Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi mengatakan Festival Egrang dapat memperkuat komitmen ruang aman anak di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
"Upaya menciptakan ruang aman bagi anak membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat," katanya saat menghadiri Festival Egrang XIV di Komunitas Tanoker, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Sabtu.
Menurut dia, perlindungan anak tidak dapat hanya mengandalkan regulasi, tetapi harus dibangun melalui kolaborasi, sinergi, dan partisipasi bersama, mulai dari keluarga hingga lingkungan sosial.
"Gerakan nasional ruang aman dan nyaman bagi anak mencakup berbagai lingkungan kehidupan, mulai dari keluarga, ruang publik, satuan pendidikan hingga ruang digital," tuturnya.
Ia mengatakan dalam konteks tersebut, komitmen yang dibangun warga di Kecamatan Ledokombo memiliki arti penting karena menghadirkan pemerintah desa dan masyarakat sebagai bagian dari upaya bersama menyelesaikan persoalan di tingkat paling dekat dengan warga.
"Berbagai kegiatan dan kolaborasi yang telah tumbuh di Kabupaten Jember menunjukkan adanya semangat yang sejalan dengan Ruang Bersama Indonesia. Kekuatan tersebut perlu terus dikembangkan agar menjadi gerakan yang mampu menjawab persoalan masyarakat sekaligus memperkuat perlindungan dan pemenuhan hak anak," katanya.
Sementara Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara program pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
"Komitmen Kabupaten Jember akan terus sesuai dengan arahan Presiden dan Ibu Menteri, bagaimana anak-anak termasuk lansia mempunyai hak yang harus dipenuhi, termasuk pelayanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan,” ujarnya.
Bagi Pemkab Jember, lanjut dia, penguatan ruang aman merupakan bagian dari pembangunan yang menempatkan pemenuhan hak masyarakat sebagai perhatian utama.
"Karena itu, keterlibatan pemerintah desa menjadi penting agar kebijakan tidak berhenti pada tingkat kabupaten, tetapi dapat diterjemahkan menjadi gerakan nyata di lingkungan tempat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari," katanya.
Sementara Direktur Tanoker Farha Ciciek mengatakan keterlibatan berbagai kelompok tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Festival Egrang karena bagi Tanoker, permainan tradisional bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi dapat menjadi ruang perjumpaan yang memungkinkan masyarakat saling mengenal, berkarya, dan merayakan keberagaman bersama-sama.
“Beragam komunitas, kelompok disabilitas, lintas generasi, lintas etnis, organisasi sosial keagamaan berjalan bersama menampilkan hal yang terbaik karya mereka dalam festival itu,” ujarnya.
Festival Egrang itu telah berkembang menjadi kegiatan yang memiliki makna lebih luas bagi masyarakat Ledokombo karena di balik bentuknya yang sederhana, festival tersebut membawa pesan tentang kepedulian, empati, kegembiraan, dan harapan.
Setiap kelompok yang datang membawa cerita serta kekuatan masing-masing, kemudian bertemu dalam satu ruang melalui karya dan tradisi.
Dalam Festival Egrang itu juga diikuti deklarasi dan penandatanganan komitmen Ruang Bersama Indonesia (RBI) oleh para kepala desa se-Kecamatan Ledokombo.





