Pengalaman ​Masa Kecil Membentuk Karakter Saat Dewasa, Begini Penjelasan Dinas PPKBPM Banjarmasin
Hari Widodo August 05, 2026 10:06 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Inner Child ternyata tidak hanya berisi kesedihan atau pengalaman buruk namun juga hal positif yang mempengaruhi mentalitas seseorang saat dewasa.

Kepala Bidang KB Dinas PPKBPM Kota Banjarmasin, Rimalia, memaparkan pentingnya memahami konsep inner child bagi setiap orang.

"Pengalaman positif masa kecil membentuk kepribadian dewasa yang pemaaf, humoris, dan mudah bersosialisasi," ujarnya dalam program Bangga Kencana Talk, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya pengalaman trauma masa kecil tidak melulu disebabkan oleh bencana alam atau kebakaran gedung. 

Trauma sering kali berakar dari cara seorang anak memaknai kejadian sehari-hari di lingkungannya.

​Pola asuh yang niatnya untuk mendidik dan mendisiplinkan sering kali ditangkap berbeda oleh anak. 

"Anak berisiko merasa tidak dicintai, tidak disayangi, atau merasa dikurung dan dihukum," imbuhnya.

Rimalia mengimbau para orang tua agar tidak memaksa anak usia 0 hingga 5 tahun untuk selalu mengalah.

Ini sebab anak usia 0–5 tahun secara psikologis berada dalam tahapan egosentris untuk memahami batas kepemilikan dan hak atas dirinya.

"​Membiarkan anak meluapkan kekecewaan atau rasa sedih saat mainannya diambil orang lain membantu mereka menyadari batasan diri secara bertahap," kata dia.

​Perkembangan fase egosentris yang sehat sangat krusial dalam membentuk identitas serta ketegasan diri anak sejak dini.

​Anak yang terlalu sering dipaksa mengalah berisiko tumbuh menjadi pribadi yang pasif, sehingga sulit menolak perlakuan tidak menyenangkan atau sentuhan fisik yang tidak pantas dari orang lain.

Ia juga mengingatkan para orang tua agar tidak membiasakan memaksa anak mengalah tanpa memberikan pemahaman yang tepat.

​"Sikap mengalah seharusnya lahir dari pemahaman dan kesadaran diri anak, bukan sekadar perintah dari orang tua," imbuhnya.

Meminta anak mengalah hanya karena statusnya sebagai anak tertua atau kakak tanpa edukasi dapat menanamkan rasa ketidakadilan.

Ia mengatakan, anak yang barang atau hasil usahanya dirusak dan dipaksa memaklumi begitu saja berisiko menganggap lingkungan sekitar kejam dan tidak adil.

​Kebiasaan mengalah akibat merasa tidak berdaya bukan atas kesadaran penuh merupakan bentuk luka batin yang berlanjut hingga usia dewasa. 

Penyuluh Keluarga Berencana Ahli Muda Dinas PPKBPM Kota Banjarmasin, Indra Wijaya, menekankan pentingnya calon orang tua menyelesaikan masalah pribadi dan luka batin sebelum memutuskan untuk membina rumah tangga.

"​Orang tua yang belum selesai dengan masalah internal atau trauma masa lalu berisiko melampiaskan rasa sakit tersebut kepada anak-anak mereka," kata Indra.

​Menurutnya, pasangan usia subur diimbau untuk mempelajari konsep dan ilmu pengasuhan atau parenting terlebih dahulu sebelum membentuk keluarga.

​Orangtua yang dibesarkan dalam lingkungan kaku, otoriter, atau penuh kekerasan cenderung mengulangi pola pengasuhan serupa jika tidak dibekali pemahaman baru.

​"Calon orang tua membutuhkan kecukupan literasi pengasuhan agar dapat bersikap lebih fleksibel dan menciptakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak," pungkasnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Mariana)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.