Sosok dr Tamara yang Viral Hujat Pasien BPJS Sebelum Meninggal, Dipecat RS Pusri Usai Komen Nyinyir
Odi Aria August 07, 2026 11:27 AM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG– Nama dr. Tamara Dewi Jasmine menjadi sorotan publik setelah unggahannya di media sosial Threads terkait pelayanan pasien BPJS Kesehatan memicu polemik dan menuai kecaman luas.

Dokter yang berstatus sebagai mitra di RSU Pusri Palembang itu akhirnya diakhiri hubungan kerjanya oleh manajemen rumah sakit pada, Kamis (6/8/2026).

Pemecatan Dokter Tamara tersebut imbas komentar yang diunggah melalui akun Threads miliknya @tamdjs dinilai tidak mencerminkan empati terhadap pasien.

Kasus tersebut mencuat setelah almarhum Yurizal Tri Chaerawan, pasien BPJS Kesehatan, menjadi perbincangan terkait keluhan keluarga yang menyebut harus menunggu kamar rawat inap selama berjam-jam sebelum akhirnya meninggal dunia.

Di tengah polemik itu, komentar dr. Tamara yang menyebut pasien BPJS tidak berhak bersikap semena-mena kepada tenaga kesehatan memicu reaksi keras dari masyarakat.

Dalam unggahannya, ia menuliskan bahwa pasien hanya membayar iuran kepada BPJS, bukan kepada rumah sakit maupun tenaga kesehatan.

Unggahan tersebut kemudian viral dan menuai kritik karena dinilai tidak menunjukkan empati terhadap pasien dan keluarganya yang sedang berduka.

Dokter Baru di RS Pusri

Berdasarkan keterangan resmi manajemen RSU Pusri Palembang, dr. Tamara merupakan dokter mitra yang baru bergabung pada Mei 2026.

"Dokter yang bersangkutan merupakan dokter baru di RS Pusri terhitung sejak Mei 2026," tulis manajemen RS Pusri dalam keterangan resminya.

Dari rekam jejak profesionalnya di Linked in, Dokter Tamara merupakan alumni Universitas Negeri Jambi.

Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Pelayanan Medis dan Ketua Komite Mutu di RSIA Ibnu Sina Jakarta, dokter jaga IGD di RSUP Persahabatan, hingga dokter in-house clinic di kawasan industri Karawang.

Selain itu, ia diketahui berpraktik di The Fame Skin and Beauty Clinic Palembang.

Menanggapi polemik yang berkembang, RS Pusri Palembang melakukan pemeriksaan internal terhadap dr. Tamara.

Pada Kamis (6/8/2026), manajemen rumah sakit secara resmi mengumumkan pengakhiran kerja sama dengan dr. Tamara sebagai dokter mitra.

"Sebagai bagian dari mekanisme pembinaan dan penegakan tata kelola organisasi, manajemen RS Pusri telah melakukan pemanggilan kepada dokter yang bersangkutan. Manajemen kemudian memutuskan mengakhiri kerja sama dengan dr. @tamdjs sebagai dokter mitra RS Pusri," demikian pernyataan resmi RS Pusri.

Manajemen juga menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga almarhum Yurizal dan masyarakat. Rumah sakit menegaskan bahwa komentar yang viral tersebut merupakan pendapat pribadi dan tidak mencerminkan nilai-nilai pelayanan di RS Pusri.

Sampaikan Permohonan Maaf

Sebelum keputusan pemecatan diumumkan, dr. Tamara telah mengunggah klarifikasi dan permohonan maaf melalui akun Threads pribadinya.

Ia menyampaikan duka cita atas wafatnya almarhum Yurizal dan berdalih tidak bermaksud menyerang keluarga korban secara langsung.

Menurutnya, perselisihan antara pasien BPJS dan nakes kerap terjadi akibat kurangnya publikasi regulasi BPJS di masyarakat.

Ia menyebut nakes hanyalah pelaksana teknis di lapangan, bukan pembuat kebijakan.

Menyadari kekhilafannya yang menimbulkan polemik luas, dr. Tamara menyampaikan rasa penyesalan mendalam dan memohon ampunan secara beruntun kepada Tuhan, masyarakat, hingga institusi tempatnya bernaung.

Di sini saya mau meminta maaf. Yang pertama kepada Tuhan, saya mohon ampun atas dosa, salah, dan khilaf saya selama ini. Yang kedua, saya minta maaf kepada warga Threads atas tulisan saya yang menyinggung hati warga Threads," tutur dr. Tamara dalam video unggahannya, dikutip Kamis (6/8/2026).

Tidak berhenti di situ, ia juga melayangkan permohonan maaf secara luas kepada seluruh masyarakat Indonesia dan institusi terkait yang merasa dirugikan atas kelalaiannya dalam bermedia sosial.

"Yang ketiga, saya minta maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia. Yang keempat, saya minta maaf kepada institusi yang saya singgung, saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Yang kelima, karena yang saya tulis adalah murni dari diri saya sendiri, maka dari itu saya memohon maaf kepada keluarga, kerabat, dan rekan-rekan saya serta institusi yang menaungi saya. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena hal itu mereka jadi terdampak," lanjutnya.

Di akhir permohonan maafnya, dr. Tamara menegaskan bahwa peristiwa pahit ini menjadi ikhtiar dan pelajaran berharga untuk introspeksi diri ke depan.

"Hal ini menjadi pembelajaran untuk saya, dan insyaallah akan menjadi perbaikan untuk saya kedepannya. Terima kasih, Wassalamu'alaikum wr. wb.," tutupnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.