TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Ada rasa bangga sekaligus tekanan yang dirasakan Made Kirana Anggarani, siswi kelas XI SMA Negeri 5 Balikpapan, setelah dipercaya menjadi bagian dari Paskibraka Kota Balikpapan tahun 2026.
Kirana, sapaan akrabnya, tidak hanya berhasil lolos dalam seleksi Paskibraka. Ia juga dipercaya mengemban tugas sebagai pembawa baki dalam prosesi pengibaran Sang Merah Putih pada upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bagi Kirana, kepercayaan tersebut menjadi pengalaman yang membanggakan sekaligus membuatnya harus mempersiapkan mental lebih kuat.
“Senang banget, Kak. Tapi ada pressure-nya juga,” kata Kirana saat ditemui dalam rangkaian latihan Paskibraka Kota Balikpapan, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, pembawa baki memiliki posisi yang cukup menjadi sorotan dalam prosesi pengibaran bendera.
Karena itu, kesalahan sekecil apa pun menjadi sesuatu yang ingin ia hindari.
Baca juga: Perjuangan Calon Paskibraka Babulu PPU Jelang HUT ke-81 RI, Digembleng Fisik dan Mental
“Posisinya agak spotlight. Jadi rasanya kalau sudah sendirian dan salah, pasti kayak, aduh, malu banget sendirian,” ujarnya.
Tekanan tersebut justru membuat Kirana semakin serius mengikuti setiap latihan yang diberikan para pelatih.
Ia menyadari, tugas sebagai pembawa baki bukan hanya membutuhkan kemampuan fisik, tetapi juga ketenangan dan kesiapan mental.
Keputusan Kirana mengikuti seleksi Paskibraka berawal dari keinginannya sendiri.
Ia mengaku termotivasi setelah melihat pengalaman kakak-kakaknya yang pernah menjadi Paskibraka pada angkatan 2019 dan 2024.
Cerita dan pengalaman mereka membuat Kirana tertarik untuk merasakan sendiri bagaimana menjadi bagian dari pasukan pengibar bendera.
“Lebih keinginan pribadi,” ungkapnya.
Ia kemudian memberanikan diri mengikuti seluruh tahapan seleksi Paskibraka Kota Balikpapan.
Mulai dari tes fisik, kesehatan, wawancara hingga kemampuan baris-berbaris harus dilewati.
Dari seluruh tahapan tersebut, latihan fisik menjadi tantangan paling berat bagi Kirana.
“Mungkin yang paling berat pas ngejar fisik. Karena saya sudah agak lama off dari latihan-latihan fisik. Terus pas seleksi ini saya kejar,” katanya.
Kirana harus kembali membangun stamina dan kekuatan fisiknya agar mampu mengikuti standar yang ditetapkan dalam seleksi.
Beruntung, ia mendapatkan dukungan penuh dari keluarga.
Orang tua memberikan semangat sekaligus membantu mengingatkan bagaimana menjaga kondisi tubuh selama mengikuti latihan.
Ada cerita lain yang membuat perjalanan Kirana menuju Paskibraka tahun ini terasa lebih personal.
Ibunya meninggal dunia pada Oktober 2025.
Meski kehilangan sosok penting dalam hidupnya, Kirana tetap melanjutkan langkahnya mengikuti seleksi dan menjalani latihan.
Dalam proses tersebut, ayah menjadi salah satu sosok yang terus memberikan dukungan kepadanya.
Ketika Kirana dinyatakan lolos seleksi, sang ayah menjadi orang pertama yang ia beri tahu.
“Bapak dulu. Responnya ikut senang terus doakan,” ujarnya.
Dukungan tersebut menjadi penyemangat tersendiri bagi Kirana untuk menjalankan setiap tahapan latihan.
Menjadi Paskibraka bukan berarti membuat Kirana melupakan kewajibannya sebagai pelajar.
Di tengah jadwal latihan dan masa persiapan, tugas sekolah tetap harus dikerjakan.
Bahkan, urusan tugas sekolah menjadi salah satu tantangan terbesar yang ia rasakan selama menjalani persiapan.
“Yang paling penting tugas, Kak. Tugas-tugas semua. Banyak banget,” katanya.
Setelah rangkaian latihan dan tugas Paskibraka selesai, Kirana sudah bersiap untuk kembali mengejar tugas-tugas sekolah yang sempat menumpuk.
Meski demikian, ia tidak menganggap hal tersebut sebagai beban yang membuatnya menyesal mengikuti Paskibraka.
Baginya, kesempatan tersebut terlalu berharga untuk dilewatkan.
Kirana sebenarnya sudah mengenal dunia latihan fisik sejak usia dini.
Ia mengikuti pencak silat Merpati Putih setelah diajak sang ayah.
Awalnya hanya mengikuti ajakan tersebut, tetapi lama-kelamaan Kirana merasa nyaman dan menikmati latihan.
“Saya awalnya diajak Papa dari kecil banget. Lama-lama sudah seru. Orang-orang di dalam sana juga welcome banget,” tuturnya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal ketika ia harus menjalani latihan fisik sebagai Paskibraka.
Namun, menurutnya, latihan Paskibraka tetap memiliki tantangan tersendiri karena menuntut kekompakan dan kedisiplinan dalam satu tim.
Berhari-hari menjalani latihan tentu membuat tubuh lelah.
Namun, bagi Kirana, ada momen yang membuat rasa lelah itu seperti hilang.
Yakni ketika ia bersama teman-teman sesama Paskibraka.
“Ketika lagi bareng-bareng sama teman-teman, ketawa-ketawa, itu hilang banget capeknya,” katanya.
Kebersamaan semakin terasa ketika mereka melakukan yel-yel bersama.
“Langsung good mood. Langsung kayak suasana jadi bagus,” ujarnya.
Momen-momen tersebut justru menjadi bagian yang paling ia nikmati selama mengikuti pelatihan.
Kirana merasa pengalaman bersama teman-teman Paskibraka akan menjadi kenangan yang sulit dilupakan setelah seluruh rangkaian tugas selesai.
Dalam menjalani latihan, Kirana juga memiliki sosok yang menjadi panutan.
Ia menyebut Kak Sisil sebagai salah satu role model-nya.
Kirana mengagumi kemampuan fisik Sisil ketika mengikuti latihan.
“Kalau Kak Sisil ikut latihan, saya lihat dia kuat banget, lari. Mantap banget,” ujarnya.
Sosok tersebut menjadi salah satu motivasi bagi Kirana untuk terus meningkatkan kemampuan fisiknya.
Terlebih, setelah dipercaya sebagai pembawa baki, ia merasa harus mampu menunjukkan kesiapan yang lebih baik.
Bagi Kirana, menjadi Paskibraka bukan sekadar mengikuti kegiatan sekolah atau perlombaan.
Ia melihat kesempatan tersebut sebagai bentuk kepercayaan untuk mewakili pelajar dari berbagai sekolah di Kota Balikpapan.
“Menjadi Paskibraka itu bangga banget. Kan perwakilan dari semua sekolah yang ada di Balikpapan dan dipilih,” katanya.
Kebanggaan tersebut semakin besar karena ia dipercaya menjadi pembawa baki.
Namun, kebanggaan itu juga berjalan beriringan dengan tanggung jawab.
Ia harus memastikan setiap gerakan dilakukan sesuai arahan pelatih.
Selama menjalani pelatihan, Kirana menilai materi yang diberikan para pelatih sudah sangat jelas.
Ia merasa para pelatih memberikan arahan secara detail sehingga anggota Paskibraka memahami apa yang harus dilakukan.
“Cukup banget. Benar-benar jelas menurut saya,” ujarnya.
Baca juga: 80 Calon Paskibraka di Paser Jalani Latihan, Efisiensi Anggaran tanpa Kurangi Kualitas Pembinaan
Kirana sebelumnya memang pernah mengikuti latihan Paskibraka di sekolah.
Namun, pengalaman menjadi calon Paskibraka Kota Balikpapan dinilainya berbeda karena tahapan seleksi dan pola latihan yang lebih kompleks.
Kini, seluruh latihan yang dijalani Kirana bersama anggota Paskibraka lainnya bermuara pada satu momen penting: pelaksanaan upacara 17 Agustus.
Sebagai pembawa baki, ia akan berada dalam posisi yang menjadi perhatian banyak mata.
Rasa pressure masih ada.
Namun, Kirana berusaha menjadikannya sebagai motivasi untuk tampil sebaik mungkin.
Ia ingin menjalankan kepercayaan tersebut dengan penuh tanggung jawab.
Bagi Kirana, perjuangan menjadi Paskibraka bukan hanya tentang berdiri di barisan pada hari kemerdekaan.
Ada latihan fisik yang harus dikejar setelah lama vakum, tugas sekolah yang menumpuk, dukungan ayah setelah kehilangan ibu, kebersamaan bersama teman-teman hingga rasa gugup karena dipercaya menjadi pembawa baki.
Semua pengalaman itu kini menjadi bagian dari perjalanan masa SMA-nya.
Dan ketika Sang Merah Putih nantinya berkibar di langit Balikpapan, Kirana berharap seluruh rasa lelah selama latihan terbayar lunas.
“Bangga banget,” ucapnya singkat, menggambarkan perasaannya dipercaya menjadi bagian dari Paskibraka Kota Balikpapan 2026. (*)