Strategi Singapura Dalam Menavigasi Pengaruh AS–Tiongkok  di Kawasan Asia Tenggara
Mirna Tribun August 07, 2026 11:27 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Singapura yang merupakan salah satu negara maju di ASEAN, terkenal dengan sumber daya manusianya yang cerdas dan terampil serta letaknya yang strategis di jalur pelayaran internasional kini menghadapi tantangan di tengah memanasnya persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. 

Selain itu, Singapura menghadapi tantangan dari Indonesia yaitu pengembangan infrastruktur dan logistik serta kawasan ekonomi baru yang kian gencar di beberapa daerah, salah satunya yaitu Pelabuhan Kijing di Kalimantan Barat yang dirancang menjadi salah satu hub logistik modern untuk menampung arus perdagangan internasional di Alur Kepulauan Indonesia (ALKI) I.

Dari kondisi geopolitik yang dihadapi oleh Singapura, membuatnya terjepit dan memaksanya harus memainkan strategi diplomasi dan kebijakan politik luar negeri yang lebih adaptif.

Singapura dituntut untuk piawai dalam berjalan di atas tali diplomasi sebagai benteng keamanan dan investasi bagi kekuatan Barat sembari membuka kesempatan bagi investasi modal dari Tiongkok.

Kondisi ini, membuat Singapura menjadi dilema dan menuntutnya untuk terus memformulasi ulang peta jalan kebijakan luar negeri dan ekonomi agar tidak menuju kegelapan yang diakibatkan oleh polarisasi global dan pergeseran kekuatan regional.

Tekanan yang datang terhadap Singapura tidak hanya berasal dari gesekan pengaruh dua raksasa dunia, tetapi juga dari reposisi logistik negara di kawasan Asia Tenggara khususnya dari Indonesia.

Gesekan pengaruh dua raksasa negara tersebut berupa perebutan dominasi rantai pasok global, perang tarif, serta pembatasan teknologi tinggi yang memaksa banyak korporasi multinasional melakukan friend-shoring atau merelokasi investasi ke negara ketiga yang menjadi titik-titik simpul logistik di kawasan Asia Tenggara.

Disaat yang sama, kehadiran Pelabuhan Kijing di Kalimantan Barat di ALKI I mulai memecah konsentrasi jalur transit maritim yang selama ini terpusat di Selat Singapura.

Untuk mempertahankan hegemoninya, Singapura dapat memformulasikan kebijakan luar negerinya yang baru dan mengkhususnya perannya di Kawasan Asia Tenggara sebagai poros kapital/modal di kawasan Asia Tenggara dan membentuk kerja sama bilateral baru dengan negara-negara di sekitar kawasan Asia Tenggara seperti Australia dan Selandia Baru.

Langkah ini memungkinkan Singapura bertransformasi dari sekadar transit barang maritim konvensional menjadi pusat finansial (financial hub) bagi negara-negara Barat dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, pengendali aset, dan penyedia pembiayaan bagi proyek-proyek infrastruktur hijau serta inovasi teknologi tinggi di kawasan Pasifik Selatan, Asia Timur dan Asia Tenggara.

Reposisi peran Singapura menegaskan bahwa keunggulan geografis yang dimiliki oleh Singapura harus ditopang oleh keandalan finansial dan fleksibilitas diplomasi.

Melalui pemosisian sebagai poros kapital dan kemitraan bilateral dengan negara-negara seperti Australia dan Selandia Baru maka dapat dipastikan Singapura tetap memgang kendali atas arus investasi serta menjaga stabilitas pertumbuhannya di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Untuk semakin memperkuat posisinya, Singapura dapat menjalankan tiga pilar sebagai tindakan strategis yaitu: 

1.Pusat Pengendali Modal (Capital & Save Heaven Hub) 

Singapura dapat mengamankan posisinya sebagai destinasi utama pengelola aset dan modal untuk meredakan ketegangan akibat gesekan Barat dan Tiongkok.

2.  Membentuk aliansi modal regional

Alih-alih bersaing secara ketat dengan Indonesia, Singapura dapat menempatkan modalnya untuk mendukung jaringan dan infrastruktur logistik di titik-titik simpul logistik di kawasan Asia Tenggara khususnya di Indonesia.

3. Kemitraan Bilateral

Singapura dapat memperkuat kemitraan secara bilateral dengan negara-negara seperti Australia dan Selandia baru dalam bidang seperti keamanan siber, transisi energi dan kerja sama ekonomi hijau dan menjadi salah satu bagian dari rantai pasok global industri vital di kawasan Asia Tenggara.

Arah kebijakan baru ini sebagai tanda babak baru bagi keberlangsungan politik-ekonomi negara Singapura yang mengintegrasikan kekuatan finansial dan memperkuat kemitraan bilateral dengan negara-negara yang sejajar seperti Australia dan Selandia Baru. 

Melalui kombinasi ketangguhan modal, inovasi teknologi yang tinggi, serta kelincahan dalam diplomasi, Singapura menegaskan bahwa posisinya tidak akan mudah tergoyahkan di kawasan Asia Tenggara meskipun posisinya dalam keadaan terjepit akibat tekanan dari pengaruh AS-Tiongkok di kawasan Asia Tenggara serta dampak yang diakibatkan dari reposisi simpul logistik yang dilakukan oleh Indonesia.

Pada akhirnya, keberhasilan Singapura dalam menavigasi pengaruh AS-Tiongkok tidak lagi ditentukan oleh posisi startegis yang dimilikinya atau kejayaan jalur transit semata yakni Selat Singapura, namun kelincahan diplomasinya dalam merajut kemitraan bilateral serta kemampuannya bertransformasi menjadi pusat kendali modal serta inovasi tekonologi yang tak tergantikan di kawasan Asia Tenggara.

Penulis: Posmanto Marbun, S.IP., M.A.
Dosen PPPK dari Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Tanjungpura.

Posmanto Marbun, S.IP., M.A. Dosen PPPK dari Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Tanjungpura.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.