Kadal Terbang Endemik Kalimantan Teridentifikasi di Batu Gamping Batu Laki
Ratino Taufik August 05, 2026 11:47 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEEKOR kadal tampak menempel di batang pohon di kawasan Batu Gamping Batu Laki, Kecamatan Padang Batung, Hulu Sungai Selatan (HSS). Sekilas bentuknya tak berbeda dengan kadal pada umumnya. Namun, ketika membuka selaput kulit di kedua sisi tubuhnya lalu meluncur menuju pohon lain, satwa itu memperlihatkan ciri khas yang membedakannya.

Tim Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark (UGGp) kemudian mengidentifikasinya sebagai Draco cornutus, salah satu kadal terbang endemik Pulau Kalimantan.

Temuan tersebut diperoleh dalam kegiatan inventarisasi keanekaragaman hayati di salah satu geosite Geopark Meratus.
Keberadaan Draco cornutus menambah data fauna yang menghuni kawasan Batu Gamping Batu Laki.

Biologist Badan Pengelola Meratus UGGp, Ramadhan Jayusman mengatakan, Draco cornutus memiliki selaput kulit (patagium) di kedua sisi tubuhnya yang berfungsi sebagai alat meluncur dari satu pohon ke pohon lainnya.
Menurutnya, keberadaan satwa ini menjadi salah satu indikator bahwa ekosistem di kawasan Batu Gamping Batu Laki masih berada dalam kondisi yang baik.

“Satwa ini sangat bergantung pada tutupan vegetasi yang terjaga, sehingga keberadaannya menunjukkan bahwa habitat alami di kawasan ini masih mampu mendukung kehidupan berbagai jenis fauna khas Kalimantan,” ujarnya.

Menurut Jayusman, hasil identifikasi tersebut akan melengkapi inventarisasi keanekaragaman hayati Geopark Meratus.
Data itu nantinya dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan program konservasi, penelitian, serta pengembangan edukasi lingkungan.

“Geopark tidak hanya berbicara mengenai warisan geologi, tetapi juga mencakup keanekaragaman hayati dan budaya yang saling berkaitan. Karena itu, setiap temuan seperti ini memiliki nilai penting untuk memperkuat upaya pelestarian sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap kekayaan alam yang dimiliki Kalimantan Selatan,” katanya.

Pengalaman mengamati satwa tersebut secara langsung juga dirasakan anggota tim Bidang Publikasi Badan Pengelola Meratus UGGp, Andre Fredly. Awalnya ia mengira satwa yang menempel di batang pohon itu hanyalah kadal biasa.

“Namun ketika ia membuka selaput di sisi tubuhnya lalu meluncur ke pohon lain, saya benar-benar terkejut. Pengalaman ini memberikan kesan tersendiri sekaligus membuka wawasan saya mengenai kekayaan fauna yang ada di kawasan Geopark Meratus,” ujarnya.

Menurut Andre, pengamatan lapangan tidak hanya menghasilkan data mengenai keanekaragaman hayati. Ia menilai, temuan itu juga memperlihatkan secara langsung hubungan antara satwa dengan habitat alaminya.

Temuan Draco cornutus semakin memperkuat nilai Batu Gamping Batu Laki sebagai kawasan yang tidak hanya memiliki warisan geologi, sejarah, dan budaya, tetapi juga menjadi habitat berbagai flora dan fauna khas Kalimantan.

Inventarisasi yang dilakukan secara berkelanjutan diharapkan dapat memperkaya basis data biodiversitas Geopark Meratus sebagai dasar pengelolaan kawasan di masa mendatang. (AOL)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.