingga anak-anak bisa segera kembali belajar," tegas Fadly.
Baca juga: Aktivitas Belajar Lumpuh Usai Banjir, SMPN 41 Padang Butuh Air dan Alat Penyedot
Guna mengatasi kerusakan puluhan fasilitas pendidikan ini, Pemkot Padang mendorong adanya program rehabilitasi fisik yang menyasar gedung-gedung sekolah terdampak.
Perbaikan bangunan sekolah tersebut rencananya akan dipercepat melalui kolaborasi anggaran dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, hingga anggaran kota.
Terkait peta persebaran banjir, luapan air dilaporkan meluas di 15 titik lokasi di Kota Padang.
Aliran air paling parah berasal dari limpahan Sungai Guo Batang Kuranji yang membentang deras hingga menerjang kawasan Dadok Tunggul Hitam.
Meski fokus pemulihan puluhan sekolah sedang berjalan, pemantauan BMKG menunjukkan tren cuaca di Kota Padang diprediksi mulai membaik dan relatif landai hingga akhir minggu.
Guna mengantisipasi dampak lanjutan, Pemkot Padang mengimbau seluruh warga dan komunitas sekolah untuk tetap siaga menghadapi potensi anomali cuaca di wilayah rawan bencana.
Setiap pijakan membutuhkan kecermatan ekstra agar tidak tergelincir di atas hamparan lumpur pekat yang melapisi pelataran hingga lorong-lorong kelas SMP Negeri 41 Padang.
Sisa-sisa air banjir masih menggenang di beberapa titik, memantulkan bayangan bangunan sekolah yang muram.
Tidak ada dering bel masuk kelas atau riuh suara proses belajar mengajar. Pagi itu, pakaian seragam sekolah yang bersahaja berganti dengan baju ala kadarnya yang kini berlepotan tanah cokelat.
Ember, sekop, dan serokan air menjadi pengganti buku dan pena dalam aksi gotong royong darurat pembersihan sekolah.
Baca juga: Update Banjir Dadok Tunggul Hitam: Sejumlah Rumah Masih Terendam, Warga Mulai Bersihkan Lumpur
Bencana itu datang melanda hanya sehari sebelumnya. Senin siang, sekitar pukul 12.30 WIB, banjir bandang secara mendadak menerjang kawasan sekolah.
Tanpa sempat dihadang, air bah yang membawa sedimen lumpur tebal menerobos masuk dan menerjang seluruh ruangan tanpa terkecuali.
"Kedalaman air kali ini mencapai sekitar 40 centimeter, atau setinggi lutut orang dewasa. Seluruh ruangan kena," tutur Kepala SMPN 41 Padang, Amridas, saat ditemui di lokasi sekolah, Selasa (4/8/2026).
Bagi Amridas, bau amis lumpur dan kehancuran fasilitas belajar ini bukanlah pemandangan baru.
Baca juga: Update Banjir Kampung Guo Padang: Kondisi Air Surut, Warga Sempat Tak Bisa Mengungsi
Musibah ini menambah daftar panjang riwayat bencana yang harus ia hadapi selama memimpin sekolah tersebut.
Sejak ia dilantik dan menjabat di SMPN 41 Padang, ini merupakan kejadian banjir bandang ketiga yang melanda.
Peristiwa serupa sebelumnya pernah menerjang pada April 2024, dilanjutkan kembali pada November 2025, hingga akhirnya berulang pada Agustus 2026.
Dampak dari hempasan air bah tersebut memaksa aktivitas belajar mengajar (PBM) dihentikan total.
Pihak sekolah mengambil keputusan untuk meliburkan kegiatan tatap muka hingga kondisi lingkungan sekolah dinilai aman dan layak kembali.
Meski demikian, tidak semua siswa berdiam diri di rumah. Para murid yang tempat tinggalnya selamat dari dampak banjir dipanggil nuraninya untuk datang ke sekolah. Mereka bahu-membahu bersama para guru membersihkan sisa-sisa material banjir.
Mengenai kepastian kapan kegiatan belajar mengajar dapat dimulai kembali, Amridas mengaku belum bisa memberikan tanggal pasti.
Keberlanjutan PBM sepenuhnya bergantung pada kecepatan pemulihan fisik sekolah pascabencana.
"Tergantung situasi, belum bisa dipastikan kapan PBM dimulai. Jika penanganan cepat selesai, tentu proses belajar mengajar juga bisa cepat kita mulai kembali," jelas Amridas.
Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Sumbar Selasa 4 Agustus 2026: Waspada Hujan Lebat di Solok Selatan
Namun, upaya pembersihan masif tersebut tidak berjalan mulus karena terbentur kendala krusial. Pasokan air bersih di lingkungan sekolah saat ini padam total, membuat proses pembilasan sedimen lumpur yang menempel keras di dinding dan lantai menjadi sangat sulit.
Di tengah keterbatasan air, pihak sekolah mencatat sejumlah kebutuhan yang sangat mendesak. Keberadaan alat penyedot lumpur menjadi prioritas utama agar pembersihan kelas tidak memakan waktu berminggu-minggu.
Selain pengerjaan fisik bangunan, pembenahan sarana belajar juga mendesak untuk dilakukan. Banyak bangku dan meja belajar murid yang mengalami kerusakan berat akibat rendaman air dan beban tebal lumpur.
Di balik duka akibat kerusakan material tersebut, Amridas bersyukur tidak ada korban jiwa dalam musibah ini.
Keputusan cepat yang diambil jajaran pendidik beberapa menit sebelum musibah menjadi penyelamat puluhan nyawa anak didik.
Kemarin, melihat debit dan arus sungai di dekat sekolah yang melonjak drastis, pihak sekolah segera memulangkan para siswa.
Hanya selang 20 menit setelah para murid melangkahkan kaki keluar gerbang, banjir bandang dahsyat langsung menghantam area sekolah.
Tanggung jawab para guru pun tidak berhenti saat murid dipulangkan. Para pendidik bertahan di sekolah hingga pukul 21.00 WIB untuk berkoordinasi dan memastikan seluruh siswa telah sampai di rumah masing-masing dengan selamat.
Menatap masa depan sekolah, Amridas berharap penanganan bencana ini tidak lagi sekadar pemadam kebakaran pasca-kejadian. Ia mendorong adanya langkah konkret dari pihak berwenang untuk merestrukturisasi bangunan sekolah.
Ia meminta agar bangunan sekolah ditinggikan dan ditata ulang secara terencana, bukan sekadar "sekolah tumbuh" yang terus rentan dihantam banjir berulang.
Selain penataan bangunan, infrastruktur penyelamat lingkungan juga menjadi harga mati.
Pembangunan batu bronjong di sepanjang aliran sungai dekat sekolah sangat diperlukan agar debit air tetap mengalir normal dan tidak lagi meluap merusak tempat anak-anak menimba ilmu.(*)
4. Banjir Padang, Dua SMP Terparah Dibersihkan Usai Terendam, Pemko Pastikan Belajar Mulai Besok
Pemerintah Kota Padang memastikan kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah yang terdampak banjir akan kembali berjalan normal mulai Rabu (5/8/2026).
Hal ini seiring surutnya banjir di Padang. Sementara fokus penanganan kini diarahkan pada pemulihan fasilitas umum, termasuk sekolah.
Hal itu disampaikan Wali Kota Padang Fadly Amran saat mengunjungi warga terdampak banjir di RT 02/RW 06, Kelurahan Lapau Munggu, Kecamatan Kuranji, Selasa (4/8/2026).
Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) dan meninjau langsung rumah-rumah warga yang terdampak.
Fadly mengatakan, secara umum banjir di Kota Padang telah surut sejak Senin malam.
Baca juga: Banjir Padang Rendam 15 Titik, Kecamatan Kuranji Jadi Wilayah Terdampak Paling Berat
Mayoritas warga yang sebelumnya mengungsi juga sudah kembali ke rumah masing-masing.
"Hari ini camat-camat sudah memiliki data banjir. Memang masih ada beberapa titik pengungsian, tetapi mayoritas masyarakat sudah kembali ke rumah masing-masing," ujarnya.
Menurut Fadly, pemerintah kini mempercepat proses pemulihan dengan mengerahkan personel untuk membersihkan rumah warga, fasilitas umum, hingga sekolah.
Selain itu, bantuan logistik dan bantuan langsung tunai juga tengah disiapkan bagi warga terdampak.
"Kita perintahkan membantu pembersihan rumah warga. Bantuan berupa makanan, minuman, selimut, pakaian hingga bantuan langsung tunai juga akan segera disalurkan agar dapat meringankan beban masyarakat," katanya.
Baca juga: Sekda Medison Lepas Utusan Dharmasraya ke MTQ KORPRI Nasional 2026, Targetkan Juara di Sulsel
Di sektor pendidikan, Fadly mengungkapkan terdapat dua sekolah yang mengalami dampak paling parah akibat banjir, yakni SMP Negeri 41 Padang dan SMP Negeri 27 Padang.
"Ada dua sekolah yang terdampak cukup parah, yaitu SMP 41 dan SMP 27. Keduanya membutuhkan bantuan pembersihan," ujarnya.
Sementara itu, sebanyak 41 sekolah lainnya juga sempat tergenang air. Namun, genangan di sekolah-sekolah tersebut tidak terlalu parah sehingga proses pembersihan dilakukan secara gotong royong oleh guru dan kepala sekolah.
"Kalau sekolah lainnya, hari ini guru-guru dan kepala sekolah di 41 sekolah sedang membersihkan lingkungan sekolah. Kondisinya hampir sama seperti rumah-rumah warga yang sempat tergenang," katanya.
Fadly memastikan seluruh upaya tersebut dilakukan agar kegiatan belajar mengajar tidak terganggu.
Baca juga: Pemko Padang Rampungkan Data Korban Banjir Padang Hari Ini, BLT Segera Cair Ke Warga Terdampak
"Besok anak-anak sudah bisa bersekolah," tegasnya.
Sebelumnya, banjir melanda sekitar 15 titik di Kota Padang.
Kecamatan Kuranji, Koto Tangah, dan Nanggalo menjadi wilayah yang mengalami dampak paling berat.
Meski demikian, pemerintah memastikan tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut dan terus mempercepat proses pemulihan agar aktivitas masyarakat, termasuk di sekolah, dapat kembali normal.
Pemerintah Kota (Pemko) Padang menargetkan pendataan kerusakan akibat banjir rampung pada Selasa (4/8/2026).
Data tersebut akan menjadi dasar penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) kepada warga yang terdampak.
Wali Kota Padang Fadly Amran mengatakan dirinya telah menginstruksikan seluruh camat untuk mempercepat finalisasi data, terutama di wilayah yang mengalami dampak paling berat.
"Hari ini saya sudah meminta data selesai. Daerah-daerah yang terdampak berat akan kita bantu dengan bantuan langsung tunai. Penyalurannya harus berdasarkan alamat penerima atau by name by address sehingga tepat sasaran," kata Fadly saat mengunjungi warga RT 02/RW 06, Kelurahan Lapau Munggu, Kecamatan Kuranji, Selasa (4/8/2026).
Menurut Fadly, hingga kini pendataan masih terus dilakukan karena tidak semua rumah mengalami tingkat kerusakan yang sama.
Baca juga: Banjir di Padang Dipicu Luapan Air Hulu, Pemko Minta Percepat Perbaikan Sungai dan Tanggul
Ada rumah yang mengalami kerusakan berat, ada pula yang hanya tergenang air.
"Rumah yang rusak ringan maupun yang hanya sempat kemasukan air masih kita finalisasi hari ini. Yang penting kebutuhan masyarakat di lokasi terdampak tetap terpenuhi," ujarnya.
Selain menyiapkan bantuan tunai, Pemko Padang juga memastikan bantuan logistik terus disalurkan kepada warga.
Makanan, minuman, selimut, pakaian, hingga perlengkapan kebersihan telah didistribusikan ke sejumlah titik terdampak.
Fadly menyebut sebagian besar warga yang sebelumnya mengungsi kini telah kembali ke rumah masing-masing.
Baca juga: Mayoritas Pengungsi Banjir Padang Pulang, Pemko Siap Salurkan Bantuan Tunai
Karena itu, pemerintah menurutnya mulai memfokuskan penanganan pada proses pemulihan lingkungan dan pembersihan rumah warga.
Tim dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga telah diterjunkan untuk membantu membersihkan kawasan yang terdampak banjir. Sementara di lokasi yang mengalami kerusakan cukup berat, alat berat disiapkan untuk mempercepat proses perbaikan.
Berdasarkan pendataan sementara, terdapat sekitar 15 titik banjir di Kota Padang. Kecamatan Kuranji, Koto Tangah, dan Nanggalo menjadi wilayah dengan dampak paling parah.
Meski demikian, Fadly memastikan tidak ada korban jiwa dalam bencana banjir tersebut. Pemerintah juga terus memantau kondisi warga hingga seluruh proses pemulihan selesai.
Baca juga: Trauma Banjir Belum Hilang, Warga Lapau Munggu Kembali Mengungsi Saat Hujan Guyur Kuranji
Wali Kota Padang Fadly Amran mengingatkan masyarakat agar tidak lengah meski banjir di sebagian besar wilayah Kota Padang telah surut.
Menurutnya, curah hujan yang melanda Kota Padang dalam beberapa hari terakhir merupakan anomali dan bahkan lebih tinggi dibandingkan banjir besar yang terjadi pada November lalu.
Hal itu disampaikan Fadly saat meninjau warga terdampak banjir di RT 02/RW 06, Kelurahan Lapau Munggu, Kecamatan Kuranji, Selasa (4/8/2026).
Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi sejumlah kepala OPD dan melihat langsung kondisi rumah-rumah warga yang diterjang banjir.
"Secara umum banjir sudah surut sejak tadi malam. Namun anomali hujan seperti ini perlu kita waspadai. Intensitas hujan kali ini, kalau dihitung per jam, bahkan lebih tinggi dibandingkan banjir November lalu," kata Fadly.
Baca juga: Alat Berat Segera Meluncur Perbaiki Tanggul Jebol Lapau Munggu Padang Cegah Banjir Susulan
Ia menjelaskan, hujan dengan intensitas ekstrem tersebut menjadi peringatan bahwa bencana serupa dapat kembali terjadi sewaktu-waktu.
Karena itu, selain pembangunan infrastruktur pengendali banjir, kesadaran masyarakat juga menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko bencana.
"Siapa sangka di tengah kewaspadaan kita terhadap El Nino, justru terjadi hujan terbesar dalam mungkin lima tahun terakhir. Karena itu awareness masyarakat juga sangat penting menghadapi kondisi yang di luar dugaan seperti ini," ujarnya.
Fadly mengatakan, banjir paling parah di Kota Padang terjadi di Kecamatan Kuranji, Koto Tangah, Nanggalo dan sebagian Lubuk Begalung.
Sementara Kelurahan Dadok Tunggul Hitam menjadi kawasan dengan genangan terdalam.
"Di Dadok tadi malam memang cukup mencekam. Air mencapai sekitar setengah dada orang dewasa. Kawasan itu memang menjadi salah satu prioritas penanganan," katanya.
Baca juga: Daftar Pemain Semen Padang FC yang Dibawa Pemusatan Latihan di Yogyakarta
Meski demikian, ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam bencana banjir kali ini. Mayoritas warga yang sebelumnya mengungsi juga telah kembali ke rumah masing-masing.
"Pemerintah tetap memastikan kebutuhan masyarakat di lokasi pengungsian terpenuhi, mulai dari makanan, minuman hingga bantuan logistik," ujarnya.
Fadly menambahkan, Pemko Padang kini tengah memfinalisasi data kerusakan dan jumlah warga terdampak. Pendataan tersebut menjadi dasar penyaluran bantuan langsung tunai kepada warga yang mengalami kerusakan berat akibat banjir.
Selain itu, pemerintah juga mengerahkan personel untuk membantu membersihkan rumah warga, sekolah, serta fasilitas umum yang terdampak. Di sejumlah lokasi yang mengalami kerusakan berat, alat berat juga disiapkan untuk mempercepat proses penanganan.
"Hari ini saya minta seluruh data sudah selesai. Yang paling penting saat ini masyarakat terdampak tetap mendapatkan pelayanan, bantuan, dan penanganan secepat mungkin," kata Fadly. (*)