Oleh : Ir Sukma Firdaus MT
Dosen Prodi Teknologi Otomotif Politeknik Negeri Tanah Laut
BANJARMASINPOST.CO.ID - KECELAKAAN yang terjadi di Desa Gunung Raya Mantewe meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, perguruan tinggi, dan masyarakat Kalimantan Selatan. Penyebab teknisnya masih diselidiki oleh pihak terkait, tulisan ini tidak bermaksud mendahului penyidikan, apalagi mencari pihak yang dipersalahkan. Namun, istilah “kehilangan kendali” sebaiknya tidak menjadi akhir penjelasan.
Dalam engineering diajarkan membedakan gejala dari mekanisme kegagalan. Seperti motor listrik tiba-tiba berhenti, enginer tidak berhenti pada kalimat “motor mati”. Akan tetapi memeriksa suplai energi, arus beban, temperatur, pendinginan, bantalan, dan sistem proteksinya. Cara berpikir yang sama diperlukan dalam melihat kejadian itu.
Serangkaian kecelakaan yang terjadi di rute Banjarbaru - Batulicin belum membuktikan satu penyebab yang sama. Namun, kejadian berulang cukup menjadi alasan untuk melakukan tinjauan atas keselamatan jalan. Ruas ini memperpendek perjalanan dan mendukung ekonomi, tetapi jalur perbukitan dengan tanjakan, turunan, tikungan, dan jarak pandang terbatas menuntut disiplin dan desain serta operasi yang lebih tinggi.
Dalam bahasa teknik, geometri jalan merupakan “program fisika” yang terus diberikan kepada kendaraan. Pada turunan misalnya, sebagian berat kendaraan bekerja searah geraknya, energi potensial berubah menjadi energi gerak dan panas pengereman. Rem tidak hanya dituntut menghasilkan gaya, tetapi juga membuang panas terus-menerus. Rem yang terasa pakem saat diperiksa belum tentu memiliki cadangan termal yang sama ketika menahan kendaraan berat di turunan panjang.
Begitu juga dengan kecepatan yang memperbesar persoalan secara tidak linear. Ketika kecepatan menjadi dua kali, energi yang harus diredam menjadi empat kalinya. Kenaikan kecepatan beberapa kilometer per jam pada kendaraan berat dapat mengurangi ruang keselamatan dengan cepat.
Pada tikungan, kendaraan memerlukan gaya lateral agar tetap mengikuti radius jalan. Jika pengemudi mengerem sambil membelok, ban harus membagi cengkeramannya untuk mengurangi kecepatan sekaligus mempertahankan arah. Dalam dinamika kendaraan, kemampuan ini dapat dipahami sebagai cadangan cengkeraman ban. Permukaan basah, kerikil, tekanan ban tidak tepat, ban aus, atau beban berlebih akan memperkecil cadangan tersebut.
Demikian untuk jarak pandang yang bukan sekadar soal melihat kendaraan di depan. Namun sebagai waktu untuk mengenali bahaya, mengambil keputusan, dan mengerem. Pada tikungan setelah puncak tanjakan, objek mungkin baru terlihat ketika ruang koreksi sudah sempit. Padahal jarak berhenti dipengaruhi kecepatan, gradien, permukaan jalan, waktu reaksi, dan kemampuan rem.
Pada kendaraan tangki, muatan cair menambah dinamika lain. Ketika tangki terisi sebagian, cairan dapat bergerak saat kendaraan mengerem atau berbelok. Perpindahan massa ini menggeser pusat gravitasi dan menambah momen yang harus ditahan ban, suspensi, serta sistem kemudi. Sekat peredam membantu, tetapi pengaruh akhirnya tetap bergantung pada konstruksi tangki, tingkat pengisian, kecepatan, radius tikungan, dan manuver.
Apakah mekanisme tersebut berperan dalam kecelakaan Gunung Raya, tentu belum dapat disimpulkan. Ilmu engineering mengharuskan kita untuk tidak memilih penyebab sebelum data tersedia. Pemeriksaan perlu mencakup kecepatan, jejak ban, rem dan kemudi, muatan, tingkat pengisian tangki, gradien, radius tikungan, jarak pandang, permukaan jalan, serta posisi akhir kendaraan.
Pelajaran serupa terlihat dalam laporan KNKT atas kecelakaan truk crane di Karangploso 2017. Investigasi menemukan kebocoran sistem udara dan selang rem, rem parkir yang dialihfungsikan, ban rusak, perubahan dimensi, serta tangki bahan bakar yang diganti jerigen. Dekat lokasi tabrakan, kemiringan jalan meningkat dan badan jalan menyempit. Kasus itu menunjukkan bahwa kelemahan kendaraan dapat tersembunyi ketika diam, lalu muncul ketika bertemu gradien, tikungan, getaran, temperatur, dan beban operasi.
Di sinilah pemeriksaan kelaikan di lapangan atau ramp check jadi hal yang sangat penting. Pemeriksaan dapat menemukan rem, ban, kemudi, modifikasi, dan kelengkapan yang tidak laik. Namun, pemeriksaan statis belum tentu menjawab apakah kendaraan mampu mempertahankan fungsi keselamatan pada rute tertentu.
Diperlukan kelaikan fungsional dinamis, seperti kendaraan dinilai bersama muatan, karakter jalan, pola operasi, dan lingkungannya. Kendaraan berat di jalan berbukit memerlukan perhatian khusus terhadap pengereman, pengereman mesin, ban, distribusi muatan, konstruksi tangki, dan kompetensi pengemudi menghadapi turunan serta tikungan.
Bagi pengguna jalan, pelajaran teknik ini harus menjadi tindakan sederhana seperti memeriksa rem, ban, kemudi, lampu, dan bahan bakar sebelum berangkat. Kurangi kecepatan sebelum tikungan atau turunan. Gunakan gigi rendah dan pengereman mesin pada turunan; jangan menahan pedal rem terus-menerus karena panas dapat menurunkan kinerjanya.
Jaga jarak lebih panjang, hindari mendahului di tanjakan, tikungan, atau ruang pandang terbatas, dan jangan memaksakan perjalanan ketika lelah, atau visibilitas buruk. Pengguna yang belum mengenal jalur sebaiknya memilih perjalanan siang, mengikuti rambu, serta memastikan komunikasi dan bahan bakar cukup.
Dari kejadian ini perbaikan dapat dilakukan bertahap. Dalam jangka pendek, titik rawan diperkuat dengan marka, patok pengarah, rambu pendahuluan, dan pengendalian kecepatan. Dalam jangka menengah, perlu pemeriksanaan gradien, radius tikungan, jarak pandang, permukaan jalan, pagar pengaman, dan kebutuhan jalur penghentian darurat.
Dalam jangka panjang, data kecelakaan, pemeriksaan kendaraan, jenis muatan, dan profil geometri jalan perlu dihubungkan untuk menghasilkan kebijakan manajemen keselamatan. Infrastruktur komunikasi, tempat istirahat, dan respons pertolongan juga merupakan bagian dari sistem keselamatan. Tragedi ini sebaiknya menjadi ruang belajar kita bersama.
Pemerintah, kepolisian, operator angkutan, perguruan tinggi, perancang jalan, industri kendaraan, dan masyarakat memiliki bagiannya masing-masing. Pendekatan tanpa saling menyalahkan bukan berarti menghilangkan akuntabilitas. Artinya, kita mencari mekanisme kegagalan secara jujur agar perbaikan tidak berhenti pada satu orang atau satu komponen.
Penghormatan terbaik kepada korban dan keluarga adalah memastikan setiap temuan kembali menjadi tindakan, dimana lokasi diperiksa, kendaraan diuji, pola kecelakaan dipetakan, rute diperbaiki, dan masyarakat memperoleh informasi yang mudah dipahami. Keberhasilan jalan bukan hanya diukur dari seberapa cepat dalam menghubungkan dua tempat, tetapi dari seberapa baik dalam mengantarkan setiap orang pulang dengan selamat. (*)
Dari kejadian ini perbaikan dapat dilakukan bertahap. Dalam jangka pendek, titik rawan diperkuat dengan marka, patok pengarah, rambu pendahuluan, dan pengendalian kecepatan. Dalam jangka menengah, perlu pemeriksanaan gradien, radius tikungan, jarak pandang, permukaan jalan, pagar pengaman, dan kebutuhan jalur penghentian darurat.