Muktamar NU ke-35 Momentum Mengenang Jejak Bersejarah Palembang dalam Perjalanan Nahdlatul Ulama
Abdul Hafiz Sripo August 06, 2026 09:27 AM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026, PWNU Sumsel mengajak warga Nahdliyin mengenang peran besar Palembang dalam sejarah Nahdlatul Ulama. 

Kota ini disebut menjadi tempat lahirnya sejumlah keputusan monumental yang mengubah perjalanan organisasi NU di Indonesia.

Wakil Ketua PWNU Sumsel, Kemas Khoirul Mukhlis, mengatakan Palembang memiliki ikatan sejarah yang sangat kuat dengan Nahdlatul Ulama, bahkan menjadi saksi lahirnya kebijakan strategis yang berdampak besar bagi organisasi.

"Ketika kita menyambut Muktamar NU ke-35 di Jombang, kita juga patut mengingat bahwa Palembang memiliki histori yang sangat kuat dengan Nahdlatul Ulama. Kota ini pernah menjadi saksi lahirnya keputusan-keputusan besar yang mengubah arah perjalanan NU di Indonesia," ujarnya.

Menurut Kemas Khoirul Mukhlis, salah satu momentum paling bersejarah terjadi saat Muktamar NU ke-19 yang digelar di Gedung Balai Pertemuan Sekanak, Palembang, pada 26 April hingga 2 Mei 1952.

Dalam muktamar tersebut, NU secara organisatoris mengukuhkan keputusan keluar dari Partai Masyumi dan kemudian berdiri sebagai kekuatan politik yang mandiri. Selain itu, Muslimat NU juga resmi memperoleh hak otonomi penuh sebagai badan otonom.

"Keputusan-keputusan yang lahir di Palembang bukan keputusan biasa. Dampaknya sangat besar terhadap perjalanan organisasi, baik dalam bidang keagamaan, sosial maupun kebangsaan," kata Kemas.

Ia menjelaskan, hubungan Palembang dengan NU sebenarnya telah terjalin jauh sebelum Muktamar 1952 berlangsung.

Palembang bahkan sempat dipersiapkan menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-16 yang dijadwalkan berlangsung pada 1942. Namun agenda tersebut tertunda akibat Perang Pasifik dan pendudukan Jepang, sehingga baru dapat terlaksana satu dekade kemudian.

Kemas Khoirul Mukhlis juga menyoroti peran ulama besar Sumatera Selatan, KH Muhammad Zen Syukri, yang merupakan murid langsung sekaligus salah satu murid kinasih pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy'ari.

KH Muhammad Zen Syukri menjadi salah satu tokoh penting sekaligus tuan rumah dalam pelaksanaan Muktamar NU ke-19 di Palembang sebelum wafat pada 22 Maret 2012.

"Abah Zen Syukri menjadi bukti bahwa hubungan Palembang dengan NU bukan hanya hubungan organisatoris, tetapi juga hubungan keilmuan yang bersambung langsung kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari. Warisan inilah yang harus terus kita jaga dan kita lanjutkan," tegasnya.

• Sriwijaya FC Dilarang Daftar Pemain Baru oleh FIFA, Ini Syarat agar Hukuman Dicabut

Menjelang Muktamar NU ke-35 di Jombang, Kemas berharap forum tertinggi organisasi tersebut mampu melahirkan keputusan-keputusan strategis yang semakin memperkuat peran NU dalam menjaga Islam Ahlussunnah wal Jamaah, memperkokoh persatuan bangsa, serta menjawab berbagai tantangan zaman.

"Semoga semangat Muktamar Palembang 1952 menjadi inspirasi bagi Muktamar ke-35. NU harus terus menjadi rumah besar umat, menjaga tradisi, merawat persatuan, dan menghadirkan solusi bagi bangsa. Palembang akan selalu menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Nahdlatul Ulama," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.