SURYA.co.id, JEMBER – Egrang bukan sekadar permainan yang menguji keseimbangan.
Di tangan komunitas Tanoker Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, permainan tradisional itu menjelma menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat, dari anak-anak, orang muda, hingga lansia dan penyandang disabilitas.
Semangat tersebut terasa dalam Festival Egrang XIV yang digelar Tanoker Ledokombo di Lapangan Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (8/8/2026).
Mengusung tema “Membangun Harmoni Komunitas Melalui Permainan Tradisi”, festival yang digelar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional itu mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang, termasuk sejumlah tamu dari luar negeri dan berbagai daerah di Indonesia.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi, Bupati Jember Muhammad Fawait, serta sejumlah undangan lainnya turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Festival Egrang XIV diawali dari Balai Desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo. Dari lokasi tersebut, peserta berjalan kaki sekitar 400 meter menuju Lapangan Kecamatan Ledokombo.
Sebagian peserta menempuh perjalanan dengan menaiki egrang. Barisan pembuka jalan juga diisi anak-anak yang berjalan dengan egrang, menciptakan pemandangan unik sekaligus menegaskan pesan utama festival: permainan tradisional dapat menjadi sarana kebersamaan.
Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi dan Bupati Jember Muhammad Fawait bersama rombongan turut berjalan kaki mengikuti iring-iringan peserta.
Ketua Tanoker Ledokombo Farha Abdul Kadir Assegaf mengatakan Festival Egrang XIV dirancang sebagai ruang perjumpaan dan kolaborasi berbagai kelompok masyarakat.
“Festival Egrang XIV menjadi ruang kolaborasi lintas generasi dan lintas sektor. Di dalamnya ada anak-anak, orang muda, lansia, penyandang disabilitas, pendidik, keluarga, komunitas, tokoh masyarakat, pemerintah, hingga berbagai mitra pembangunan,” ujar perempuan yang akrab disapa Farha Ciciek tersebut.
Menurut Farha, festival tidak hanya bertujuan mempertahankan keberadaan permainan tradisional, tetapi juga menjadikannya sebagai medium untuk membangun karakter anak dan masyarakat yang lebih inklusif.
Egrang merupakan permainan tradisional Indonesia yang membutuhkan keseimbangan dan ketangkasan. Permainan ini juga memiliki unsur aktivitas fisik sehingga dekat dengan dunia olahraga.
Bagi Tanoker Ledokombo, egrang memiliki makna yang lebih luas. Permainan tersebut menjadi pintu masuk untuk melakukan pemberdayaan masyarakat, pendidikan, sekaligus penguatan karakter anak-anak di Ledokombo.
Program tersebut terutama menyasar anak-anak pekerja migran Indonesia serta anak-anak dari kelompok rentan.
Melalui festival, nilai-nilai seperti keberanian, kerja sama, keseimbangan, kepercayaan diri, dan penghargaan terhadap keberagaman coba dihadirkan melalui aktivitas yang menyenangkan.
Pesan inklusivitas semakin kuat ketika berbagai kelompok tampil di panggung Festival Egrang XIV.
Peserta datang dari beragam komunitas, antara lain kelompok disabilitas dari SLB Negeri Branjangan, Kecamatan Patrang, Jember; kelompok kesenian lintas iman Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi; murid Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan Jember; serta Kelompok Karang Werda Sekolah Eyang Ledokombo.
Sejumlah sekolah di Kecamatan Ledokombo juga ikut ambil bagian dalam festival tersebut.
Murid-murid SLB Negeri Branjangan tampil menari di hadapan Menteri PPPA dan Bupati Jember.
Dengan penuh percaya diri, mereka mengikuti gerakan yang diarahkan seorang pengarah gaya. Tiga anak bahkan tampil menggunakan kursi roda.
Penampilan berbeda ditunjukkan murid Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan. Mereka tampil semarak dengan perpaduan barongsai, egrang, tarian, dan tabuhan gendang.
Sementara itu, para lansia yang tergabung dalam Sekolah Eyang Ledokombo tampil enerjik melalui perpaduan tarian dan senam.
Mereka bahkan mengajak sejumlah tamu untuk ikut menari.
Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi, Bupati Jember Muhammad Fawait, hingga perwakilan Konsulat Jenderal Australia di Jawa Timur turut larut dalam tarian bersama para peserta.
Bagi Tanoker, perjumpaan berbagai kelompok dalam satu festival menunjukkan bahwa permainan tradisional masih memiliki tempat penting di tengah masyarakat modern.
Egrang tidak lagi hanya menjadi permainan anak-anak. Ia menjadi medium untuk mempertemukan generasi dan kelompok yang berbeda dalam suasana yang setara.
“Yang kami bangun melalui Festival Egrang adalah masyarakat yang saling terhubung, menghargai perbedaan, dan memberi ruang bagi setiap orang untuk berpartisipasi,” kata Farha.
Festival Egrang XIV pun bukan sekadar perayaan permainan tradisional. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi upaya Tanoker Ledokombo menjadikan tradisi sebagai kekuatan sosial untuk memperkuat karakter anak, merawat kebersamaan, dan membangun komunitas yang inklusif.