TRIBUN-TIMUR.COM - Puluhan jurnalis berbaur dengan akademisi dan mahasiswa di Taman Firdaus, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Sabtu malam, 8 Agustus 2026.
Taman Firdaus terhampar di teras Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI). Taman itu tidak sekadar menjadi tempat duduk-duduk mahasiswa. Ia berubah menjadi ruang perjumpaan orang-orang yang datang membawa kegelisahan masing-masing tentang pers.
Di tempat itu, praktivis media duduk melingkar dengan akademisi, mahasiswa, praktisi media, organisasi profesi, perusahaan pers, masyarakat sipil dan pembentuk kebijakan.
Mereka tidak sedang sekadar merayakan ulang tahun sebuah organisasi profesi. Mereka sedang membicarakan sesuatu yang jauh lebih besar: apakah jurnalisme masih memiliki ruang untuk bertahan ketika ekosistem yang selama ini menopangnya sedang berubah.
Malam itu Pengurus Daerah Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulawesi Selatan merayakan Milad ke-28. Tema nasionalnya, Beyond Journalism. Di Makassar, tema itu dibawa ke kampus dengan tajuk “Beyond Journalism Goes to Campus: Londo Ijo – Tempat Berkumpulnya Orang-Orang Berpikir.”
Pemilihan Taman Firdaus bukan tanpa alasan.
"Ini untuk menujukkan bahwa jurnalis itu pemikir, Londo Ijo, bukan Londo Ireng," tegas Ketua IJTI Sulsel Andi Mohammad Sardi.
“Setiap malam taman ini ramai. Di sinilah tempat aktivis dan mahasiswa diskusi dan berekspresi,” kata Dr Surahman Batara, Asisten Wakil Rektor III UMI, yang hadir mewakili Wakil Rektor III UMI Prof Dr Kamal Hijaz.
Dari taman itu, Makassar seperti membuka dirinya sendiri.
Hadir juga Ketua LBH Pers Makassar Fajriani Langgeng SH dan Ketua AJI Makassar Sahrul Ramadhan. Diskusi dipandu Firda Jumardi.
Di depan mata, kendaraan melintas di Jalan Urip Sumoharjo. Menara UMI berdiri menjadi penanda kampus. Sedikit bergeser, Jembatan dan Sungai Pampang membentangkan garis pemisah antara kawasan Masjid Agung 45 dan Gedung Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. Graha Pena tampak di kejauhan.
Pandangan digeser ke kiri. Logo Kalla Institute menyambut dari bahu Nipah Mall. Di bawahnya terbujur AAS Building. Sedikit bergeser lagi, Kantor Bosowa masuk ke dalam bingkai pandangan.
Rudianto Lallo memperhatikan lanskap itu. “Bagus sekali pemandangan dari sini. Kalla Institute seperti menunduk ke arah AAS Building,” selorohnya.
“Ih, nagappana Kaka Rudi,” sahut Syamsu Rizal MI Deng Ical.
Dua anggota DPR RI asal Sulawesi Selatan itu malam itu hadir bukan sekadar menikmati pemandangan. Rudianto Lallo, anggota Komisi III DPR RI, berbicara mengenai perlindungan jurnalis. Deng Ical, anggota Komisi I DPR RI, membahas penyiaran. Dr Surahman Batara mengulas media di era terkini. Pakar Kesehatan Masyarakat asal Luwu Raya ini sekaligus membuka acara.
Tiga pembicara. Tiga pintu masuk. Satu kegelisahan yang sama: pers sedang berada di sebuah persimpangan. Dan menariknya, percakapan itu berlangsung di taman.
Bukan di ballroom hotel. Bukan di ruang rapat yang tertutup. Bukan pula di studio televisi.
Taman. Ruang terbuka tempat mahasiswa bercakap, aktivis bertukar pikiran dan gagasan bergerak tanpa terlalu banyak pagar.
Di situlah istilah Londo Ijo memperoleh tempatnya.
Kaka Edo, sapaan Ketua IJTI Pengda Sulsel, menyebut Taman Firdaus dipilih karena tempat itu identik dengan para aktivis yang berpikir.
“Jurnalis itu Londo Ijo, bukan Londo Ireng,” tegas Andi Sardi.
Kalimat itu terdengar seperti kelakar. Tetapi malam itu ia menjadi lebih dari sekadar permainan istilah.
Inilah kegelisahan yang dibawa IJTI Sulawesi Selatan ke Taman Firdaus.
Perusahaan pers tertekan. Jurnalis dituntut bekerja semakin cepat.
Jumlah informasi yang harus diproduksi semakin banyak.
Tetapi kecepatan tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan.
“Jurnalis dituntut bekerja semakin cepat, semakin banyak, tetapi belum tentu diikuti dengan kesejahteraan dan perlindungan yang memadai,” ujar Sardi.
Di titik ini, Beyond Journalism menemukan maknanya.
Apa yang terjadi dengan perusahaan pers tempat mereka bekerja?
Bagaimana model bisnis media bertahan ketika iklan berpindah?
Bagaimana jurnalis memperoleh kesejahteraan yang layak?
Siapa yang melindungi wartawan ketika pekerjaan jurnalistik membawa mereka berhadapan dengan tekanan, intimidasi, kekerasan atau ancaman kriminalisasi?
Dan bagaimana regulasi dibuat agar tidak berubah menjadi pagar yang justru membatasi ruang redaksi?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak berada di luar jurnalistik.
Justru di sanalah masa depan jurnalistik dipertaruhkan.
Sardi menyebut perlindungan terhadap jurnalis masih menjadi pekerjaan rumah, termasuk di Sulawesi Selatan. IJTI bersama LBH Pers, AJI Makassar, ACC dan jaringan lainnya masih mengawal kasus kekerasan terhadap jurnalis untuk memastikan korban memperoleh keadilan.
Sebab wartawan yang bekerja tanpa rasa aman akan kesulitan menjaga independensi.
Perusahaan pers yang tidak memiliki keberlanjutan ekonomi akan kesulitan mempertahankan ruang redaksi yang sehat.
Dan regulasi yang tidak memberikan kepastian serta keadilan dapat membuat kebebasan pers berdiri di atas tanah yang rapuh.
“Kalau perubahan pers terus tertekan, kalau perusahaan pers terus tertekan, bagaimana jurnalisme bisa bertahan?” kata Sardi. “Kalau jurnalis tidak dilindungi, bagaimana mereka bisa bekerja secara independen?”
Pertanyaan itu terasa lebih panjang daripada usia IJTI.
Dua puluh delapan tahun adalah perjalanan organisasi. Tetapi Beyond Journalism berbicara tentang perjalanan yang belum selesai.
Mungkin karena itu Taman Firdaus menjadi tempat yang tepat.
Dari sana, orang bisa melihat banyak hal sekaligus.
Kendaraan yang bergerak cepat di jalan raya. Gedung-gedung yang tumbuh dengan kepentingannya masing-masing. Sungai yang membelah kota. Jembatan yang menghubungkan dua sisi. Kampus yang menjadi ruang pendidikan. Kantor-kantor perusahaan yang menjadi bagian dari denyut ekonomi Makassar.
Semuanya terlihat dari satu tempat. Begitu pula jurnalisme. Ia tidak berdiri sendirian.
Jurnalisme berada di antara teknologi, bisnis, negara, masyarakat, hukum, kampus, perusahaan dan publik. Ketika salah satu bagian berubah, bagian lain ikut bergeser.
Di Taman Firdaus, para wartawan seperti sedang kembali mengingat asal pekerjaannya: berpikir.
Londo Ijo. Bukan Londo Ireng.
Di tengah banjir informasi yang semakin deras, mungkin persoalan terbesar jurnalisme bukan lagi bagaimana menghasilkan informasi sebanyak-banyaknya. Mesin dan platform digital sudah sangat sanggup melakukannya.
Yang semakin mahal justru kemampuan manusia untuk berhenti sejenak, memeriksa, mempertanyakan, memahami dan memilih apa yang benar-benar penting bagi publik.
Di situlah wartawan masih dibutuhkan. Bukan karena ia paling cepat. Tetapi karena ia mau berpikir sebelum membuat orang lain percaya.
Malam semakin larut di Taman Firdaus. Jalan Urip Sumoharjo tetap ramai. Lampu kendaraan bergerak seperti garis-garis cahaya. Menara UMI tetap berdiri. Jembatan Pampang tetap menghubungkan dua sisi kota.
Dan dari teras kampus itu, para jurnalis pulang membawa satu pekerjaan yang belum selesai.