Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan terus meningkat.
Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur menjadi wilayah terbaru yang masuk zona merah setelah mencatat 34 kejadian karhutla.
Dengan masuknya OKU Timur, kini terdapat 10 kabupaten/kota di Sumsel yang berstatus zona merah karhutla.
Kondisi ini menunjukkan potensi kebakaran masih tinggi di tengah musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan, peningkatan jumlah kejadian karhutla di OKU Timur membuat daerah tersebut naik status menjadi zona merah.
"Status zona merah kini bertambah menjadi 10 daerah setelah OKU Timur mencatat 34 kejadian karhutla. Sementara jumlah kejadian terbanyak masih berada di Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ilir (OKI), masing-masing mencapai 102 kejadian," kata Sudirman, Rabu (5/8/2026).
Selain Musi Banyuasin, OKI dan OKU Timur, daerah yang masuk kategori zona merah yakni Ogan Ilir dengan 95 kejadian, Banyuasin 91 kejadian, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) 79 kejadian, Muara Enim 62 kejadian, Kota Palembang 38 kejadian, Musi Rawas Utara (Muratara) 37 kejadian, serta Kabupaten OKU dengan 33 kejadian.
Baca juga: Polres OKU Selatan Larang Warga Buka Lahan dengan Cara Dibakar, Minta Segera Laporkan Titik Api
Sementara itu, dua daerah masih berada dalam kategori zona oranye karena mencatat 15 hingga 30 kejadian karhutla. Kedua daerah tersebut yakni Kota Prabumulih dengan 25 kejadian dan Kabupaten Musi Rawas sebanyak 20 kejadian.
Adapun lima daerah lainnya masih berada di zona kuning karena mencatat kurang dari 15 kejadian karhutla. Rinciannya, Kabupaten Lahat sebanyak 8 kejadian, Empat Lawang 5 kejadian, OKU Selatan 4 kejadian, Kota Lubuklinggau 2 kejadian, dan Kota Pagar Alam 1 kejadian.
Data BPBD Sumsel mencatat hingga awal Agustus 2026 telah terjadi 781 kejadian karhutla di seluruh Sumatera Selatan.
Total luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 664,87 hektare.
Kebakaran tersebut didominasi lahan semak belukar, gambut, serta lahan perkebunan yang mengering akibat minimnya curah hujan.
Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, pemerintah daerah bersama TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, serta unsur masyarakat terus meningkatkan patroli terpadu, pemadaman dini dan sosialisasi kepada masyarakat di wilayah rawan.
Sejumlah kabupaten di Sumsel juga telah menetapkan status siaga darurat karhutla. Langkah tersebut dilakukan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat, termasuk dalam pengerahan personel, peralatan, serta dukungan anggaran apabila terjadi kebakaran dalam skala besar.
Sudirman mengatakan, bertambahnya jumlah daerah berstatus zona merah menjadi sinyal bahwa ancaman karhutla di Sumatera Selatan belum mereda.
Karena itu, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar.
"Kami mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Cuaca yang kering disertai angin membuat api sangat mudah menyebar dan sulit dikendalikan. Pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan setelah kebakaran terjadi," tegasnya.
BPBD Sumsel juga terus memantau perkembangan titik panas (hotspot) melalui satelit dan berkoordinasi dengan BMKG untuk mengantisipasi wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan risiko karhutla selama musim kemarau berlangsung.
Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com