SRIPOKU.COM - Kematian Sutrimo, warga Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, masih menyisakan kejanggalan bagi keluarganya.
Pria yang sebelumnya ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri di depan sebuah klinik di Jakarta Selatan itu mengembuskan napas terakhir setelah sempat mendapat penanganan medis di rumah sakit.
Jenazahnya kemudian dipulangkan ke kampung halaman dan dimakamkan pada malam yang sama.
Saat itu, keluarga mengaku tidak menemukan kejanggalan pada kondisi jenazah. Tubuh Sutrimo disebut dalam keadaan bersih dan telah dikafani.
Karena tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, keluarga pun menerima kepergiannya sebagai sebuah kematian yang dianggap wajar.
Namun, situasi berubah setelah berbagai kabar mengenai kematian Sutrimo beredar. Informasi yang simpang siur membuat keluarga merasa perlu mencari kepastian.
Keluarga akhirnya memilih melapor ke Polresta Banyumas pada Sabtu (8/8/2026) malam.
Laporan tersebut bukan untuk menunjuk pihak tertentu sebagai terlapor, melainkan untuk meminta aparat memastikan bagaimana sebenarnya Sutrimo meninggal.
Jenazah Bersih, Keluarga Tak Menaruh Curiga
Tukim, kakak tiri Sutrimo, mengungkapkan bahwa keluarga saat itu sama sekali tidak mengetahui adanya persoalan lain di balik kematian Sutrimo.
Setelah jenazah tiba, keluarga melakukan proses sebagaimana lazimnya pemakaman. Kain kafan sempat dibuka dan kondisi tubuh Sutrimo diperiksa secara langsung oleh pihak keluarga.
Tidak ditemukan sesuatu yang dianggap janggal.
"Jenazah (sudah dalam kondisi) bersih, sudah dikain kafan, (sempat) dibuka, enggak ada kecurigaan apa-apa. Makanya dari keluarga langsung mengikhlaskan karena namanya orang kampung, keadaan jenazah bersih jadi tidak ada kecurigaan apa-apa," ujar Tukim.
Karena tidak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan, keluarga akhirnya memutuskan untuk langsung memakamkan Sutrimo malam itu juga.
Pada saat tersebut, keluarga belum mengetahui berbagai informasi yang kemudian muncul ke publik mengenai kematian Sutrimo.
Keluarga Akhirnya Memilih Lapor Polisi
Berbagai kabar yang muncul setelah Sutrimo dimakamkan membuat keluarga merasa tidak nyaman.
Awalnya, keluarga sama sekali tidak memiliki dugaan mengenai adanya kejanggalan. Mereka percaya bahwa Sutrimo meninggal setelah sebelumnya ditemukan tidak sadarkan diri dan sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Namun, kabar yang berkembang kemudian membuat keluarga ingin mendapatkan kepastian.
Penasihat hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, mengatakan pihaknya mendampingi keluarga membuat laporan ke Polresta Banyumas untuk meminta penyelidikan mengenai penyebab kematian.
Aan menjelaskan, keluarga pada awalnya tidak mencurigai kematian Sutrimo. Persoalan justru muncul setelah berbagai informasi mengenai kasus tersebut beredar di tengah masyarakat.
Kabar mengenai tudingan tersebut membuat keluarga merasa perlu mengambil langkah untuk memperoleh kejelasan.
Laporan yang dibuat keluarga tidak diarahkan kepada orang tertentu.
Aan mengatakan, keluarga menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada aparat kepolisian. Mereka hanya ingin mengetahui apakah kematian Sutrimo benar-benar terjadi secara wajar atau terdapat hal lain yang perlu diungkap.
"Keluarga juga ingin tahu, ingin memastikan apakah itu kematiannya wajar atau tidak. Keluarga tidak punya siapa terlapornya, diserahkan ke penyidik," kata Aan.
Menurutnya, keluarga juga sepakat untuk tidak menyebut nama pihak tertentu karena mereka tidak mengetahui secara pasti latar belakang kejadian yang menimpa Sutrimo.
"Keluarga sepakat tidak menyebut siapa pun, tahunya (bekerja) di Jakarta," kata Aan.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa keluarga tidak ingin membuat kesimpulan sendiri sebelum hasil penyelidikan kepolisian diketahui.
Keponakan Sutrimo, Abi, mengatakan bahwa kabar yang beredar mengenai kematian pamannya telah berkembang ke berbagai arah.
Situasi tersebut akhirnya mengganggu ketenangan keluarga dan lingkungan tempat tinggal mereka di Banyumas.
Karena itu, laporan kepada kepolisian diharapkan dapat menjadi jalan untuk menghentikan berbagai spekulasi sekaligus memberikan jawaban yang jelas mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Kini, keluarga menyerahkan seluruh proses kepada aparat penegak hukum.
Mereka tidak menyebut siapa yang harus bertanggung jawab dan tidak mengarahkan tuduhan kepada pihak tertentu. Fokus keluarga hanya satu: mengetahui penyebab kematian Sutrimo secara jelas.
Pertanyaan mengenai kondisi Sutrimo ketika ditemukan, penanganan medis yang diterimanya, proses pemulangan jenazah, hingga keberadaan barang-barang pribadi seperti ponsel menjadi bagian dari informasi yang diharapkan dapat dijelaskan melalui proses penyelidikan.
Bagi keluarga, kematian Sutrimo bukan sekadar kabar duka yang harus diterima. Setelah muncul berbagai informasi yang saling bersimpangan, mereka membutuhkan kepastian agar tidak terus dihantui tanda tanya.
Terlebih, jenazah Sutrimo telah dimakamkan sejak Kamis (23/7/2026) malam dalam kondisi yang menurut keluarga terlihat bersih dan tanpa tanda mencurigakan.
Kini, keputusan berada di tangan penyidik.
Keluarga memilih menunggu proses hukum berjalan untuk mengetahui apakah kematian Sutrimo benar-benar merupakan kematian yang wajar atau justru terdapat fakta lain yang selama ini belum terungkap.