SURYA.co.id, LAMONGAN – Petani di Kabupaten Lamongan tengah menikmati berkah musim panen kedua.
Harga gabah di sejumlah wilayah sentra produksi kini menembus Rp 8.400 per kilogram, jauh melampaui Harga Acuan Pemerintah (HAP) sebesar Rp6.500 per kilogram.
Kenaikan harga tersebut membawa angin segar bagi petani karena berdampak langsung pada peningkatan pendapatan, terlebih biaya produksi dinilai mulai lebih terkendali berkat kemudahan memperoleh pupuk.
Salah seorang petani asal Desa Sugio, Kecamatan Sugio, Saekan (50), mengatakan harga gabah pada musim panen kedua mengalami lonjakan cukup signifikan dibanding musim tanam pertama.
Baca juga: Prosesi Pemakaman Pendaki Gunung PIramid Maliya Finda di Babat Lamongan
Jika sebelumnya gabah hanya dihargai sekitar Rp7.100 per kilogram, kini petani dapat menjual hasil panennya hingga Rp8.400 per kilogram.
"Pada musim tanam pertama harga gabah rata-rata sekitar Rp7.100 per kilogram. Sekarang, pada panen kedua, Alhamdulillah bisa mencapai Rp8.400 per kilogram. Harga ini tentu sangat menguntungkan petani," ujar Saekan, Kamis (6/8/2026).
Menurut Saekan, kenaikan harga gabah semakin terasa manfaatnya karena diikuti kemudahan memperoleh pupuk dengan harga yang lebih terjangkau.
Kondisi tersebut membantu petani menekan biaya produksi sehingga keuntungan yang diperoleh menjadi lebih besar.
"Kami merasa lebih diperhatikan. Pupuk sekarang lebih mudah didapat dan harganya juga lebih terjangkau," katanya.
Saekan menilai tingginya harga gabah dipengaruhi oleh panen musim tanam kedua yang tidak berlangsung serentak di seluruh wilayah Lamongan.
Akibatnya, pasokan gabah di pasaran lebih sedikit dibanding musim panen pertama sehingga harga jual meningkat.
"Kemungkinan harga naik karena panen musim kedua tidak terjadi di semua wilayah. Produksi gabah yang masuk ke pasar juga tidak sebanyak saat panen pertama," jelasnya.
Produktivitas padi di lahannya mencapai sekitar 10 ton gabah per hektare.
Dengan harga jual Rp 8.400 per kilogram, nilai panen kotor dapat mencapai sekitar Rp 84 juta sebelum dikurangi biaya produksi seperti benih, pupuk, pestisida, hingga biaya perawatan.
"Kalau dihitung kotor bisa sekitar Rp84 juta per hektare. Nanti tentu masih dipotong biaya bibit, pupuk, obat-obatan, dan perawatan," ujarnya.
Petani lainnya menyebut harga gabah di sejumlah sentra pertanian Lamongan bahkan berpotensi lebih tinggi karena kualitas hasil panennya dinilai lebih baik.
Wilayah tersebut antara lain berada di Kecamatan Glagah, Deket, Karangbinangun, Kalitengah, Karanggeneng, dan Turi.
"Daerah tambak biasanya menghasilkan kualitas gabah yang sangat baik sehingga harganya juga lebih tinggi. Sementara di wilayah selatan dan barat Lamongan sebagian besar sudah selesai panen," katanya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lamongan, Mugito, menyambut positif tingginya harga gabah yang dinilai berpihak kepada petani.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi kabar baik karena mampu meningkatkan kesejahteraan petani di tengah musim panen.
"Alhamdulillah, para petani bisa menikmati berkah dari tingginya harga gabah," ujar Mugito.
Pemerintah berharap tren harga gabah yang menguntungkan ini dapat terus menjaga semangat petani meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Lamongan.