SURYA.co.id, MALANG - Biasanya, deretan Jeep di Pos Jemplang menjadi kendaraan yang membawa wisatawan menuju kawasan Gunung Bromo.
Namun, Selasa (11/8/2026), sebagian dari kendaraan itu justru digunakan untuk mengangkut orang dan perlengkapan menuju lokasi kebakaran.
Di tengah aktivitas wisata Bromo yang lumpuh akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), para sopir dan pemandu Jeep memilih turun tangan membantu petugas memadamkan api.
Baca juga: Kebakaran Meluas, Wisata Gunung Bromo Ditutup Total dari 5 Pintu Masuk
Mereka sadar, kebakaran yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bukan hanya mengancam alam, tetapi juga sumber penghidupan mereka.
Karhutla di kawasan Bromo telah berlangsung sejak Senin (3/8/2026). Hingga Selasa (11/8/2026), api masih belum sepenuhnya padam.
Luas lahan yang terbakar dilaporkan telah mencapai lebih dari 520 hektare. Kondisi tersebut membuat akses wisata menuju Gunung Bromo ditutup total.
Penutupan otomatis memukul aktivitas para pelaku jasa wisata. Sopir Jeep yang sehari-hari mengantarkan wisatawan menjelajahi kawasan Bromo kini tidak bisa bekerja seperti biasanya.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat komunitas Jeep Exotic Bromo yang bermarkas di Poncokusumo, Kabupaten Malang, memilih berpangku tangan.
Mereka justru mengerahkan armadanya untuk membantu petugas di lapangan.
Senin (10/8/2026) pagi, lebih dari 10 armada Jeep milik komunitas Exotic Bromo tiba di Pos Jemplang, Malang.
Sekitar 50 orang yang terdiri dari anggota komunitas ikut bergerak menuju Kaldera Bromo untuk membantu proses pemadaman.
Salah satu anggota komunitas Jeep Exotic Bromo, Suparno, mengatakan keterlibatan mereka dalam upaya pemadaman bukan kali pertama.
"Kami sudah tiga kali berpartisipasi membantu pemadaman. Semoga hari ini api bisa kembali dikendalikan. Kami juga meminta doa dari seluruh masyarakat Indonesia," ujar Suparno sebelum berangkat ke lokasi.
Bagi mereka, Bromo bukan sekadar destinasi wisata tempat mencari penghasilan.
Kawasan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang menggantungkan ekonomi dari aktivitas pariwisata.
Selama ini, denyut ekonomi para sopir Jeep, pemandu wisata, hingga pelaku usaha lainnya sangat bergantung pada aktivitas wisata Bromo.
Ketika akses wisata ditutup akibat kebakaran, aktivitas mereka ikut terhenti.
Namun, di tengah kehilangan penghasilan tersebut, mereka memilih menjaga kawasan yang selama ini menjadi sumber kehidupan.
Peluh bercampur debu dan jelaga menjadi pemandangan para relawan ketika membantu petugas menghadapi kobaran api.
Ada harapan sederhana yang mereka bawa: Bromo segera pulih sehingga aktivitas wisata kembali berjalan.
"Harapan kami, semoga Bromo segera kembali normal sehingga kami bisa bekerja kembali," kata Suparno.
Aksi komunitas Jeep tersebut menambah kekuatan dalam operasi penanganan karhutla yang melibatkan berbagai unsur.
Petugas BB-TNBTS, Manggala Agni, TNI/Polri, BPBD, pemadam kebakaran, relawan, hingga masyarakat terus berupaya mengendalikan api di kawasan Bromo.
Bagi komunitas Jeep Exotic Bromo, membantu pemadaman bukan hanya bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Ada kepentingan hidup yang ikut mereka pertaruhkan. Sebab, ketika Bromo terbakar, bukan hanya bentang alam yang terancam, tetapi juga denyut ekonomi masyarakat yang selama ini hidup dari kawasan tersebut. (Purwanto)