Tiga Mahasiswi Berprestasi Tingkat Jateng Temui Rektor UIN Saizu, Siap Melaju ke Nasional
abduh imanulhaq August 06, 2026 09:10 AM

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO -  Rektor UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Ridwan menerima audiensi tiga mahasiswi berprestasi yang sukses mengharumkan nama kampus pada ajang pemilihan di tingkat Provinsi Jawa Tengah, di Ruang Tamu Rektor, Rabu (5/8/2026).

Ketiga mahasiswi berprestasi tersebut yakni Rahmah Aziza, peraih Miss Hijab Jawa Tengah 2026, Septi Rahmadani Runner Up Miss Hijab Jawa Tengah 2026, serta Regina Megannira Nuhaeni Winner Mbak Batik Jawa Tengah 2026.

Mereka hadir didampingi Mantan Presiden Mahasiswa (Presma) UIN Saizu, Ngindana Aghists Zulfa.

Suasana berlangsung hangat dan penuh semangat, diwarnai dialog inspiratif mengenai perjalanan para mahasiswi dalam meraih prestasi, gagasan advokasi yang mereka usung, hingga tantangan membawa nama UIN Saizu Purwokerto ke tingkat nasional.

Dalam sambutannya, Prof. Ridwan menyampaikan rasa bangga atas capaian ketiga mahasiswi tersebut.

Menurutnya, keberhasilan mereka bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, melainkan juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan reputasi UIN Saizu di tingkat regional maupun nasional.

"Atas nama pimpinan universitas, saya menyampaikan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya. Terima kasih sudah melangitkan nama UIN Saizu di Jawa Tengah. Mudah-mudahan prestasi ini tidak berhenti di tingkat provinsi, tetapi terus berlanjut hingga level nasional bahkan internasional. Ini juga menjadi bagian dari pencapaian institusi," ujar Prof. Ridwan.

Rektor menilai mahasiswa yang mampu tampil di ajang kompetisi tingkat provinsi merupakan representasi kualitas sumber daya manusia UIN Saizu yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kreativitas, serta kepedulian terhadap persoalan sosial.

Dalam dialog tersebut, Prof. Ridwan mengajak ketiga mahasiswi mempresentasikan program advokasi yang mereka usung selama mengikuti kompetisi.

Menurutnya, gelar juara memiliki makna apabila mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Kalian jangan berhenti hanya menjadi juara. Yang lebih penting adalah bagaimana gagasan yang kalian bawa benar-benar dijalankan sehingga memberi dampak bagi masyarakat," pesannya.

Prof. Ridwan juga menekankan pentingnya mahasiswa membangun jejaring, kolaborasi, serta memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas jangkauan program sosial yang mereka gagas.

Kesempatan pertama diberikan kepada Rahmah Aziza, mahasiswi Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) yang berhasil menyabet gelar Miss Hijab Jawa Tengah 2026.

Rahmah menjelaskan bahwa program advokasi yang dibawanya bernama Aksi Lentera.

Program tersebut lahir dari hasil riset yang ia lakukan di Kabupaten Banjarnegara, daerah asalnya.

Menurut Rahmah, salah satu persoalan yang masih memerlukan perhatian adalah tingginya angka pernikahan usia dini.

"Saya ingin menghadirkan perubahan melalui edukasi kepada generasi muda agar memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai masa depan, pendidikan, dan pengembangan diri," jelasnya.

Sejak awal mengikuti kompetisi, ia membawa sebuah misi sosial melalui program advokasi Aksi Lentera (Literasi, Edukasi, dan Pemberdayaan Perempuan).

Program tersebut lahir dari kepeduliannya terhadap pentingnya membangun budaya literasi, meningkatkan kualitas pendidikan, serta memperkuat pemberdayaan perempuan dan anak melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.

Menurut Rahmah, ajang Miss Hijab Jawa Tengah bukan hanya kompetisi kecantikan muslimah, tetapi ruang strategis untuk memperkenalkan gagasan yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

"Saya percaya bahwa perempuan bukan hanya mampu meraih prestasi, tetapi juga menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat. Melalui Aksi Lentera, saya ingin menghadirkan program yang benar-benar memberikan manfaat nyata," ujarnya.

Sementara itu, Regina Megannira Nuhaeni, mahasiswa Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah, peraih Winner Mbak Batik Jawa Tengah 2026, memaparkan misinya untuk memperkuat literasi budaya melalui batik.

Dia mengatakan bahwa banyak masyarakat mengenakan batik tanpa memahami makna filosofis yang terkandung di balik setiap motif.

Karena itu, ia berkomitmen mengenalkan sejarah, filosofi, dan nilai budaya batik kepada generasi muda melalui berbagai kegiatan edukatif.

Menurutnya, motif batik menjadi simbol harmoni budaya yang patut terus dikenalkan kepada masyarakat sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara.

Selain fokus pada edukasi remaja, dia juga mengangkat potensi budaya lokal melalui pelestarian batik.

Ia berencana menggelar seminar serta berkolaborasi dengan pelaku UMKM batik di berbagai daerah.

Melalui kegiatan tersebut, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal batik sebagai busana, tetapi juga memahami filosofi yang terkandung di dalam setiap motifnya.

Sementara Runner Up Miss Hijab Jawa Tengah 2026, Septi Rahmadani, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah, memaparkan program advokasinya yang diberi nama SpeakUp.Sister.

Program tersebut berfokus pada pemberdayaan perempuan dan anak melalui edukasi mengenai pencegahan kekerasan seksual, perundungan (bullying), serta peningkatan kesadaran kesehatan reproduksi.

Septi menjelaskan bahwa gagasan tersebut lahir berdasarkan hasil riset mengenai tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Banyumas.

Selain itu, ia juga menyoroti tingginya angka kasus HIV/AIDS yang menjadi perhatian bersama.

"Saya ingin menghadirkan ruang edukasi yang aman bagi perempuan dan anak sehingga mereka berani berbicara ketika mengalami kekerasan maupun perundungan," ujarnya.

Untuk memperkuat implementasi program tersebut, Septi telah menjalin kolaborasi dengan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Banyumas serta Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Banyumas melalui berbagai kegiatan sosialisasi kepada pelajar dan masyarakat.

Dalam arahannya, Prof. Ridwan memberikan motivasi yang mendapat perhatian seluruh peserta audiensi.

Menurutnya, masyarakat umumnya hanya melihat seseorang ketika sudah berhasil meraih prestasi, tetapi tidak mengetahui perjuangan panjang yang harus dilalui sebelum mencapai titik tersebut.

"Orang melihat kalian sekarang sebagai juara. Yang tidak mereka lihat adalah proses panjang, kerja keras, latihan, kegagalan, dan perjuangan yang kalian jalani selama ini," katanya.

Dia kemudian menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki kelebihan yang berbeda-beda.

"Semua orang mempunyai potensi. Tinggal bagaimana potensi itu dikenali, diasah, dan dimanfaatkan. Jangan pernah merasa kecil. Yang membedakan adalah siapa yang mau terus berproses," tuturnya.

Prof. Ridwan juga mengingatkan bahwa kesuksesan tidak datang begitu saja.

"Kesuksesan adalah bertemunya ikhtiar manusia dengan pertolongan Allah SWT. Takdir itu dijemput, bukan ditunggu. Karena itu teruslah berusaha, terus belajar, perluas jaringan, dan jangan pernah berhenti mencoba," beber dia.

Menurutnya, kemampuan membangun relasi juga menjadi modal penting bagi mahasiswa dalam mengembangkan karier maupun memperluas dampak program sosial yang dijalankan.

Dia mengajak mahasiswa untuk aktif berorganisasi, mengikuti kompetisi, dan memperbanyak pengalaman di luar ruang kelas sebagai bagian dari proses pembentukan karakter pemimpin masa depan.

Dalam pertemuan tersebut juga disampaikan bahwa Rahmah Aziza dan Septi Rahmadani akan mewakili Jawa Tengah pada ajang Miss Hijab Indonesia 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026.

Sedangkan Regina Megannira Nuhaeni akan mewakili Jawa Tengah di Miss Batik Indonesia 2026 yang dijadwalkan pada Desember 2026.

Prof. Ridwan berharap kesempatan tersebut dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memperkenalkan UIN Saizu sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa PTKIN mampu bersaing di tingkat nasional.

Dia optimistis ketiga mahasiswi tersebut akan terus berkembang menjadi duta yang tidak hanya membawa prestasi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui berbagai program advokasi yang mereka jalankan.

"Jadikan prestasi ini sebagai pintu masuk untuk memberikan manfaat yang lebih luas. Ketika kalian membawa nama UIN Saizu, maka yang dibawa bukan hanya almamater, tetapi juga nilai-nilai keislaman, intelektualitas, moderasi, dan pengabdian kepada masyarakat," pesan Prof. Ridwan.

Audiensi diakhiri dengan sesi foto bersama dan doa agar seluruh program advokasi yang diusung dapat berjalan secara berkelanjutan.

Pimpinan universitas juga menyatakan komitmennya untuk terus mendukung mahasiswa berprestasi agar mampu menorehkan capaian yang lebih tinggi di tingkat nasional maupun internasional.

Prestasi yang diraih Rahmah Aziza, Septi Rahmadani, dan Regina Megannira Nuhaeni sekaligus menjadi bukti bahwa mahasiswa UIN Saizu tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu tampil sebagai agen perubahan melalui kepemimpinan, kepedulian sosial, pelestarian budaya, dan pemberdayaan masyarakat. (***)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.