Tribunlampung.co.id, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sangat berang saat mendengar penemuan 995 senjata, narkoba, dan sejumlah barang lainnya di sebuah sekolah swasta di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Ia pun mendukung Polda Metro Jaya untuk menindak tegas kasus tersebut.
Berikut sejumlah data dan fakta menarik di balik penemuan senjata tersebut.
Diketahui, selain 995 pucuk senjata, juga ditemukan narkoba dan sejumlah barang lainnya di sebuah sekolah swasta di Kebayoran Lama, Jumat (10/7/2026).
Pihak yayasan menduga seluruh barang tersebut merupakan milik mantan ketua yayasan berinisial IWD yang sudah diberhentikan pada April 2026.
Sementara itu, IWD menyatakan bahwa barang yang disimpannya di sekolah hanya berupa 995 airsoft gun yang rencananya digunakan untuk kegiatan ekstrakurikuler menembak.
Pramono menegaskan, Pemprov DKI Jakarta memberikan dukungan penuh kepada aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus tersebut.
"Pemerintah DKI memberikan support sepenuhnya untuk diambil tindakan yang setegas-tegasnya untuk persoalan ini. Karena apa pun di dunia pendidikan yang seperti ini tidak boleh terjadi," ujar Pramono saat ditemui di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Menurut Pramono, keberadaan barang-barang tersebut di lingkungan sekolah merupakan hal yang tidak dapat dibenarkan. Ia juga menilai yayasan telah memberikan contoh yang buruk, meski pihak yang diduga terkait sudah diberhentikan.
"Singkat aja, sangat tidak boleh. Dan yayasan ini benar-benar memberikan contoh yang tidak baik, walaupun yang bersangkutan sudah dipecat dari yayasan yang ada," kata dia.
Pramono mengatakan, proses hukum kini sepenuhnya ditangani aparat penegak hukum. Menurut dia, polisi telah turun ke lokasi, mengamankan barang bukti, dan membawanya ke Polda Metro Jaya untuk penyelidikan lebih lanjut.
Ia kembali menegaskan lingkungan pendidikan harus terbebas dari hal-hal semacam itu. "Karena apa pun di dunia pendidikan yang seperti ini tidak boleh terjadi," tegasnya.
Kasi Humas Polres Jakarta Selatan, AKP Joko Adi Wibowo, mengatakan, saat ini penyidik masih mengumpulkan keterangan dari pihak yayasan terkait temuan tersebut.
“Dugaannya seperti itu (senpi milik eks ketua yayasan) dan tentunya akan kami undang, yang disebutkan yayasan ada kaitannya dengan pengurus lama, itu menjadi poin dalam pemeriksaan nanti,” kata Joko saat ditemui di Mapolres Jakarta Selatan, Jumat (7/8/2026).
Nantinya, penyelidik akan meminta klarifikasi dari IWD terkait klaim kepemilikan senjata, termasuk legalitas kepemilikan air soft gun tersebut. Selain itu, penyidik juga akan mendalami dugaan adanya sengketa antara kepengurusan yayasan lama dan baru.
“Nah yang seperti itu nanti kami dalami lagi. Makanya kami berawal dari pihak yayasan keterangannya nanti apa penjelasan yayasan tentunya di situ akan berkembang nanti,” jelas Joko.
Joko merinci, dari gudang sekolah ditemukan 776 unit revolver airsoft gun, 215 unit pistol airsoft gun, serta empat pucuk senjata angin. Selain itu, polisi juga menemukan sejumlah senjata api di dalam gudang tersebut, di antaranya satu pucuk senpi Francispa dan empat pucuk senjata laras panjang pabrikan.
Saat ini, sebanyak 995 air soft gun tersebut telah dititipkan ke Unit Pengawasan Senjata Api dan Bahan Peledak (Wasendak) Polda Metro Jaya. Sementara senjata api yang ditemukan masih dalam pemeriksaan Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan.
Ada Bungker
Staf Ahli Ketua Pembina Yayasan, Untung Sangaji, mengatakan, penemuan ini bermula saat pihaknya hendak membuka sebuah ruangan yang terkunci rapat. Saat dibuka, ditemukan ratusan senjata.
Pihak sekolah langsung memanggil kepolisian. Saat itu, polisi langsung membuat laporan polisi model A untuk penyelidikan. Oleh karena temuan tersebut, pihak sekolah kembali memanggil polisi pada Rabu (5/8/2026) untuk membuka ruangan lainnya.
“Namun, tiba-tiba ketika kita membuka (ruangan) untuk kepentingan sekolah ini, kita temukan peralatan yang disebut senjata. Air gun yang bisa membunuh karena larasnya itu polos tidak ada alur," jelas Untung saat ditemui di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Kamis (6/8/2026).
Di sana, ditemukan lagi 4 senjata laras panjang, 2 senjata laras pendek, peredam, 7 magasin, amunisi dengan berbagai kaliber, beberapa air soft gun, taser gun, alat pembuat peluru, buku panduan pembuatan peluru, serta aksesori senjata. Turut ditemukan satu kotak berisi 25 VCD porno, dua linting ganja, dan satu plastik klip kecil sabu.
"Dan alat pembuat peluru yang sangat dilarang. Alat pembuat peluru, kok bisa ada di lingkungan sekolah ini? Kenapa di sekolah yang sangat kita hormati ini ada orang yang diam-diam melakukan kegiatannya di situ?" tutur Untung.
Menurut pengacara yayasan, Hermawanto, terdapat ruangan lain yang diduga menyerupai bungker di bawah bangunan sekolah. Menurut yayasan, bungker tersebut diduga kuat dibuat oleh mantan ketua yayasan, IWD. “Lalu dia buat bungker di sekolah, ruang tersembunyi di bawah tanah,” kata Hermawanto.
Bungker tersebut juga terkunci, seperti ruangan lainnya. Menurut yayasan, bungker dan ruangan terkunci lainnya hanya bisa diakses IWD dan stafnya yang sudah tidak bekerja lagi di sana. Semua kunci pun turut dibawa.
Mereka menduga bungker tersebut difungsikan untuk menyimpan lebih banyak barang ilegal. “Ada pintu belakang masuk, debarkasi-embarkasi barang yang berbahaya di situ bisa dia lakukan diam-diam di belakang,” tutur Hermawanto.
Oleh karena itu, mereka meminta kepolisian menanggapi temuan ini secara serius dan segera menyelidiki lebih dalam.
“Masih ada satu ruangan seperti bungker yang itu semua terkunci rapat, kami tidak bisa masuk ke sana. Kami juga akan meminta kepada aparat untuk tolong bantu kami untuk membuka ruangan ini,” tutur dia.
Sebab, pihaknya sangat menyayangkan temuan tersebut terjadi di tempat anak-anak menimba ilmu. Hermawanto juga menuturkan bahwa pada April 2026, IWD dipecat dari jabatannya sebagai kepala yayasan karena diduga menggelapkan dana sekolah. Dia disebut-sebut menggunakan uang yayasan untuk membeli tanah atas nama istrinya.
“Jadi alasan dipecat itu adalah karena ditemukan adanya indikasi penyalahgunaan keuangan yayasan untuk kepentingan pribadi,” ungkap Hermawanto.
Latihan Menembak
Pengacara IWD, Alhadid Endar Putra, mengatakan, 995 pucuk airsoft gun tersebut bukan merupakan senjata api. Dia menegaskan, pihaknya tidak memiliki dan menyimpan senjata api lain yang ditemukan di ruang kerja yang ditempati IWD sebelumnya.
Ratusan airsoft gun sebelumnya dibeli oleh PT Lokta Karya Persatuan Berburu dan Tembak Seluruh Indonesia (Perbakin) pada 2008. “Total 995 merupakan airsoft gun yang legal. Perihal senapan api, apabila ada, bukan milik PT Lokta Karya Perbakin,” ungkap Alhadid, Kamis (6/8/2026).
Airsoft gun yang kini sudah tak berfungsi lagi itu diklaim sudah mengantongi izin dari Badan Intelijen dan Keamanan (Baintelkam) Mabes Polri. Saat itu, airsoft gun dibeli untuk menunjang pelatihan atlet menembak dalam persiapan mengikuti Southeast Asian Shooting Association (SEASA) Championship.
Pada 2021, airsoft gun diserahkan ke pihak yayasan dalam kerja sama membentuk ekstrakurikuler menembak di sekolah. “Ya sudah pakai stok itu saja. Daripada itu enggak dipakai juga. Tapi sampai saat ini barang itu sudah kelamaan jadi enggak bisa digunakan lagi,” jelas dia.
Namun, pembina dan penanggung jawab ekstrakurikuler meninggal dunia, sehingga belum ada kepastian lagi terkait pembentukan ekstrakurikuler tersebut. Semua airsoft gun pun disimpan ke dalam gudang yang tidak dapat diakses oleh murid.
Alhadid mengatakan, gudang juga selalu dijaga agar tidak ada pihak yang tidak berkepentingan masuk ke dalamnya.
“Murid-murid berada di gedung utama, sehingga arus lalu lalang pada gudang dibatasi, gudang selalu terkunci dengan baik dan selalu ada staf kami,” kata dia.
Menurut Alhadid, temuan senjata api yang diungkap pihak yayasan diduga hanya rekayasa. Sebab, keberadaan airsoft gun disebut sudah diketahui pihak sekolah sejak awal.
IWD juga disebut tidak pernah mengunci ruangan sekolah dan membawa serta kuncinya setelah dilepaskan dari jabatannya sejak April lalu. Termasuk temuan narkotika jenis sabu dan ganja serta 25 VCD porno di ruangan yang sedianya ditempati IWD.
“Ini kan sudah tahu mereka di sekolah ini. Bahkan saya dapat informasi ini setting-an semua jadinya pemeriksaan dan lain sebagainya,” kata dia.