Laporan Wartawan TribunMadura.com, Ahmad Faisol
TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN - Baru-baru ini, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dirjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri mencatat, dua penduduk tertua Indonesia berada di Pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Bangkalan berusia 118 tahun dan di Pamekasan berusia 117 tahun.
Namun ternyata masih ada yang lebih tua, yakni Siti Khodijah, warga Desa Lajing, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan, yang berusia 120 tahun.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Bangkalan, Bambang Setiawan, mengungkapkan, munculnya nama Siti Khodijah belakang ini karena baru masuk Data Kependudukan Bersih (DKB) pada Juli 2026.
Sementara ibu berusia 117 tahun, yakni Maryam, warga Desa Durjan, Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan, masuk DKB tahun 2025 semester II.
"Ternyata staf kami memantau ada yang lebih tua dari Ibu Maryam, yaitu Siti Khodijah yang berusia 120 tahun, beliau kelahiran 12 Februari 1906. Mungkin pada DKB 2026 semester II nanti, Ibu Maryam dan Ibu Khodijah menjadi dua penduduk tertua di Indonesia," ungkap Bambang, Jumat (7/8/2026).
Bambang bersama unsur Muspika Arosbaya didampingi Kepala Desa Lajing sempat berkunjung ke rumah Siti Khodijah pada Kamis (6/8/2026).
Baca juga: Kebakaran Rumah di Jombang, Nenek 75 Tahun Kehilangan Segalanya Diduga Akibat Bara Api Tungku Kayu
Mereka disambut menantu pertama Siti Khodijah, yakni Usman yang usianya sudah menapaki 94 tahun.
Sementara Siti Khodijah terbaring di kamar tidurnya karena keterbatasan indra penghilatan, namun tidak dengan indra pendengarnya.
"Ini membuktikan bahwa masyarakat Madura banyak yang berusia tua. Apa resepnya? Beliau tadi tidak menyampaikan, namun memang kehidupannya sederhana," pungkas Bambang.
Kisah hidup Siti Khodijah hingga lima generasi disampaikan secara singkat oleh Usman dan anaknya, Abdul Halim yang sudah berusia 40 tahun.
Usman mempersunting anak sulung dari Siti Khodijah, yakni Hafizah atau Hotijah yang kini sudah berusia 83 tahun.
Hotijah memiliki lima saudara, namun tiga di antaranya telah berpulang terlebih dahulu.
Baca juga: Pilu Nenek Sukimah di Bojonegoro, Niat Berhaji Malah Kena Tipu, Emas 34 Gram Lenyap
"Tidak mengonsumsi jamu. Hanya saja kami sebagai keluarga petani senang mengonsumi sayuran, daun kelor salah satunya. Saya sering ke sawah sampai sekarang, masih mencangkul tapi memang tidak sekuat dulu," ujar Usman.
Sementara Abdul Halim menambahkan, Siti Khodijah berlatar seorang petani dan mulai tidak mampu berdiri sejak sekitar 10 tahun yang lalu atau saat usianya menapaki 110 tahun.
Meski demikian, daya ingat Siti Khodijah disebutnya masih normal, meski terkadang mulai lupa tentang beberapa hal.
"Untuk ibadah salat saya ingatkan, Semisal ketika memasuki waktu salat Asar, saya sampaikan dan beliau langsung salat dengan posisi duduk, masih bisa menghafal bacaan takbir sampai selesai salat," jelas Halim.
Baca juga: Sedang Santai di Teras, Kakek di Lamongan Tiba-tiba Dipukul Tetangga karena Tuduhan Guna-guna
Ia menambahkan, Khodijah dalam mengonsumsi nasi lebih suka yang disajikan ketika hangat, karena tekstur nasi masih lemas karena dirasa lebih nyaman bagi sistem pencernaan tubuhnya.
"Nenek ketika masih sehat, sangat aktif ketika di pagi hari. Selepas salat Subuh atau ketika masih suasana gelap, menyapu pekarangan rumah. Ibu saya (Hafizah) sudah berusia sekitar 80an, juga adik dari ibu atau bibi saya berusia sekitar 70an," pungkas Halim yang merawat Siti Khodijah.