Dampak El Nino, Petani Seledri di Tondano Minahasa Siram Tanaman Tiga Kali Sehari
Rizali Posumah August 07, 2026 09:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO -- Cuaca panas dampak el nino sangat dirasakan oleh petani hortikultura di Minahasa.

Termasuk petani seledri di wilayah Kembuan, Tondano Utara, Minahasa, Sulawesi Utara.

Dijumpai saat menyiram tanaman seledri pada Kamis 7 Agustus 2026, Herman Rahmola mengaku kini menyiram tanamannya tiga kali sehari.

"Biasanya hanya dua kali, sekarang sudah tiga kali, pagi, siang, dan sore hari, lantaran cuaca panas," katanya.

Sebab jika tidak disiram, tanaman seledrinya akan layu dan menjadi kekuningan, akan membuat kualitasnya menurun.

"Tanaman ini harus dirawat dengan baik, harus rutin disiram, kalau tidak cepat layu dan rusak," katanya.

Katanya, meski sudah disiram tiga kali sehari tetap saja ada tanaman seledrinya yang kering.

"Banyak sekali air yang digunakan intuk menyiram tanama seledri, lihat saja baru disiram, sudah kering lagi," jelasnya.

Peringatan dari BMKG

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini puncak musim kemarau disertai El Nino di Sulawesi Utara (Sulut).

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara, Aris Yunatas mengungkapkan, Bulan Agustus merupakan awal puncak musim kemarau yang sudah berlangsung sejak Mei. 

Musim kemarau 'diperparah' karena diiringi fenomena alam El Nino yang memasuki fase sangat kuat pada Bulan Agustus hingga Oktober. 

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mengurangi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, sehingga musim kemarau cenderung lebih kering dan lebih panjang.

Dampak El Nino dapat meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, berkurangnya ketersediaan air bersih, serta penurunan hasil pertanian akibat minimnya curah hujan.

BMKG mengelompokkan El Ninoo berdasarkan tingkat kekuatannya. 

"Kondisi yang terjadi saat ini perlu mendapatkan perhatian semua pihak karena musim kemarau yang disertai El Nino. Karena itu kemarau bakal lebih panjang dan berdampak kekeringan," kata Aris saat pemaparan antisipasi dampak bencana hidrometrologi di musim kemarau - El Nino 2026 di BMKG Stasiun Klimatologi Sulut, Paniki Atas, Kecamatan Talawaan, Minahasa Utara, Rabu 5 Agustus 2026.

Dijelaskannya, fenomena El Nino yang sangat kuat bersamaan dengan musim Kemarau mennyebabkan hari tanpa hujan semakin panjang

BMKG memprediksikan semua wilayah Sulawesi Utara tidak akan mengalami hujan selang Agustus hingga September. 

"Kemungkinan hujan baru terjadi pada Bulan Oktober seiring berakhirnya musim kemarau. Meskipun demikian bisa bergeser karena masih ada El Nino," katanya lagi. 

Berdasarkan pengamatan, puncak kemarau di Sulawesi Utara berbeda berdasar zona musim. 

Di mana, puncak kemarau wilayah Minahasa raya dan sebagian kepulauan pada Agustus. Sementara, puncak kemarau di Bolmong raya nanti pada Bulan September. 

"Puncak kemarau, tidak ada hujan dengan tingkat curah hujan nol hingga 20 milimeter per bulan," jelasnya. 

Lanjutnya, berdasarkan pengamatan sepanjang Juli sebagian besar wilayah Sulut tidak mengalami hujan hampir satu bulan. 

Menurutnya, fenomena El Nino kategori sangat kuat saat ini berdampak lebih besar dan punya potensi lebih besar dibanding El Nino tahun 2023 dengan kategori kuat. 

Pertemuan ini dihadiri Kepala Dinas Kehutanan Sulut, Rayner Dondokambey; Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sulut, Sigit Purnomo sebagai Koordinator BMKG Sulut, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Wilayah Sulawesi - Seksi Wilayah III Manado, Hambali Mokoagow, perwakilan BPBD Sulut serta dinas dan badan terkait. (Ndo/Amg)

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.