Citizen Reporter: Muhammad Fadel Audy Praja
Mahasiswa KKN Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - Limbah organik hasil aktivitas pertanian di Desa Belo, Kecamatan Ganra, Soppeng, tak lagi harus dicacah dengan mengandalkan tenaga manual.
Mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 116 memperkenalkan mesin pencacah kompos sederhana melalui program “Belo Mekanis: Penerapan Teknologi Tepat Guna Melalui Pembuatan Mesin Pencacah Kompos Manual” di rumah Gusnawati, Desa Belo, Minggu (9/8/2026).
Program ini dilaksanakan oleh Muhammad Fadel Audy Praja, mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Unhas sekaligus Koordinator Desa (Kordes).
Program Belo Mekanis dilatarbelakangi oleh potensi sektor pertanian Desa Belo yang menghasilkan bahan organik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kompos.
Namun, proses pencacahan secara manual membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup besar.
Karena itu, mahasiswa menghadirkan alat sederhana yang diharapkan dapat membantu masyarakat dan kelompok tani dalam mengolah bahan organik secara lebih praktis dan efisien.
Mesin pencacah tersebut menggunakan dinamo 150 watt, wadah berkapasitas sekitar 20 liter, serta empat mata pisau pencacah.
Alat dirancang sederhana agar mudah dioperasikan dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu observasi, pembuatan alat, sosialisasi, demonstrasi, dan praktik penggunaan.
Masyarakat dan kelompok tani diberikan kesempatan untuk melihat cara kerja mesin sekaligus mempraktikkan penggunaannya secara langsung.
Muhammad Fadel Audy Praja berharap mesin pencacah kompos tersebut tidak hanya menjadi output kegiatan KKN, tetapi dapat terus dimanfaatkan masyarakat Desa
Belo.
“Melalui Belo Mekanis, kami ingin menghadirkan teknologi yang sederhana dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Harapannya, alat ini dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat Desa Belo setelah program KKN selesai,” ujarnya.