TRIBUN-SULBAR.COM - Skincare sudah menjadi salah satu kebutuhan bagi bayi.
Mulai dari baby cream, pelembap, hingga sunscreen.
Produk-produk tersebut membantu menjaga kesehatan dan melindungi kulit bayi.
Namun, apa jadinya jika orang tua salah memilih skincare untuk sang buah hati?
Kulit bayi yang masih sangat sensitif rentan mengalami masalah jika salah memilih skincare.
Baca juga: Detik-detik Ibu Gendong Bayi Dikeluarkan dari Rumah saat Proses Ekeskusi Lahan di Kalukku
Karena itu, orang tua perlu lebih teliti atau cermat dalam memilih produk skincare yang aman.
Jika tidak, tentu sangat berisiko, terlebih saat ini banyak skincare duplikasi atau produk palsu yang beredar.
Lantas, bagaimana cara mengetahui apakah bayi mengalami alergi akibat penggunaan skincare?
Dokter spesialis anak di RS Hosana Medica, dr. Hans Natanael Sp.A, BCCS, CIMI, CBATR, C.HydroT, menjelaskan bahwa orang tua dapat mengenalinya melalui efek atau reaksi yang muncul setelah penggunaan suatu produk.
"Kalau pada dasarnya aman-aman, tentunya tidak akan menimbulkan efek apa pun," ujar dr. Hans Natanael kepada jurnalis Dhiyanti Nawang dalam wawancara virtual untuk program MOMSPIRATION Tribun Health yang tayang di Kantor Tribunnews Solo, Klodran, Karanganyar, Jawa Tengah, pada Kamis (9/4/2026).
Sebaliknya, apabila setelah penggunaan skincare muncul perubahan pada kulit bayi, orang tua perlu memperhatikannya.
Reaksi seperti kemerahan, ruam, gatal, kulit menjadi kering atau iritasi, hingga pembengkakan dapat menjadi tanda bahwa kulit bayi tidak cocok dengan produk yang digunakan.
Meski demikian, munculnya reaksi pada kulit tidak selalu berarti bayi mengalami alergi.
Iritasi akibat kandungan tertentu dalam produk juga dapat menimbulkan keluhan yang serupa.
Karena itu, apabila reaksi menetap, semakin parah, atau disertai keluhan lain, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.
Menurut dr. Hans Natanael, salah satu langkah penting yang dapat dilakukan orang tua untuk mengurangi risiko reaksi pada kulit bayi adalah meninjau komposisi produk sebelum menggunakannya.
"Peran dari orang tua untuk memang mengetahui jika bayi tersebut apakah mungkin bisa alergi atau tidak terhadap suatu produk skincare, tentunya dengan meninjau komposisi skincare-nya tersebut," jelasnya.
Orang tua sebaiknya memilih produk yang memang diperuntukkan bagi bayi dan memiliki komposisi yang sesuai dengan kondisi kulit bayi.
Hindari penggunaan produk secara sembarangan, terutama produk yang mengandung bahan yang berpotensi menyebabkan iritasi pada kulit sensitif.
Selain memperhatikan kandungan, orang tua juga perlu memastikan produk yang digunakan telah memiliki izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
"Di Indonesia sendiri memang kita sudah ada badannya ya, BPOM, Badan Pengawas Obat dan Makanan. Jadi sudah teruji, sudah ada sertifikasi BPOM-nya tersebut," kata dr. Hans Natanael.
Meski demikian, adanya izin edar bukan berarti setiap bayi pasti akan cocok dengan suatu produk.
Setiap anak dapat memiliki kondisi dan sensitivitas kulit yang berbeda.
Karena itu, orang tua tetap perlu mengamati reaksi kulit setelah produk digunakan.
Jika setelah memakai skincare muncul kemerahan, ruam, rasa gatal, kulit mengelupas, atau pembengkakan, orang tua sebaiknya tidak mengabaikannya.
Penggunaan produk yang dicurigai menyebabkan reaksi dapat dihentikan sementara sambil mengamati kondisi kulit bayi.
Apabila reaksi semakin berat, menyebar, atau bayi menunjukkan gejala lain seperti pembengkakan pada wajah atau kesulitan bernapas, segera cari pertolongan medis.
Pada dasarnya, penggunaan skincare pada bayi dapat dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan kulit dan keamanan produknya.
Orang tua perlu lebih selektif dalam memilih produk, membaca komposisi, memastikan produk memiliki izin edar BPOM, serta memperhatikan reaksi kulit bayi setelah pemakaian.
Setelah menerapkan langkah tersebut, penggunaan skincare diharapkan dapat membantu merawat kulit bayi tanpa menimbulkan masalah pada kulit yang masih sensitif.(*)