Kisah Poon Lim, Pelaut yang Bertahan Hidup 133 Hari Sendirian di Tengah Samudra Atlantik
Muhammad Fatoni August 06, 2026 04:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Bayangkan terapung sendirian di tengah laut lepas, tanpa radio, tanpa peta, dan tanpa kepastian kapan akan diselamatkan. 

Itulah yang dialami Poon Lim, pelaut asal China yang namanya kini tercatat sebagai pemegang rekor dunia untuk waktu bertahan hidup terlama sendirian di atas rakit penyelamat.

Berikut kisahnya.

Kapal Tenggelam dalam Dua Menit

Pada 23 November 1942, di tengah Perang Dunia II, kapal berbendera Inggris bernama SS Benlomond sedang berlayar dari Cape Town menuju Suriname. 

Kapal itu berada sekitar 1.200 kilometer dari pantai Brasil, kira-kira di seberang muara Sungai Amazon, ketika kapal selam U-Boat milik Jerman melepaskan sepasang torpedo.

Kapal itu tenggelam hanya dalam waktu dua menit. 

Dari 53 orang yang berada di atas kapal, Poon Lim menjadi satu-satunya yang berhasil selamat dari serangan mendadak tersebut.

Begitu kapal mulai tenggelam, Poon Lim segera meraih jaket pelampung dan melompat ke laut, tepat sebelum boiler kapal meledak. 

Setelah kurang lebih dua jam mengapung di air, ia menemukan sebuah rakit kayu kecil dan segera menaikinya.

Bekal Seadanya untuk Bertahan Berbulan-bulan

Di atas rakit itu, Poon Lim hanya punya perbekalan seadanya, beberapa kaleng biskuit, sebuah teko berisi sekitar empat puluh liter air, beberapa cokelat, sekarung gula, suar tanda bahaya, dan senter. 

Semua bekal itu harus cukup untuk waktu yang tidak bisa ia perkirakan.

Poon Lim tumbuh besar di sebuah desa nelayan dan belajar berenang sejak kecil. 

Pengalaman masa kecilnya bekerja di industri perikanan ternyata menjadi bekal yang menyelamatkan nyawanya di tengah lautan.

Ia mengumpulkan air hujan menggunakan pelampung rakit untuk menambah persediaan minum. 

Ketika bekal makanan mulai menipis, ia mulai menangkap ikan dan burung laut yang sesekali hinggap di rakitnya, bahkan dengan tangan kosong. 

Untuk mempermudah proses menangkap ikan, ia sampai membuat jala sederhana dari potongan kayu rakit dan bahan seadanya yang tersedia.

Baca juga: Mengapa Rusia dan Ukraina Berperang? Memahami Sejarah Konflik yang Telah Berlangsung Puluhan Tahun

Hari demi Hari di Tengah Ketidakpastian

Selama lebih dari empat bulan, Poon Lim menghadapi hari-hari yang nyaris tanpa harapan. 

Ia tidak punya cara untuk berkomunikasi dengan siapa pun, tidak tahu arah daratan terdekat, dan harus mengandalkan kemampuannya sendiri untuk tetap hidup di tengah cuaca laut yang berubah-ubah.

Setelah 133 hari terombang-ambing sendirian, ia akhirnya ditemukan oleh tiga nelayan Brasil di dekat muara sungai, sekitar 16 kilometer dari pantai. 

Saat ditemukan, berat badannya sudah berkurang sekitar sembilan kilogram, namun kondisinya masih cukup kuat sehingga ia bisa berjalan sendiri tanpa dipapah.

Penghargaan dan Kehidupan Setelah Selamat

Kisah keberhasilannya bertahan hidup membuat Poon Lim mendapat penghargaan British Empire Medal langsung dari Raja George VI di London pada Oktober 1943. 

Kisahnya bahkan dimasukkan ke dalam panduan bertahan hidup Angkatan Laut Kerajaan Inggris, dipelajari oleh generasi pelaut setelahnya.

Setelah perang usai, Poon Lim berusaha beremigrasi ke Amerika Serikat. 

Meski kuota imigran asal China saat itu sudah terpenuhi, berkat ketenarannya dan bantuan Senator Warren Magnuson, ia mendapat dispensasi khusus dan akhirnya menjadi warga negara Amerika Serikat.

Poon Lim meninggal dunia pada 4 Januari 1991 di Brooklyn, di usia 72 tahun. 

Rekornya sebagai manusia yang bertahan hidup paling lama sendirian di laut menggunakan rakit hingga kini belum pernah terpecahkan. 

Sebelum wafat, ia pernah berkata dengan rendah hati, "Semoga tak ada yang bisa memecahkan rekor itu," sebuah harapan yang sekaligus menggambarkan betapa beratnya pengalaman yang ia lalui selama lebih dari empat bulan di tengah lautan.

(MG Farhatiy Rijal)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.