Serangan Houthi Tewaskan 30 Tentara Yaman, Perang Besar di Marib dan Hadramout di Ambang Pecah
Nurul Hayati August 08, 2026 04:03 PM

Serangan Houthi Tewaskan 30 Tentara Yaman, Perang Besar di Marib dan Hadramout di Ambang Pecah

SERAMBINEWS.COM – Situasi keamanan di Yaman kembali memanas setelah kelompok Houthi melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone terhadap lokasi militer pasukan pemerintah.

Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 30 tentara pemerintah dan melukai 15 orang lainnya.

Serangan yang terjadi pada Kamis itu menjadi salah satu serangan paling serius terhadap pasukan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.

Dikutip Serambinews melalui Al Jazeera, Sabtu (8/8/2026), serangan Houthi menyasar sejumlah kamp militer dan pertemuan pasukan pemerintah di wilayah Hadramout dan Marib.

Serangan tersebut dinilai menjadi tanda meningkatnya kembali ketegangan antara Houthi dan pemerintah Yaman.

Para analis bahkan memperingatkan bahwa konflik tersebut berpotensi berkembang menjadi perang terbuka dalam skala besar.

Baca juga: Trump Klaim Perang dengan Iran Segera Berakhir, Sebut Diplomasi Masih Jadi Pilihan Utama

Houthi Klaim Serangan Balasan

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan serangan tersebut dilakukan setelah kelompoknya mendeteksi adanya mobilisasi militer besar-besaran oleh Arab Saudi.

Menurut Saree, mobilisasi tersebut bertujuan meningkatkan eskalasi militer di Yaman.

Ia mengklaim serangan Houthi menyebabkan "ratusan" korban dan menghancurkan sejumlah kamp serta gudang militer.

Namun, klaim mengenai jumlah korban yang lebih besar tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Houthi juga menyatakan telah meningkatkan kesiagaan terhadap kemungkinan serangan balasan dari pasukan pemerintah dan sekutunya.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang telah bertahan selama beberapa tahun dapat runtuh.

Baca juga: Video - Iran Habisi 500 Tentara AS hingga Markas Militer Trump Meledak Dahsyat Diserang IRGC

Konflik Yaman Kembali Memanas

Konflik antara Houthi dan pemerintah Yaman telah berlangsung sejak kelompok tersebut bersama sekutunya merebut ibu kota Sanaa pada September 2014.

Arab Saudi kemudian memimpin koalisi militer yang melakukan intervensi pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman.

Pertempuran besar kemudian mereda setelah pihak-pihak yang bertikai mencapai gencatan senjata yang disponsori Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada April 2022.

Namun, gencatan senjata tersebut tidak menghasilkan perdamaian permanen.

Kedua pihak tetap mempertahankan kekuatan militer masing-masing dan dalam beberapa bulan terakhir kembali meningkatkan retorika mengenai kemungkinan pertempuran.

Situasi semakin rumit setelah keterlibatan Houthi dalam konflik regional yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Houthi sebelumnya juga mengumumkan blokade terhadap pelabuhan Saudi dan melancarkan serangan di sekitar Selat Bab al-Mandeb.

Baca juga: Teheran Bantah Klaim Trump, Selat Hormuz Masih Terkunci dan Lalu Lintas Kapal Lumpuh

Warga Yaman Mulai Kembali Merasakan Ancaman Perang

Meningkatnya serangan membuat warga sipil kembali khawatir terhadap kemungkinan pecahnya perang besar.

Abdul Rahman Saleh, warga Sanaa berusia 34 tahun, mengatakan situasi saat ini sudah tidak lagi sekadar ancaman.

Menurutnya, warga mulai mendengar ledakan dan melihat laporan mengenai korban jiwa akibat meningkatnya konflik.

"Ini bukan lagi ancaman potensial.

Ini telah menjadi kenyataan," katanya kepada Al Jazeera.

Ia mengingatkan kondisi tersebut mengingatkan warga terhadap situasi sebelum gencatan senjata pada 2022.

Menurutnya, masyarakat sipil kembali terjebak di tengah perseteruan antara kelompok-kelompok bersenjata.

"Sebagai warga sipil, saya merasa dibutuhkan keajaiban untuk menghentikan perang ini sekarang," ujarnya.

Baca juga: Trump Terus Gertak Iran, Berkali-kali Bilang Damai Sudah Dekat, Mengapa Perang Tak Kunjung Usai?

Analis: Risiko Perang Habis-habisan Meningkat

Peneliti politik dan militer Yaman, Fuad Mussed, menilai serangan terbaru menunjukkan bahwa Houthi semakin siap menghadapi konfrontasi terbuka.

Menurut Mussed, kelompok tersebut tidak hanya meningkatkan serangan di dalam wilayah Yaman.

Houthi juga terus menunjukkan kemampuan untuk menyerang sasaran di kawasan Laut Merah dan Arab Saudi.

"Pesan Houthi jelas: memilih eskalasi baik di dalam Yaman maupun di luar negeri," kata Mussed kepada Al Jazeera.

Sementara itu, Ahmed Nagi, analis senior International Crisis Group, mengatakan ancaman perang besar kini semakin nyata.

Menurutnya, masih ada peluang bagi kedua pihak untuk menahan diri.

Namun, setiap aksi militer baru membuat upaya de-eskalasi semakin sulit.

"Jika pola ini berlanjut dan Houthi meningkatkan serangan mereka, maka risiko babak perang baru meningkat secara signifikan," kata Nagi.

Ia menilai indikator yang mengarah pada kembalinya konflik saat ini lebih kuat dibandingkan tanda-tanda menuju penurunan ketegangan.

Marib Menjadi Titik Panas Baru

Wilayah Marib kembali menjadi salah satu pusat perhatian dalam konflik Yaman.

Bentrokan mematikan dilaporkan terjadi di sejumlah garis depan dalam beberapa hari terakhir.

Marib memiliki arti strategis karena wilayah tersebut merupakan salah satu kawasan penting bagi sektor minyak dan gas Yaman.

Adel Dashela, peneliti di Sanaa Center for Strategic Studies, mengatakan perebutan Marib dapat menjadi pertempuran penting bagi kedua pihak.

"Semua indikasi menunjukkan bahwa perang darat antara pasukan pemerintah dan kelompok Houthi akan segera terjadi," kata Dashela kepada Al Jazeera.

Menurutnya, situasi tersebut masih dapat berubah apabila terdapat terobosan politik.

Namun, peluang tersebut dinilai semakin kecil jika eskalasi terus berlanjut.

Baca juga: Trump Murka, Perusahaan Minyak Raksasa Dituding Raup Cuan Besar dari Krisis Perang Iran

Houthi dan Pemerintah Saling Keras

Houthi menyatakan tidak akan menerima keberadaan pasukan militer Saudi di wilayah Yaman.

Kelompok tersebut mengatakan mereka memiliki hak untuk menghadapi tindakan yang dianggap mengancam kedaulatan dan keamanan mereka.

Di sisi lain, Sheikh Othman Majali, anggota Dewan Kepemimpinan Kepresidenan Yaman yang didukung Saudi, menilai perdamaian tidak mungkin tercapai selama Houthi masih menjadi ancaman.

Ia menyerukan agar kelompok tersebut dihadapi dan dihentikan.

Komentator politik Yaman, Saddam Al-Huraibi, bahkan menilai serangan terbaru menunjukkan bahwa perang kembali menjadi prioritas Houthi.

Menurutnya, masyarakat Yaman telah menunggu bertahun-tahun agar pihak yang bertikai mencapai kesepakatan damai.

Namun, peningkatan serangan justru semakin mempersempit peluang tercapainya perdamaian.

Baca juga: Persediaan Rudal Amerika Dilaporkan Menipis Akibat Perang dengan Iran, Trump Angkat Bicara

Ruang untuk De-eskalasi Makin Sempit

Meski ancaman perang meningkat, Arab Saudi dan pemerintah Yaman disebut masih mengutamakan strategi penahanan dan de-eskalasi.

Ahmed Nagi mengatakan kedua pihak kemungkinan masih berusaha menghindari perang besar.

Namun, strategi tersebut menghadapi tekanan yang semakin besar.

Arab Saudi dan pemerintah Yaman juga terus memperkuat aliansi serta posisi militer di sepanjang garis depan.

Jika Houthi kembali meningkatkan serangan, tekanan terhadap pemerintah Yaman dan Arab Saudi untuk memberikan respons militer yang lebih kuat akan semakin besar.

"Ruang untuk terus menahan diri semakin sempit," kata Nagi.

Dengan meningkatnya serangan di Marib dan Hadramout, ancaman kembalinya perang besar di Yaman kini menjadi semakin nyata.

Jika tidak segera dihentikan melalui jalur politik dan diplomasi, konflik tersebut berpotensi berubah menjadi pertempuran yang jauh lebih luas dan berdarah dibandingkan konflik sebelumnya.

Baca juga: AS Kehabisan 80 Persen Rudal Pencegat THAAD, Trump Disebut Batalkan Serangan Besar ke Iran

(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.