Ponorogo Street Fashion Festival Ubah Alun-Alun Jadi Runway Spektakuler
Pipit Maulidya August 08, 2026 12:05 AM

 

SURYA.CO.ID - Aspal di kawasan Alun-Alun Utara Ponorogo mendadak berubah fungsi menjadi panggung mode kelas atas pada Kamis malam (6/8/2026).

Ribuan pasang mata menjadi saksi bagaimana Ponorogo Street Fashion Festival menyulap wajah kota menjadi pusat kreativitas dalam balutan perayaan Hari Jadi ke-530 Kabupaten Ponorogo.

Bukan sekadar peragaan busana biasa, ajang ini merupakan bagian dari Ponorogo Creative Festival yang menegaskan posisi kabupaten ini sebagai pemain penting dalam peta ekonomi kreatif nasional.

Baca juga: Korupsi DPRD Ponorogo: NasDem Kembalikan Rp748 Juta ke Kejari

Langkah Cilik yang Mencuri Perhatian

Sisi unik dari festival kali ini adalah keberanian para desainer dalam memadukan warisan budaya dengan tren modern.

Pantauan di lapangan menunjukkan ratusan model dari berbagai lintas usia unjuk gigi. Menariknya, sorotan tak hanya tertuju pada model profesional dewasa, namun juga pada deretan model cilik usia Taman Kanak-kanak (TK).

Meski masih sangat belia, kepercayaan diri mereka saat berlenggak-lenggok mengenakan kostum karnaval spektakuler berhasil mengocok perut sekaligus mengundang decak kagum warga.

Koreografi yang apik dipadukan dengan busana eksploratif menjadikan jalanan depan Paseban layaknya catwalk internasional.

Fashion Sebagai Mesin Ekonomi Baru

Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, yang akrab disapa Bunda Lisdyarita, menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar hiburan. Baginya, fashion adalah instrumen penggerak roda ekonomi yang nyata.

“Kita ketahui bersama bahwa sektor fashion merupakan salah satu dari ekraf yang memiliki potensi ekonomi yang besar,” ungkap Lisdyarita saat memberikan sambutan di lokasi acara.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa industri ini memiliki efek domino yang positif bagi masyarakat. “Sektor ini mampu membuka lapangan kerja, menggerakkan usaha, menciptakan nilai tambah, sekaligus mengangkat identitas daerah,” tambahnya.

Tuntutan Sebagai Kota Kreatif UNESCO

Keberlanjutan acara semacam ini menjadi krusial mengingat status Ponorogo yang telah masuk dalam jejaring Kota Kreatif UNESCO.

Lisdyarita menekankan bahwa status tersebut menuntut Ponorogo untuk terus berinovasi dan tidak terjebak dalam zona nyaman.

“Dan kita, Ponorogo, yang telah menjadi bagian dari jejaring Kota Kreatif UNESCO, tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk menguatkan setiap potensi ekonomi kreatif yang kita miliki. Fashion salah satunya,” tegasnya.

Ia pun berpesan agar para kreator lokal berani mendobrak batas-batas konvensional. “Sebab, fashion adalah industri yang tumbuh dari perubahan, dari gagasan, dan dari keberanian untuk mengeksplorasi hal baru,” urai Bunda Lisdyarita.

Festival ini diharapkan menjadi pematik bagi para desainer lokal untuk terus melahirkan karya yang memiliki kedalaman makna, bukan sekadar mengikuti tren sesaat, melainkan membawa identitas kuat Bumi Reog ke kancah global.

Bukti Nyata Kreativitas Ponorogo

Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, menyatakan kebanggaannya atas antusiasme peserta. Menurutnya, festival ini adalah cerminan jati diri masyarakat setempat.

"Ponorogo sebagai kota kreatif tentu harus kreatif. Dan ini buktinya di Street Fashion Festival,” pungkas Judha singkat namun penuh penekanan.

Melalui Street Fashion Festival ini, Ponorogo membuktikan bahwa tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan di atas catwalk, menciptakan narasi baru tentang masa depan fashion yang berakar pada lokalitas namun berorientasi global.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.