Luas Karhutla Riau Tembus 15.497 Hektare, Bengkalis Jadi Wilayah Paling Banyak Terbakar
Sesri August 09, 2026 03:29 PM

 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Luas hutan dan lahan yang terbakar di Provinsi Riau sepanjang 2026 telah mencapai 15.497,94 hektare.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau tercatat dari 12 kabupaten dan kota, Bengkalis mencatat luas kebakaran terbesar, yakni mencapai 8.256,90 hektare.

Setelah Bengkalis, kebakaran terluas tercatat di Kabupaten Pelalawan dengan 4.629,39 hektare. Kemudian Indragiri Hilir (Inhil) seluas 851,27 hektare dan Dumai 553,01 hektare.

Sementara di daerah lainnya, luas lahan terbakar tercatat lebih rendah. Rokan Hilir (Rohil) mencapai 402,53 hektare, Siak 291,62 hektare, Kepulauan Meranti 201,36 hektare, Indragiri Hulu (Inhu) 96,92 hektare, Kampar 83,27 hektare, Kuantan Singingi (Kuansing) 56,45 hektare, Pekanbaru 46,06 hektare dan Rokan Hulu (Rohul) 29,16 hektare.

Selain luas lahan terbakar, sepanjang 2026 hingga periode laporan tersebut terpantau 8.969 hotspot atau titik panas di Riau. Dari jumlah itu, tercatat 386 fire spot atau titik api.

Bengkalis juga menjadi daerah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 3.692 titik. Disusul Pelalawan sebanyak 2.229 titik dan Dumai 807 titik.

Kepala BPBD Riau Edy Afrizal, Minggu (9/8/2026) mengatakan dengan luas kebakaran yang telah mencapai 15.497,94 hektare, pemerintah dan Satgas Karhutla Riau masih harus meningkatkan kewaspadaan.

Terlebih, potensi munculnya titik api baru masih dapat terjadi di sejumlah wilayah rawan. 

Meski secara kumulatif luas lahan terbakar sudah mencapai lebih dari 15 ribu hektare, penanganan kebakaran terus dilakukan di sejumlah wilayah.

Baca juga: Karhutla di Kerumutan Pelalawan Padam, Titik Asap Masih Ada, Tim Gabungan Lanjutkan Pendinginan

Baca juga: Enam Hari Pemadaman, Luasan Titik Karhutla di Sungai Guntung Hilir Bertambah Jadi 50 Hektar

Laporan terbaru yang dirilis BPBD Riau terdapat tambahan 3,25 hektare lahan terbakar. Tambahan itu tersebar di Dumai seluas 1 hektare, Pelalawan 1 hektare, Inhu 0,25 hektare dan Inhil 1 hektare.

Pada hari yang sama juga terpantau tambahan 20 hotspot. Sebanyak tujuh titik berada di Dumai, tujuh titik di Inhu, tiga titik di Inhil, dua titik di Rohul dan satu titik di Kuansing.

Upaya penanganan dilakukan melalui pemadaman dan pendinginan. Data mencatat terdapat tiga titik yang dalam proses pemadaman, tiga titik dalam proses pendinginan serta dua titik telah dinyatakan padam.

Penanganan karhutla di Riau melibatkan sinergi berbagai pihak. Mulai dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Regu Pemadam Kebakaran (RPK) perusahaan hingga Masyarakat Peduli Api (MPA).

Edy mengatakan kolaborasi lintas instansi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kondisi karhutla agar tetap terkendali.

"Kecepatan respons di lapangan serta pemantauan titik panas secara berkala ini penting bagi kami agar kebakaran tidak meluas," katanya.

Tidak hanya mengandalkan petugas darat, penanganan karhutla juga diperkuat melalui operasi udara.

Berdasarkan laporan tersebut, sejumlah helikopter dikerahkan untuk melakukan water bombing di daerah yang mengalami kebakaran.

Helikopter Sikorsky 61A milik BNPB, misalnya, tercatat melakukan water bombing di Rengat, Inhu.

Secara kumulatif, helikopter tersebut telah melakukan 31 sortie dengan 1.804 kali water bombing dan menjatuhkan sekitar 7,216 juta liter air.

Helikopter Blackhawk UH-60L juga dikerahkan untuk melakukan water bombing di Rengat dan Sungai Guntung Hilir, Inhu. Helikopter lainnya melakukan pemadaman udara di Kerumutan, Pelalawan, Sam Sam di Siak, Sungai Guntung Hilir serta Teluk Kiambang di Inhil.

Selain pemadaman, pesawat Caravan 208 juga digunakan untuk patroli udara dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Berdasarkan laporan, pesawat tersebut melakukan satu sortie penyemaian dengan 1.000 kilogram bahan semai di Pelalawan.

BPBD Riau memastikan kewaspadaan tetap ditingkatkan. Patroli darat maupun udara terus dilakukan untuk mendeteksi sedini mungkin kemunculan titik api baru, terutama ketika kondisi cuaca meningkatkan risiko kebakaran.

Pemantauan hotspot juga dilakukan secara berkala sebagai dasar menentukan langkah penanganan di lapangan.

Edy mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Menurutnya, pencegahan menjadi bagian penting untuk menekan kebakaran agar tidak semakin meluas.

"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga Riau dari ancaman karhutla. Jangan membuka lahan dengan cara membakar karena pencegahan merupakan langkah paling efektif untuk melindungi lingkungan dan kesehatan masyarakat," katanya.

(Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.