Gema Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 di Semarang
Moh. Habib Asyhad August 10, 2026 02:34 PM

Gema proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 di Semarang pertama kali diterima oleh dua wartawan Domei, M.S. Mintardjo dan Sjarief Soelaiman. Lalu dibacakan oleh wakil residen Semarang Mr. Wongsonegoro di hadapan rapat Komite Persiapan Indonesia Merdeka di Gedung Hookookai Semarang.

Oleh: M.S. Mintardjo | Tayang pertama di Majalah Intisari edisi Agustus 1970 dengan judul "Gema Proklamasi '45 di Semarang"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Tanggal 17 Agustus 1945 di Kantor Berita Domei. Meski hari kerja namun keadaan di situ seperti hari prei saja. Para petugas yang masuk dinas tidak berada di ruang kerja masing-masing.

Mereka duduk-duduk di luar. Ada yang saling ngobrol di bawah pohon kersen; ada yang nongkrong di teras muka sambil mengawasi orang lalu lalang di jalan besar itu. Yang di dalam kantor hanya orang-orang Nippon saja, itu pun tanpa kerja apa-apa. Melamun!

Keadaan demikian sudah berjalan 8 hari tanpa diketahui apa sebab-sebabnya. Baru belakangan diketahui bahwa sumbernya “kelesuan” itu ada di Tokyo.

Waktu itu pemerintah Dai Nippon sudah menyatakan kalah perang dan menyerah tanpa syarat pada Sekutu. Tetapi di Indonesia kapitulasi itu masih dirahasiakan. Para penguasa rupanya sedang menunggu instruksi…

Morse cast Domei

Di ruang atas gedung Jawa Hookookai yang letaknya di seberang jalan berhadapan dengan kantor Domei. Di sana sedang berlangsung rapat Komite Persiapan Indonesia Merdeka di bawah pimpinan Mr. Wongsonegoro Fuku Shucokan (wakil residen) Semarang.

Aku hadir di situ sebagai wartawan Domei. Kira-kira jam 12.00 selalu aku mencatat jalannya sidang tiba-tiba datang Sjarief Soelaiman wartawan Domei yang satunya (belakangan wartawan di Bandung). Aku dihampiri dan diajak turun ke ruang bawah.

“Ada berita penting, mas,” katanya sesampai di tempat yang dituju.

Di sini diberikan kepadaku secarik kertas. Ternyata itu sebuah morse cast, naskah berita Domei Pusat Jakarta yang disiarkan melalui radio-telegrafi.

Morse cast demikian biasanya kita teruskan pada Sinar Baroe – satu-satunya surat kabar harian di Semarang waktu itu – sebagai pers-copy. Kebetulan hari itu Sinar Baroe tidak terbit. Itulah sebabnya aku disusul rekan Sjarief Soelaiman itu untuk diajak pertimbangan bagaimana cara melancarkan berita itu lebih jauh.

“Kalau dibuat siaran kilat bagaimana, mas?” tukasnya, yang aku jawab “Mencetaknya di mana?”

“Tidak usah dicetak, dironeo saja!” (Roneo artinya memperbanyak dokumen atau tulisan menggunakan mesin stensil, red.)

“Pakai sheet yang kotak-kotak itu?”

“Iya.”

“Wah, susah Bung. Sheet Jepang tidak bisa diketik.”

Sejurus kemudian kita berdiam diri.

“Enaknya begini saja, Bung,” aku memutuskan setelah berpikir sejenak, “Sekarang juga kita sampaikan pada Chokan Kakka (yang kumaksud Fuku Shocokan Mr. Wongsonegoro) dan minta supaya beliau umumkan di depan sidang itu. Dengan begitu mereka yang datang dari kabupaten-kabupaten bisa dengan sekarang juga.”

“Itu cara yang bagus sekali, mas. Saya asese sudah.”

“Pada Sendenbu, Hoso Kyoku (radio propaganda Jepang, red.), Rikuyu (biro pengelola kereta api yang dibentuk Jepang, red.), BPP dll kita beritahukan lewat telepon,” kataku meneruskan.

“Dan juga diketik banyak-banyak untuk ditempel di tempat-tempat umum,” rekan Soelaiman menambahkan.

Begitulah dengan “rencana kerja” seperti itu kita naik kembali ke ruang atas. Langsung menuju tempat duduk ketua Komite Persiapan Indonesia Merdeka, Bapak Wongsonegoro SH.

Pembacaan dua kali di depan sidang

Setiap berita penting seperti umpamanya komunike perang, pengumuman Balatentara, dsb-nya sebelum dilansir surat kabar lebih dulu disampaikan pada pembesar pemerintah baik tingkat karesidenan maupun kabupaten. Demikian instruksi pimpinan redaksi Domei Pusat Jakarta.

Itu bukannya sensor melainkan servis belaka. Hampir semua instansi pemerintah berlangganan buletin Domei.

Pak Wongsonegoro karena sudah terbiasa mungkin, serentak tahu bahwa kita datang menghadap segera saja bertanya: “Daihonei kah?” (Daihonei merujuk pada pusat komando militer tertinggi Jepang selama Perang Dunia II, red.)

“Bukan, silakan paduka tuan menerimanya,” jawabku yang kemudian lalu disampaikan bung rekan Soelaiman, “Mohon agar paduka tuan sudi mengumumkan di depan sidang ini.”

Morse cast diterima. Mula-mula dibacanya dalam hati. Setelah mendapat penjelasan seperlunya dari rekan Soelaiman baru kemudian disuarakan kata demi kata yang bunyinya sbb:

djakarta 17/8 (domei) Proklamasi titik kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia titik hal² jang mengenai pemindahan dan lain² diselenggarakan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja titik djakarta 17-8-2605 titik atas nama bangsa Indonesia Soekarno-Hatta titik paraf.

Aku tidak ingat lagi, setelah pembacaan berita tersebut apa dikibarkan atau tidak Sang Dwiwarna di depan gedung yang megah itu. Yang pasti, berita tersebut dibacakan sampai 2 kali.

Rapat kemudian dibubarkan setelah dinyanyikan lagu Indonesia Raya dan disusul dengan pekik “Hidup Bung Karno, hidup Bung Hatta, hidup bangsa Indonesia”. Keadaan di situ menjadi riuh sekali. Masing-masing diliputi rasa riang gembira.

Parada Harahap meragukan berita Domei

Di ruang redaksi Domei bagian Indonesia. Dua wanita dengan mesin tulisnya masing-masing saling “ngebut” memperbanyak pers-copy itu untuk ditempel di tempat-tempat umum.

Sedang aku dan rekan Soelaiman di depan pesawat telepon masing-masing membacakan pada kantor-kantor Sendenbu, Hoso Kyuku, Rikuyu, Kanrikodan, yah, kepada siapa pun yang dapat dihubungi dengan telepon.

Tidak lama kemudian datang Parada Harahap pemimpin umum Sinar Baroe. Dia menyatakan terima kasihnya tindakan kita yang cepat-cepat mengirim naskah berita proklamasi itu kepadanya.

Tetapi dia meragukan akun kebenaran berita Domei itu. Berkata Parada selanjutnya:

“Kemerdekaan Indonesia baru merupakan janji dari Tenno Heika yang akan diberikan di kelak kemudian hari. Teknis dan administrasinya masih dalam penggodokan Dokuritsu Zyunbi Inkai. Secara tiba-tiba janji itu sekarang sudah diwujudkan seperti dikabarkan Domei itu.

Anehnya, sedikit pun tidak ada penjelasan dari pihak yang memberikan janji itu. Saya kuatir, jangan-jangan kemerdekaan itu diproklamasikan oleh oknum-oknum Indonesia saja. Tanpa izin dan di luar tahunya saudara tua. Kalau betul demikian, itu berarti perebutan kekuasaan. Pemberontakan! Akibatnya, seperti halnya peristiwa Blitar dengan Soeprijadi-nya itu, didrel!”

Begitu tanggapan Parada Harahap, yang di zaman itu sudah tergolong wartawan yang banyak makan garam jurnalistik. Akhirnya dinyatakan setelah persoalannya baginya menjadi jelas, Sinar Baroe pasti akan siarkan berita Domei tadi.

Stop pemberitaan proklamasi

Setelah Parada pulang kita kembali lagi pada pesawat telepon masing-masing. Maksudnya akan meneruskan pemberitahuan pada koneksi lainnya.

Tetapi ternyata maksud itu tidak pernah tercapai. Sebabnya selalu “kekontrol” suara yang masuk dari ujung sana yang minta keterangan, apa betul Indonesia sudah merdeka? Rupanya ada yang diumumkan 20 menit yl. di gedung Hookookai itu sudah menjadi kabar yang meluas dari mulut ke mulut.

Waktu itu kira-kira jam 12.30. Belum lagi aku sempat berbicara dengan nomor telepon yang kukehendaki mendadak datang padaku seorang markonis. Sambil berkata, “Stop, jangan teruskan.” Diberikan padaku secarik kertas yang isinya kubaca, “Perhatian! Jangan siarkan dulu berita proklamasi. Redaksi.”

Tiba-tiba saja rasa risau, dan takut merangsang semangatku. Takut kena “ciduk” Kempetai. Sementara keringat dingin membasahi sekujur badan telingaku mendengar suara beramai-ramai “Hidup Bung Karno. Hidup Bung Hatta. Hidup bangsa Indonesia”.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.