TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Korban bencana banjir bandang susulan yang menetap di tenda darurat milik Kemensos RI di Lapau Munggu, Kecamatan Kuranji, Kota Padang mengeluhkan minimnya kamar mandi untuk buang air, Minggu (9/8/2026).
Ditemui TribunPadang.com saat Wali Kota Padang, Fadly Amran menyerahkan bantuan dari Wakil Presiden (Wapres)d dan BNPB di lokasi, sejumlah warga mengatakan hal yang sama.
Meski menetap di tenda darurat dalam kondisi yang berdesakan, warga tidaklah mempermasalahkan hal tersebut.
Hanya saja, minimnya kamar mandi untuk buang air, warga harus menumpang ke rumah warga hingga pergi ke masjid yang berjarak beberapa ratus meter dari tenda darurat.
Salah satu warga bernama Meldawati (42) mengatakan bahwa saat ini akses ke kamar mandi sangat diperlukan bagi korban bencana di tenda darurat.
Baca juga: Akses Jauh, Korban Bencana Susulan Lapau Munggu Lebih Pilih Tinggal di Tenda Darurat Milik Kemensos
Sebab, ia harus menumpang setiap saat dan hampir seminggu lamanya ke rumah warga di sekitar tenda darurat.
"Kalau saat ini, kondisi yang kami rasakan tidak ada kamar mandi bersama, jadi harus ke rumah warga untuk menumpang buang air, kalau terus menerus, tidak enak juga," ucapnya.
Ia menyebut, kurang lebih warga yang tidur di dalam tenda darurat mencapai 30 orang lebih. Sedangkan di kedai di samping tenda darurat juga banyak.
Meldawati juga tidak merinci berapa total keseluruhan warga yang tidur di kedai di samping tenda darurat.
Sementara di sisi kebutuhan makanan, bantuan yang diberikan pemerintah, relawan dan pihak lainnya sudah mencukupi ucap Meldawati.
Baca juga: Apes! Minta Tolong Warga Dorong Motor Curian, Maling Babak Belur Ditangkap Warga di Padang Panjang
Ia juga mengucapkan rasa terimakasih kepada Wapres dan BNPB yang memberikan bantuan sembako, alat mandi, medis, dan perlengkapan bayi bagi warga terdampak bencana.
"Kalau kebutuhan makanan aman, kami saat ini butuh kamar mandi bersama, sehingga tidak menumpang lagi ke rumah warga atau pergi ke masjid yang cukup jauh," jelasnya.
Senada, warga lainnya bernama Farida (53) juga menyebut akses ke kamar mandi sangat diperlukan bagi korban bencana.
Menurutnya, dengan disediakan kamar mandi bersama untuk warga, dapat mempermudah kebutuhan buang air hingga memasak ataupun mencuci pakaian.
"Belum ada kamar mandi bersama, karena di sini banyak yang tinggal. Kalau bisa, kami disediakan kamar mandi bersama," pintanya.
Warga Lapau Munggu, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, memilih bertahan di tenda pengungsian pascabencana banjir bandang yang menerjang wilayah tersebut pada Senin (3/8/2026).
Pantauan TribunPadang.com pada Minggu (9/8/2026), mereka tampak menetap di tenda berwarna merah-putih, yang bertuliskan Kemensos Republik Indonesia.
Kurang lebih warga Lapau Munggu sudah bertahan di sana hampir satu pekan lamanya.
Wali Kota Padang, Fadly Amran, saat menyerahkan bantuan dari BNPB dan Wakil Presiden (Wapres) di Lapau Munggu, sudah menanyakan kesediaan warga untuk pindah ke hunian sementara (huntara) Lubuk Buayo.
Akan tetapi, banyak dari warga yang memilih menetap, dengan alasan jauh dari akses sekolah dan pekerjaan.
Baca juga: Menembus Medan Menantang, Perjuangan PLN Menerangi Dusun Ladang Laweh Jelang HUT ke-81 RI
"Bagaimana ibu-ibu, kalau mau bisa pindah ke huntara Lubuk Buayo sementara waktu," tanya Fadly Amran kepada warga yang mayoritas perempuan.
Sementara itu, warga bernama Novia Safitri (33) mengatakan alasannya tidak ingin pindah dan memilih menetap di tenda darurat lantaran jauh dari akses pendidikan anaknya.
Alasan itulah, yang memantapkan hatinya bersama warga lain untuk menetap sementara waktu di tenda yang disediakan Kemensos RI.
"Bukan tidak mau pindah, akses ke sana jauh, anak sekolah di sini, suami bekerja juga di sini, bolak-balik ke sana memakan banyak biaya, lebih baik bertahan di sini sementara waktu," ucapnya.
Ia menyebut, pemerintah juga berjanji menyediakan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak bencana susulan.
Baca juga: Wako Padang Minta Maaf Bencana Susulan Masih Terjadi, Tegaskan Penanganan Hulu Sungai Jadi Prioritas
Sehingga, menjelang kepindahan ke huntap setelah tersedia nantinya, Novia bertahan bersama warga lainnya.
"Meski sempit di dalam tenda dan panas, biarlah kami di sini, semoga huntap cepat selesai. Kami juga ingin huntal dibangun di tanah pusako kami," ujarnya.
Senada, warga lainnya bernama Farida (53) juga memilih tinggal di tenda darurat pascabencana susulan menerjang Lapau Munggu.
Akses yang jauh juga menjadi alasan Farida, senada dengan pernyataan sejumlah warga lainnya.
"Alasan saya sama dengan yang lainnya, karena jauh, lebih baik bertahan di sini sementara waktu," katanya.
Di sisi lain, pantauan TribunPadang.com di lapangan sejak pukul 14.23 WIB, tampak di dalam tenda darurat tikar untuk tidur warga yang berdekatan.
Sejumlah warga juga mengaku tidur berdesakan, sebagian bahkan tidur di sebuah kedai di samping tenda.
Warga yang tidur di kedai samping tenda, didominasi oleh para pria. Sedangkan di dalam tenda, diisi oleh perempuan dan anak-anak.(*)