TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Kelangkaan solar masih terus terjadi di Kabupaten Maros.
Akibatnya anterean truk mengular di sejumlah SPBU di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan.
Antrean kendaraan paling sering terlihat di jalan poros Maros Makassar seperti di SPBU Buttatoa, Kecamatan Turikale dan SPBU Batangase dan Ballu-ballu, Kecamatan Mandai.
Antrean kendaraan memakan sebagian badan jalan dan menyebabkan kemacetan hampir setiap hari.
Kelangkaan solar ini rupanya juga berdampak pada proses distribusi air bersih di daerah kekeringan di Maros.
Sekretaris BPBD Maros, Nasrul mengatakan sulitnya mendapatkan pasokan solar membuat jadwal distribusi tak jarang molor hingga malam hari.
Meski tak perlu antre, namun mobil tangki harus tetap menunggu pasokan dari mobil distributor yang akan menyuplai solar ke SPBU.
"Kalau antre sebenarnya tidak terlalu lama karena mobil tangki masuk kendaraan emergency, sehingga didahulukan. Tapi, kita tidak tahu jadwal datangnya mobil penyuplai solar, sehingga harus tetap menunggu," ujarnya.
Untuk menyiasati hal tersebut, pihaknya harus ikut menunggu di SPBU menanti suplai BBM sehari sebelumnya.
"Jadi sebelum habis solarnya, kami sudah ke SPBU juga antre," terangnya.
Ia menambahkan sekali mengisi, bisa sampai 100 liter solar.
BBM itu, kata dia dapat bertahan hingga tiga hari tergantung jarak pengantaran.
Dalam sehari, pihaknya bisa menyalurkan hingga 12 tangki ke sejumlah wilayah.
Sekali pengantaran, tiga tangki diberangkatkan.
"Jadi bisa bolak balik empat kali pengantaran. Kami sudah melakukan asasemen sebelumnya untuk mendata wilayah yang kesulitan air bersih," sebutnya.
Ia mengatakan pihak pemerintah desa akan mengusulkan titik untuk pendistribusian air kepada warga.
Titik itu biasanya berada paling dekat dari pemukiman warga.
"Titik kumpulnya diusulkan pihak desa dan ada kontak person dusunnya untuk menginformasikan jadwal distribusi," ujarnya.
Nasrul menjelaskan penyaluran air bersih sudah dilakukan sejak sepekan terakhir.
Hingga kini, tercatat sudah 75 tangki air berisi 5.000 liter yang tersalurkan.
Ia mengatakan, lebih dari 6.700 warga yang terdampak tersebar di Kecamatan Bontoa, Lau, Maros Baru, dan Marusu.
“Adapun wilayah yang masuk kategori zona kuning belum menerima distribusi air bersih karena kondisinya masih dinilai aman,” katanya.
Pada tahap awal, BPBD Maros mengalokasikan anggaran sebesar Rp30 juta untuk penyaluran air bersih.
"Anggaran itu diperkirakan cukup membiayai operasional distribusi selama sekitar 10 hari," sebutnya.
Selanjutnya penyaluran air bersih akan menggunakan dana bantuan tidak terduga (BTT).
Diketahui, Sebanyak empat kecamatan di Kabupaten Maros ditetapkan sebagai zona merah kekeringan pada musim kemarau 2026.
Wakil Bupati Maros, Muetazim Mansyur, mengatakan penetapan zona merah dilakukan berdasarkan tingginya kebutuhan air bersih di wilayah pesisir yang menjadi langganan kekeringan.
“Selain empat kecamatan yang masuk zona merah, Pemkab Maros juga menetapkan Kecamatan Turikale, Tanralili, Mandai, serta beberapa kecamatan lainnya sebagai zona kuning,” katanya.
Ia mengatakan, pemerintah daerah telah mengerahkan bantuan air bersih melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maros.
Penyaluran air bersih tersebut juga mendapat dukungan dari sejumlah perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Mantan Kadis PUTRPP itu mengatakan para camat ditunjuk sebagai penanggung jawab di lapangan agar distribusi air bersih bisa menjangkau seluruh wilayah terdampak.
“Para camat akan berkoordinasi dengan BPBD sehingga pendistribusian air bersih dapat menjangkau seluruh wilayah zona merah,” ujarnya.
Selain penanganan jangka pendek melalui distribusi air bersih, Pemkab Maros juga menyiapkan solusi jangka panjang
Salah satunya dengan mengoptimalkan rumah booster di Tangkuru untuk mendorong suplai air dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Bantimurung menuju kawasan pesisir.
“Namun, kapasitas mesin pendorong masih akan ditingkatkan agar aliran air dapat menjangkau hingga wilayah Bontobahari,” jelasnya.
Ia menambahkan, PDAM juga akan melakukan pemeriksaan terhadap jaringan pipa induk agar distribusi air dapat berjalan optimal setelah rumah booster mulai dioperasikan. (*)