Makna 0,9 Persen Hasil Survei Calon Wakil Presiden untuk Andi Amran Sulaiman
AS Kambie August 10, 2026 03:22 PM

TRIBUN-TIMUR,COM - Merujuk dokumen hasil survei nasional Indikator, 28 nama dikemukakan sebagai calon potensial Wakil Presiden Indonesia untuk Pemilihan Presiden 2029. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman masuk sebagai nomine.

Andi Amran Sulaiman bersaing, antara lain, dengan Dedi Mulyadi, Gibran Rakabuming Raka, Agus Harimurti Yudhoyono, Anies Baswedan, Teddy Indra Wijaya, dan Sugiono. 

Survei Nasional Indikator disebut dilakukan 10 hari, 14-24 Juli 2026. Melibatkan 4.250 responden, 3.700 sampel basis, ditambah oversample mahasiswa, buruh pabrik, dan nelayan. Margin of error nasional yang disebutkan adalah ±1,6 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Dalam salah satu player dokumen hasil survei Simulasi Terbuka, ditampilkan 28 Nama Calon Wakil Presiden. 

Dokumen itu juga memuat berbagai simulasi tertutup dan semi-terbuka pasangan capres-cawapres, sehingga nama-nama seperti Sjafrie Sjamsoeddin, Sugiono, Pramono Anung, Purbaya Yudhi Sadewa, dan lainnya juga muncul sebagai alternatif pasangan. Hal ini menunjukkan survei tidak hanya menguji tokoh-tokoh lama, tetapi juga figur yang baru naik dalam percakapan publik.

Dalam survei itu, Andi Amran Sulaiman bersaing ketat dengan Teddy Indra Wijaya (Letkol Teddy) dan  Ahmad Syaikhu. Ketiganya meraih 0,9 persen.

Jangan sebut atau baca atau bilang “hanya 0,9 persen”. Nol koma sembilan persen dari  total 290.125.073 penduduk Indonesia saat ini adalah sama dengan  2.611.125.657. Artinya, jika Pemilihan Presiden digelar hari ini, maka sudah hampir 3 juta orang memilih Andi Amran Sulaiman sebagai Wakil Presiden Indonesia. Lebih banyak dari total jumlah penduduk Makassar dan Bone. Penduduk Makassar per hari ini diperkirakan mencapai 1.482.800 jiwa, sedangkan Bone sekira 827.372 jiwa. Jadi kedua daerah ini, Makassar dan Bone, hanya dihuni sekitar 2.310.172.   

Tapi dibanding penduduk Indonesia yang sudah hampir mencapai 300 juta, angka 2,6 juta lebih itu memang terasa bagai gajah dan kuman. 

Tapi persentase itu tidak terlalu jauh dari Dedi Mulyadi yang memperoleh 22,6 persen, Gibran Rakabuming Raka 16,3 persen, atau Agus Harimurti Yudhoyono 12 persen. Bahkan masih berada di bawah Anies Baswedan, Mahfud MD, Sherly Tjoanda, Ganjar Pranowo, hingga Purbaya Yudhi Sadewa. Berdasarkan grafik dalam dokumen survei yang Anda lampirkan.

Tetapi bagi Sulawesi Selatan, angka 0,9 persen itu justru menyimpan cerita yang lebih besar. Karena nama di balik angka itu adalah Andi Amran Sulaiman.

Selama beberapa bulan terakhir, hampir tidak ada menteri yang seintens Amran mengisi ruang publik. Isu swasembada pangan. Cadangan beras nasional. Operasi pemberantasan mafia pangan. Reformasi pupuk. Pemecatan. Melaporkan mafia. Hingga kunjungan kerja ke berbagai daerah.

Bahkan sejumlah survei evaluasi kabinet menempatkan kinerja Menteri Pertanian sebagai salah satu yang memperoleh tingkat kepuasan tertinggi.

Lalu mengapa dalam simulasi calon wakil presiden, angkanya masih seperti itu? 

Justru di sinilah politik menjadi menarik. Popularitas media sosial tidak selalu identik dengan elektabilitas politik.

Pierre Bourdieu membedakan berbagai bentuk modal. Ada modal ekonomi. Ada modal sosial. Ada modal budaya. Ada pula modal simbolik.

Andi Amran Sulaiman hari ini jelas memiliki modal simbolik yang semakin besar. Ia dikenal sebagai menteri yang identik dengan isu pangan. Ia memperoleh sorotan karena ketegasannya terhadap mafia pangan. Ia tampil sebagai teknokrat yang bekerja. Tetapi modal simbolik belum otomatis berubah menjadi modal elektoral.

Untuk menjadi calon wakil presiden, seseorang tidak cukup dikenal. Ia harus hadir dalam imajinasi politik masyarakat sebagai pemimpin nasional. Di situlah jalan Andi Amran Sulaiman masih maraton.

Ada persoalan lain yang lebih struktural. Politik Indonesia masih sangat berpusat di Pulau Jawa. Perhatikan daftar nama pada simulasi itu. 

Dedi Mulyadi. Gibran Rakabuming Raka. AHY. Anies Baswedan. Mahfud MD. Ganjar Pranowo. Erick Thohir. Khofifah. Muhaimin.Sebagian besar memiliki arena politik yang berpusat di Jawa. Sementara figur dari luar Jawa dapat dihitung dengan jari. Sherly Tjoanda dari Maluku Utara. Amran Sulaiman dari Sulawesi Selatan. 

Beberapa nama lain muncul dengan persentase yang sangat kecil. Seolah-olah Indonesia memilih secara nasional. Tetapi membayangkan kepemimpinan nasional masih dari Jawa.

Di sinilah Sulawesi Selatan memiliki pengalaman sejarah yang unik. Daerah ini bukan wilayah pinggiran dalam sejarah politik Indonesia. Dari tanah Bugis lahir BJ Habibie. Dari tanah Bugis pula lahir Jusuf Kalla, yang dua kali menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia.

Kini muncul Andi Amran Sulaiman. Tetapi posisinya berbeda. Habibie lahir dari dunia teknologi. JK tumbuh dari dunia politik dan bisnis. Sementara Amran datang dari dunia pertanian. Ia berusaha membangun reputasi melalui sawah. Melalui produksi pangan. Melalui birokrasi teknokratis. Bukan melalui partai politik. Bukan pula melalui panggung oposisi. Karena itu, lintasan politiknya berbeda.

Namun justru karena itulah Amran menarik. Ia mungkin menjadi salah satu sedikit tokoh nasional yang sedang mencoba mengubah modal teknokrasi menjadi modal politik.

Perubahan itu tidak mudah. Bourdieu menyebut setiap arena memiliki aturan mainnya sendiri. Keberhasilan di arena pertanian belum tentu langsung diakui di arena politik elektoral. Seorang menteri yang berhasil belum otomatis dipersepsikan layak menjadi wakil presiden. Arena berubah. 

Modal yang dibutuhkan juga berubah.

Tetapi Sulawesi Selatan barangkali membaca Andi Amran Sulaiman dengan cara yang berbeda.

Bagi banyak orang Bugis, keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari jabatan. Melainkan dari kemampuan membawa nama daerah ke tingkat nasional. 

Dalam pengertian inilah, kehadiran Amran di dalam daftar calon wakil presiden tetap memiliki makna simbolik.

Ia menunjukkan bahwa dari Bone, dari Sulawesi Selatan, masih ada figur yang diperhitungkan dalam percakapan nasional. Bukan sebagai gubernur. Bukan sebagai kepala daerah. Tetapi sebagai salah satu nama yang masuk dalam imajinasi kepemimpinan Indonesia.

Tentu angka 0,9 persen belum cukup untuk berbicara tentang peluang. Terlalu dini. Terlalu kecil. Namun politik sering kali dimulai dari sesuatu yang kecil. 

BJ Habibie pernah dianggap hanya seorang teknokrat. Jusuf Kalla pernah dikenal terutama sebagai pengusaha dari Makassar. Keduanya kemudian menjadi Wakil Presiden.

Perjalanan menuju kepemimpinan nasional tidak selalu dimulai dari elektabilitas yang tinggi.

Kadang ia dimulai dari rekam jejak. Dari kepercayaan publik. Dari kinerja yang konsisten.

Dan dari kemampuan mengubah pengakuan profesional menjadi legitimasi politik.

Karena itu, mungkin angka yang paling penting dalam tabel ini bukan 22,6 persen milik Dedi Mulyadi. Bukan pula 16,3 persen milik Gibran. Bagi Sulawesi Selatan, angka yang layak direnungkan justru 0,9 persen itu.  

Bukan karena besar. Melainkan karena ia mengingatkan bahwa jalan menuju kepemimpinan nasional bagi tokoh dari Indonesia Timur masih jauh lebih panjang dibanding jalan yang ditempuh figur-figur dari Jawa.

Namun sejarah Indonesia juga menunjukkan satu hal. Tokoh besar tidak selalu lahir dari angka survei yang besar. Kadang mereka lahir dari kerja yang konsisten, modal simbolik yang terus bertambah, dan kepercayaan publik yang dibangun sedikit demi sedikit.

Mungkin itulah yang sedang dijalani Andi Amran Sulaiman hari ini. Bukan sedang memanen elektabilitas. Melainkan sedang menanam legitimasi. Dan dalam politik, seperti juga dalam pertanian, hasil panen seringkali tidak datang pada musim yang sama ketika benih ditanam. Hasil panen banyak ditentukan oleh musim dan iklim. Dan, harga hasil panen lebih ditentukan oleh banyak hal lagi.(*)

 

28 Figur Calon Wakil Presiden 2029

  1. Dedi Mulyadi = 22,6 persen
  2. Gibran Rakabuming Raka = 16,3 persen
  3. Agus Harimurti Yudhoyono = 12, 0 persen
  4. Anies Baswedan = 7, 8 persen
  5. Mahfud MD = 5,1 persen
  6. Sherly Tjoanda = 4,5 persen
  7. Ganjar Pranowo = 3,6 pedrsen
  8. Purbaya Yudhi Sadewa = 3,3 persen
  9. Erick Thohir = 2,1 persen
  10. Andika Perkasa = 1,4 persen
  11. Bahlil Lahadalia = 1,4 persen
  12. Khofifah Indar Parawansa = 1,1 persen
  13. Muhaimin Iskandar = 1,0 persen
  14. Amran Sulaiman = 0,9 persen
  15. Teddy Indra Wijaya (Letkol. Teddy) = 0,9 persen
  16. Ahmad Syaikhu = 0,9 persen
  17. Ahmad Luthfi = 0,8 persen
  18. Susi Pudjiastuti = 0,7 persen
  19. Gatot Nurmantyo = 0,5 persen
  20. Nasaruddin Umar = 0,5 persen
  21. Sri Mulyani Indrawati = 0.4 persen
  22. Zulkifli Hasan = 0, 2 persen
  23. Puan Maharani = 0,2 persen
  24. Pramono Anung = 0, 2 persen
  25. Anis Matta = 0,1 persen
  26.  Angela Tanoesoedibjo  = 0,0 persen
  27. Sjafrie Sjamsoeddin = 0,0 persen
  28. Sugiono = 0,0 persen
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.