Senator Chris Murphy Sebut Donald Trump Kalah dalam Perang Melawan Iran: Posisi AS Semakin Lemah
Faisal Zamzami August 10, 2026 01:03 PM

 


SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON - Senator Amerika Serikat (AS) Chris Murphy secara terang-terangan mengkritik Presiden Donald Trump dengan menyebut Trump telah kalah dalam perang melawan Iran.

Murphy menilai perang yang terus berlanjut justru membuat posisi Amerika Serikat semakin lemah, sementara Iran dinilai semakin kuat. Ia juga menyoroti belum tercapainya kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik tersebut secara permanen.

Pernyataan itu disampaikan Murphy dalam wawancara dengan program NBC Meet the Press, Minggu (9/8/2026), seperti dilansir Anadolu Agency dan The Independent, Senin (10/8/2026).

"Jadi, Donald Trump telah kalah dalam perang ini," kata Murphy, Senator Connecticut dari Partai Demokrat.

"Amerika menjadi lebih lemah. Iran menjadi lebih kuat," lanjutnya.

Murphy mengatakan, perkembangan terakhir menunjukkan Trump berpotensi terpaksa menerima kesepakatan yang dinilai "buruk" demi mengakhiri konflik dan menarik AS keluar dari perang.

Pernyataan Murphy muncul di tengah laporan The Wall Street Journal (WSJ) bahwa Trump sedang mempertimbangkan opsi untuk mengakhiri konflik tanpa terlebih dahulu mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran.

Menurut laporan tersebut, Trump secara pribadi telah membahas kemungkinan menerima kesepakatan yang memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz, meski persoalan program nuklir Iran belum sepenuhnya terselesaikan.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik penting dalam konflik karena merupakan jalur strategis bagi lalu lintas energi dunia. Pembukaan kembali jalur tersebut menjadi salah satu kepentingan utama Washington dalam perundingan dengan Teheran.

Murphy mengatakan dirinya bahkan akan mendukung kesepakatan yang kurang ideal apabila hal tersebut dapat segera mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.

Menurutnya, biaya yang harus ditanggung AS untuk mempertahankan konflik terus meningkat seiring dengan belum tercapainya kesepakatan damai.

"Perang ini harus diakhiri karena setiap hari perang terus berlanjut, Amerika menjadi semakin lemah, Iran semakin kuat, dan masyarakat di Amerika Serikat semakin dirugikan akibat harga-harga yang terus melonjak naik," tegas Murphy.

Ia juga mengatakan akan menentang pendanaan untuk melanjutkan perang. Namun, Murphy menyatakan tetap mendukung pengisian kembali persediaan amunisi militer AS setelah konflik berakhir.

Baca juga: Trump Terjebak Skenario Iran: Pembukaan Selat Hormuz Makin Rumit, Tuntutan Teheran Melambung Tinggi

Trump Dihadapkan pada Pilihan Sulit

Laporan WSJ menunjukkan ruang gerak Trump untuk mengakhiri konflik semakin menjadi perhatian.

Washington sebelumnya menginginkan kesepakatan yang memastikan program nuklir Iran tidak dapat kembali dikembangkan, termasuk pembatasan terhadap kemampuan pengayaan uranium Teheran.

Namun, apabila prioritas bergeser pada pembukaan kembali Selat Hormuz, isu nuklir berpotensi tidak lagi menjadi syarat mutlak untuk mengakhiri perang.

Perubahan tersebut kemudian menjadi dasar kritik Murphy. Menurutnya, jika AS akhirnya mengakhiri perang tanpa mencapai tujuan utama yang sebelumnya ditetapkan, maka Trump akan menghadapi pertanyaan besar mengenai hasil strategis konflik tersebut.

Murphy menilai perang yang berkepanjangan juga memberikan dampak langsung terhadap masyarakat Amerika, terutama melalui tekanan ekonomi dan kenaikan harga.

Karena itu, ia menyerukan agar konflik segera diakhiri, meskipun Washington harus menerima kesepakatan yang tidak sepenuhnya memenuhi seluruh tuntutan awal AS.

Sementara itu, perkembangan mengenai Selat Hormuz dan perundingan AS-Iran masih berlangsung. Pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut menjadi salah satu faktor penting yang dapat menentukan arah konflik dan kemungkinan tercapainya kesepakatan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.