Krisis Energi Ukraina Gawat, Lebih dari 80 Persen Pembangkit Listrik Rusak akibat Serangan Rusia
Okwida Kris Imawan Indra Cahaya August 05, 2026 10:57 PM

- Wakil Perdana Menteri Pertama sekaligus Menteri Energi Ukraina, Denis Shmygal, mengatakan lebih dari 80 persen pembangkit listrik di negaranya telah rusak atau hancur akibat perang.

Kondisi tersebut memberikan tekanan besar terhadap sistem kelistrikan nasional dan memperlambat upaya pemulihan sektor energi.

Dalam sebuah wawancara, Shmygal menyebut kapasitas pembangkit listrik Ukraina sempat turun menjadi sekitar 12 gigawatt (GW) pada musim dingin lalu.

Angka itu jauh di bawah kapasitas sebelum 2022 yang mencapai sekitar 56 GW, sehingga memicu kekurangan pasokan listrik sekitar 6 GW.

Menurut Shmygal, Ukraina mulai menghadapi krisis pasokan listrik sejak akhir 2025 akibat kombinasi cuaca dingin berkepanjangan dan kerusakan parah pada infrastruktur energi.

Pemerintah pun menetapkan status darurat di sektor energi untuk mengantisipasi risiko kekurangan pasokan listrik.

Meski kondisi jaringan listrik menunjukkan tanda-tanda perbaikan dalam beberapa waktu terakhir, para ahli di Ukraina menilai sistem kelistrikan nasional belum sepenuhnya pulih dan masih rentan terhadap gangguan.

Pemerintah Ukraina menargetkan pemulihan sekitar 10 GW kapasitas pembangkit listrik.

Selain itu, negara tersebut juga berencana menambah sekitar 3 GW kapasitas dari pembangkit listrik terdistribusi guna memperkuat ketahanan pasokan energi di masa mendatang.

Kerusakan infrastruktur energi menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Ukraina sejak konflik berskala penuh dengan Rusia pecah pada 2022.

Serangan terhadap fasilitas pembangkit dan jaringan distribusi listrik telah berulang kali mengganggu pasokan energi bagi rumah tangga maupun sektor industri.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.