Banyak Pemain Diaspora, Kenapa Timnas Indonesia Tetap Gagal di Piala AFF 2026?
Hari Susmayanti August 08, 2026 01:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Timnas Indonesia datang ke Piala AFF 2026 dengan skuad yang di atas kertas terlihat semakin kuat.

Banyak pemain diaspora yang berkarier di luar negeri, termasuk sejumlah nama yang sudah terbiasa bermain di kompetisi dengan level lebih tinggi.

Namun, kualitas di atas kertas ternyata belum cukup untuk membawa Indonesia melangkah jauh.

Indonesia harus mengakhiri perjalanan di fase grup setelah bermain imbang 1-1 melawan Singapura pada laga terakhir Grup A di Stadion Jalan Besar, Jumat (7/8/2026) malam.

Ragnar Oratmangoen sempat membawa Indonesia unggul, tetapi Singapura menyamakan kedudukan melalui Ilhan Fandi.

Hasil tersebut membuat Indonesia gagal melaju ke semifinal, meski memiliki banyak pemain dengan pengalaman bermain di luar negeri.

Lalu, kenapa skuad yang terlihat kuat di atas kertas masih kesulitan bersaing di lapangan?

John Herdman Belum Menemukan Formula yang Tepat

Kualitas pemain yang dimiliki Indonesia memang meningkat, tetapi tugas pelatih justru menjadi semakin rumit.

John Herdman harus menemukan cara agar pemain dengan latar belakang klub, karakter, dan pengalaman yang berbeda bisa bermain dalam satu sistem yang jelas.

Masalahnya, kualitas individu belum selalu terlihat dalam permainan Indonesia.

Tim masih kesulitan menunjukkan pola yang konsisten, terutama ketika harus membangun serangan, merespons tekanan lawan, dan mempertahankan keunggulan.

Ini membuat pertanyaan tentang Herdman menjadi relevan.

Pelatih asal Kanada itu memiliki pengalaman panjang di level internasional, tetapi membangun tim dengan komposisi seperti Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar memasang pemain terbaik di setiap posisi.

Yang dibutuhkan adalah sistem yang membuat pemain tahu kapan harus menekan, bagaimana keluar dari tekanan, siapa yang menjadi penghubung antarlini, dan seperti apa pola serangan ketika menghadapi lawan yang bertahan rendah.

Kekalahan 0-3 dari Vietnam dan hasil imbang 1-1 melawan Singapura menunjukkan bahwa Indonesia belum konsisten menerjemahkan kualitas skuad ke dalam permainan.

Dengan materi pemain yang semakin kuat, pekerjaan Herdman berikutnya justru bukan mencari pemain yang lebih bagus, melainkan menemukan formula permainan yang bisa membuat mereka bekerja sebagai sebuah tim.

Lawan-Lawan di Asia Tenggara Juga Ikut Berbenah

Ada anggapan bahwa kualitas skuad Indonesia sekarang seharusnya membuat mereka relatif mudah melewati persaingan Asia Tenggara.

Masalahnya, negara-negara lain tidak diam.

Vietnam dan Singapura juga terus membangun tim mereka dengan cara masing-masing, termasuk memanfaatkan pemain naturalisasi dan pemain yang memiliki pengalaman di luar negeri.

Artinya, keunggulan Indonesia dalam kualitas individu tidak berdiri sendiri. Negara-negara lain juga terus mencari cara untuk mempersempit jarak.

Persaingan Piala AFF pun akhirnya menjadi semakin ketat. Nama besar pemain dan pengalaman bermain di liga luar negeri tetap penting, tetapi tidak otomatis membuat sebuah tim selalu lebih unggul dari lawannya.

Momen Kecil Bisa Mengubah Hasil Besar

Pertandingan melawan Singapura menjadi contoh paling jelas.

Indonesia sebenarnya mampu mencetak gol lebih dulu melalui Ragnar Oratmangoen pada awal babak kedua.

Namun, keunggulan tersebut hanya bertahan sekitar 19 menit sebelum Ilhan Fandi menyamakan kedudukan.

Setelah itu, Indonesia tidak berhasil mendapatkan gol kedua yang sangat dibutuhkan.

Situasi seperti ini sering menjadi pembeda dalam sepak bola.

Tim dengan pemain berkualitas tetap harus mampu menjaga keunggulan, mengontrol pertandingan setelah mencetak gol, dan memaksimalkan peluang ketika kesempatan datang.

Kualitas pemain bisa membantu menciptakan peluang tersebut. Tetapi keputusan, konsentrasi, dan ketenangan dalam beberapa menit krusial tetap menentukan hasil akhirnya.

Indonesia Sudah Berada di Posisi yang Sulit Sejak Awal

Kondisi klasemen sebelum pertandingan terakhir juga membuat situasi Indonesia semakin berat.

Setelah kalah 0-3 dari Vietnam pada pertandingan sebelumnya, Indonesia wajib menang atas Singapura untuk menjaga peluang lolos. Sebaliknya, Singapura hanya membutuhkan hasil imbang untuk mengamankan tiket ke semifinal.

Perbedaan kebutuhan itu membuat kedua tim memasuki pertandingan dengan pendekatan yang berbeda.

Indonesia harus lebih agresif karena membutuhkan kemenangan.

Singapura bisa bermain lebih sabar, menjaga struktur pertahanan, dan menunggu kesempatan untuk melakukan serangan balik.

Keuntungan seperti ini tidak terlihat dalam daftar nama pemain, tetapi bisa sangat menentukan jalannya pertandingan.

Bukan Berarti Proyek Diaspora Gagal

Kegagalan di Piala AFF 2026 tidak otomatis membuktikan bahwa proyek pemain diaspora Indonesia merupakan kesalahan.

Kualitas individu yang semakin tinggi tetap memberi Indonesia modal yang sebelumnya tidak selalu dimiliki.

Persoalannya adalah bagaimana kualitas tersebut diubah menjadi kekuatan tim.

Indonesia sekarang memiliki pemain dengan pengalaman bermain di berbagai kompetisi.

Tantangannya bukan lagi sekadar mencari pemain yang lebih bagus, tetapi membangun sistem yang membuat mereka bisa bermain sebagai satu kesatuan.

Itulah pekerjaan yang jauh lebih sulit.

Di level klub misalnya, pemain bagus bisa didatangkan dalam satu atau dua jendela transfer. 

Namun, chemistry, pola permainan, koordinasi, dan mental bertanding harus dibangun melalui latihan dan pertandingan yang terus-menerus.

Kegagalan Indonesia di Piala AFF 2026 akhirnya menjadi pengingat bahwa sepak bola tidak pernah sesederhana mengumpulkan pemain terbaik.

(MG Farhatiy Rijal)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.