Perundungan Teman Satu Sekolah Berujung Nestapa
Hari Susmayanti August 06, 2026 07:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM, PEMALANG - Di balik rumah sepetak yang sangat sederhana, masih terasa duka mendalam atas kehilangan bahkan namanya pun masih ada disecarik kertas putih yang tertempel di dinding. 

Tertulis jelas nama Ahmad Alfian bin Saepudin yang tertera di secarik kertas tertempel di dinding lusuh penuh coretan. 

Raganya tidak ada sudah dimakamkan sejak tiga hari kemarin, namun kesedihannya masih terasa hingga detik ini. 

Ahmad Alfian merupakan siswa kelas 7 SMP Negeri 4, Randudongkal, Kabupaten Pemalang yang diduga menjadi korban perundungan (bullying) oleh sejumlah rekannya sampai meninggal dunia. 

Korban yang masih berusia 13 tahun tinggal bersama kedua orang tua dan satu adiknya di rumah yang sangat sederhana di, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang. 

Di depan rumahnya bahkan terdapat tulisan bercat merah "Keluarga Penerima Manfaat Bantuan Sosial PKH/BPNT Desa Semingkir, semoga keluarga ini segera disejahterakan." 

Kesedihan dan rasa kehilangan masih sangat jelas terlihat dari wajah sang ibu. 

Meskipun sesekali melempar senyum ketika tetangga datang ke rumah untuk berbelasungkawa, namun sorot mata dan tatapan kesedihan masih sangat jelas dan tidak bisa ditahan. 

Apalagi ketika sosok ibu bernama Epi Priyanti (34), menceritakan kronologi singkat mengenai peristiwa yang menimpa sang anak sampai kehilangan nyawa. 

Epi bercerita, awalnya pada Rabu (22/7/2026) anaknya (Ahmad Alfian) menunjukkan chat WhatsApp dari seorang anak yang masih satu sekolah yang mengancam akan melakukan pengeroyokan. 

Kemudian, Epi meminta nomor telepon yang mengirim pesan pengancaman tersebut kepada anaknya untuk dihubungi kenapa mengirim pesan bernada ancaman. 

Kemudian anak yang mengirim pesan tersebut merespons dan menyebut bahwa anak dari Epi (Ahmad Alfian) menantang berkelahi. 

Namun, saat itu permasalahan tidak berlanjut dan Epi menemui guru BK sekolah untuk menanyakan apakah di sekolah ada keamanan atau tidak. 

Berlanjut pada tanggal 24 Juli 2026, korban kembali mendapat pesan ancaman tapi dilakukan oleh anak yang berbeda dari pengirim pesan pertama. 

Di situ kembali damai karena Epi langsung menemui anak tersebut dan menyelesaikan permasalahan. 

"Tapi ternyata keesokan paginya Sabtu (25/7/2026) anak saya kembali mendapat pesan untuk menemui di kamar mandi sekolah. Di situ ternyata ada anak-anak yang sebelumnya mengirim pesan dan anak lainnya juga. Saat itu, ketika saya tanya anak saya jawab tidak diapa-apain," cerita Epi Priyanti, pada Tribun Jateng, Rabu (5/8/2026). 

Beberapa hari sebelum meninggal dunia tepatnya Selasa (28/7/2026), Epi membawa anaknya periksa ke rumah sakit dan di situ sang anak baru mengaku bahwa mengalami tindak kekerasan oleh teman satu sekolah. 

Puncaknya pada Sabtu (1/8/2026) atau sehari sebelum anaknya meninggal dunia, Epi mendatangkan guru ke rumah dan di situ anaknya baru jujur bahwa mendapat kekerasan seperti bagian lengan atas diinjak dan hal itu juga dibenarkan sang guru yang datang. 

Korban mengeluh bagian lengan atas, pundak terasa sakit dan Epi juga melihat luka lebam di bagian kaki. 

Namun, anaknya meskipun mengeluh sakit pada hari Sabtu (1/8/2026) masih bisa jalan atau aktivitas biasa. 

Baca juga: KPAD Bantul Menyayangkan Kejadian Dugaan Perundungan Siswa di SMAN 2 Bantul

Korban sempat menjalani perawatan selama satu hari di Rumah Sakit Mardhatillah Randudongkal sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (2/8/2026) malam. 

Sesuai yang diceritakan anaknya sebelum meninggal dunia, ada tujuh anak yang namanya disebut melakukan perundungan. 

Dari jumlah tersebut teman yang satu angkatan kelas 7 hanya satu orang, empat orang sisanya kelas 8, dan dua orang lainnya merupakan kakak kelas korban tepatnya kelas 9. 

"Anak saya itu tidak suka keluyuran. Dalam artian kalau tidak dijemput temannya untuk main ya di rumah saja seharian dalam kamar. Paling main game di samping rumah main handphone. Ya bisa disebut anak rumahan karena bisa menilai mana yang sekiranya bahaya atau berisiko dan tidak," ungkap Epi. 

Pemurung

Epi bercerita, almarhum Ahmad Alfian merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ahmad Alfian merupakan sosok anak yang suka jail, iseng dari kelas 2 sampai 4 SD. 

Tapi sikapnya mulai berubah jadi lebih baik dalam artian lebih pendiam atau kalem ketika kelas 5 dan kelas 6 SD. 

Masuk SMP anaknya malah menjadi murung seperti tidak semangat dan saat itu belum diketahui apa penyebabnya. 

Uang saku selalu sisa dan ketika ditanya untuk apa atau ke mana, korban menjawab uangnya ditabung. 

Menurut Epi, anaknya juga cerita sejak awal masuk sekolah sudah sering diganggu baik ketika hendak jajan ataupun di lingkungan sekolah. 

Pergerakan Ahmad Alfian di sekolah sangat terbatas karena selalu diikuti oleh anak-anak yang diduga merundungnya. 

Bahkan suatu hari, Epi pernah mendapati sang anak pulang dari sekolah dengan kondisi seragam sangat kotor dan ketika ditanya mengaku hanya lari-lari saja. 

Epi sangat sedih karena sang anak hanya diam dan memendam semuanya sendiri tanpa cerita kepadanya. 

"Anak saya sejak awal sudah diganggu. Penyebabnya ini hanya persepsi saya saja, jadi anak saya dan anak-anak perundung itu saat SD bareng. Nah mungkin sudah sejak saat SD sudah diincar dan dilanjutkan saat SMP ternyata bareng lagi. Saya juga merasa sangat bersalah kenapa harus menyekolahkan di sekolah yang sama dengan mereka," ujar Epi. 

Epi mengatakan, pihak sekolah sudah datang ke rumah dan menyampaikan turut berduka atas meninggalnya Ahmad Alfian. 

Jujur, Epi menyayangkan dan merasa kecewa kepada pihak sekolah karena respons yang sangat lambat. 

Hal itu karena Epi mengaku sudah dua kali melapor ke guru BK mengenai penderitaan yang anaknya alami dan ingin dipertemukan dengan terduga pelaku perundungan. 

Namun, tidak diwujudkan bertemu dengan anak-anak yang melakukan perundungan karena pihak sekolah menyebut sudah ada aturan atau prosedurnya. 

Sebelum dimakamkan, jasad Ahmad Alfian sempat dilakukan autopsi oleh pihak kepolisian karena kematiannya yang janggal mengingat sebelumnya tidak sakit atau lainnya. 

"Sampai detik ini keluarga terduga pelaku perundungan belum ada satupun yang datang ke rumah menemui saya untuk berbelasungkawa ataupun meminta maaf. Semuanya masih satu desa," terang Epi. 

Penyelidikan

Hingga kini, Polres Pemalang masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban. 

Kasatreskrim Polres Pemalang, AKP M Faizal Wildan Umar, mengatakan, laporan terkait meninggalnya korban diterima Polsek Randudongkal, pada Minggu (2/8/2026) pukul 22.00.

Menurut Wildan, penyidik masih mendalami seluruh informasi yang berkembang di masyarakat, termasuk dugaan adanya tindak kekerasan yang ramai diperbincangkan. 

Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan awal terhadap kondisi luar tubuh korban, polisi belum menemukan tanda-tanda kekerasan. 

"Masih kita cari tahu penyebab kematiannya karena pengecekan dari luar tidak ada tanda-tanda kekerasan," ujar Faizal kepada Tribun Jateng, Senin (3/8/2026).

Selain memeriksa sejumlah saksi, penyidik juga masih menunggu hasil rekam medis dari RS Mardhatillah Muhammadiyah, Randudongkal. 

Dokumen tersebut, akan menjadi salah satu bahan penting dalam mengungkap penyebab meninggalnya korban.

Untuk memastikan penyebab kematian secara ilmiah, Polres Pemalang telah berkoordinasi dengan Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Jawa Tengah guna melakukan autopsi terhadap jenazah korban.

Faizal menegaskan, penyelidikan dilakukan secara profesional dan sesuai prosedur hukum yang berlaku. 

Polisi juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait, untuk mengumpulkan seluruh fakta yang diperlukan.

"Kami berkomitmen menangani kasus ini secara profesional. Jika ditemukan unsur pidana, maka akan kami proses sesuai prosedur hukum yang berlaku," tegasnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.