BNPB Ungkap Penyebab Banjir Padang, Siapkan Early Warning System di Titik Rawan Bencana
Rahmadi August 05, 2026 03:01 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap hasil kajian terkait penyebab bencana yang berulang di Kota Padang.

Hasil kajian menunjukkan banjir dan longsor dipicu kondisi di bagian hulu sungai yang mengalami longsor saat curah hujan tinggi. 

Longsor itu dipicu oleh curah hujan tinggi dalam beberapa waktu. Sehingga membuat material seperti batu dan kayu menghantam permukiman pada akhir November 2025 lalu. 

Pemerintah juga menyiapkan Early Warning System (EWS) untuk memperkuat peringatan dini di wilayah rawan.

Kata Sekretaris Utama (Sestama) BNPB, Rustian, banjir dan longsor yang terjadi bermula dari hulu sungai.

Baca juga: Baru 5 Kelas Bersih dari Lumpur Sisa Banjir, SMPN 41 Padang Targetkan PBM Kembali Normal Jumat

"Pada intinya kalau bencana alam, seperti banjir dan longsor ini, pasti dipicu dari hulu sungai, itu yang kita lihat dan laporan Walikota Padang, wakil walikota, camat dan lurah," ucapnya, Selasa (4/8/2026).

Saat banjir akhir 2025 lalu, banyak pepohonan dan batu yang terbawa oleh air. Untuk itu, kondisi hulu yang rusak serta ditambah curah hujan tinggi, tak mampu membendung longsor dan banjir bandang.

"Jadi di hulu sungai, mungkin sudah tidak ada lagi pepohonan. Tapi saya pastikan, airnya bersih setelah banjir Senin (3/8/2026), artinya memang curah hujan yang tinggi," tegasnya.

Early Warning System

BNPB memastikan early warning system disiapkan untuk tiga provinsi di Sumatera yang terdampak bencana akhir November 2025 lalu.

Early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini adalah serangkaian teknologi dan prosedur terpadu untuk mendeteksi tanda-tanda awal bahas untuk bencana alam.

Baca juga: Pemko Padang Siap Relokasi Warga Korban Banjir Berulang, Fadly Amran: Jangan Bertahan di Zona Rawan

"Early warning system kita siapkan untuk tiga provinsi" jelas Rustian saat ditanyai terkait sistem tersebut untuk Kota Padang. 

Sementara itu, Kalaksa BPBD Padang, Hendri Zulviton menyebut early warning system sudah dimulai pada awal tahun 2026 atau pascabencana akhir November 2025 lalu.

Hanya saja, sistem pendeteksi dini bencana baru dipasang di kawasan Batu Busuk dan Lubuk Minturun, Kota Padang.

"Baru kita pasang di Batu Busuk dan Lubuk Minturun, kalau seperti Kampung Guo, Pasar Lalang, Batang Jirak, dan Bungus masih dalam proses pungkasnya, mungkin selesai akhir tahun ini," pungkasnya.

Ia menjelaskan, sistem kerja EWS yakni sebuah sensor akan berbunyi ketika air di sungai sudah melewati ambang batas.

Baca juga: Dua Hari PBM di SMPN 41 Padang Lumpuh Total Pascabanjir, Petugas Masih Bersihkan Lumpur

Bunyi yang dihasilkan sensor inilah kata Hendri, dapat didengar oleh warga sebagai pertanda bahaya terhadap bencana.

"Jadi sensor atau sirine di EWS akan berbunyi, jika air sungai melewati ambang batas," tambahnya.

BNPB Sebut Curah Hujan Tinggi Picu Banjir Berulang

Sekretaris Utama (Sestama) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Rustian menyebut pemicu bencana berulang di Kota Padang diakibatkan oleh curah hujan tinggi di pulau Sumatera.

Hal itu ia sampaikan saat mengunjungi korban bencana banjir di Lapau Munggu, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Selasa (4/8/2026) kemarin.

Sementara untuk banjir di daerah tersebut, terjadi pada Senin (3/8/2026). Sebelumnya hujan lebat mengguyur pada pagi harinya hingga malam.

Baca juga: Pemko Padang Masih Layani Titik Pengungsian Banjir, Fadly Amran Pastikan Logistik Terus Disalurkan

Membuat debit air Sungai Guo meningkat, berarus deras, hingga menjebol tanggul. Akibatnya, aliran airnya meluap ke permukiman warga.

Kedatangan Sestama BNPB ke Lapau Munggu didampingi oleh Wakil Walikota (Wawako) Padang, Maigus Nasir, Kalaksa BPBD Padang, Hendri Zulviton, Camat Kuranji, Rozaldi  dan pihak terkait lainnya.

Dalam keterangannya, ia menyebut banjir sudah terjadi sebanyak tiga kali di daerah tersebut dan hampir titik lainnya di Kota Padang.

Kata dia, bencana yang terjadi dipicu oleh curah hujan intensitas tinggi terhadap wilayah Sumatera.

"Sudah dipastikan dan dilihat karena curah hujan yang tinggi untuk wilayah Sumatera, termasuk Sumatera Barat, Sumatera Utara dan. Tiga provinsi ini memang di warning merah, saya lihat itu dari BMKG," ucapnya.

Untuk itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan. Akan tetapi, untuk bencana akhir November 2025 lalu, pemerintah sudah menyiapkan anggaran.

Hanya saja, anggaran dari pemerintah tak bisa digunakan secara cepat dan harus melewati prosedur yang ada.

Baca juga: Intake PDAM Kembali Rusak Diterjang Banjir, Pemko Padang Siapkan Distribusi Air Bersih

"Jadi ada prosedurnya, kalau sudah ada uangnya, pelaksanaannya bagaimana, sambil menunggu itu, terjadi lagi bencana, jadi kita minta masyarakat meningkatkan kewaspadaan," tuturnya.

Ia berharap dalam waktu dekat, pembangunan pascabencana akan selesai dilakukan dari anggaran yang sudah disediakan pemerintah.

"Semoga dalam waktu dekat, kementerian dan lembaga yang diamanahkan, termasuk provinsi dan kabupaten/kota, anggaran itu untuk memastikan pembangunan kembali yang lebih baik," tambahnya. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.