Jakarta (ANTARA) - Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan komitmen untuk menerapkan prinsip nol toleransi terhadap kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) butuh kolaborasi semua pihak melalui penguatan pelayanan dan pengawasan yang kuat.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, aspek keamanan pangan merupakan prinsip yang tidak dapat ditawar dalam pelaksanaan MBG karena program pemenuhan gizi bagi masyarakat harus berjalan seiring dengan jaminan keamanan makanan yang dikonsumsi penerima manfaat.
"BGN terus meningkatkan pelayanan, pengawasan, monitoring, dan kolaborasi dari semua pihak agar program ini berjalan dengan baik, dengan nol toleransi terhadap kasus keracunan," ujar pria yang akrab disapa Mas Dar itu dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.
Ia menegaskan, BGN terus meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan MBG sebagai bagian dari upaya mencegah terjadinya risiko keamanan pangan, yang membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, mulai dari penyelenggara program hingga sekolah, guru, peserta didik, dan pihak terkait lainnya.
"Insyaa Allah kami, BGN, terus meningkatkan pelayanan, pengawasan, monitoring, dan kolaborasi dari semua pihak agar program ini berjalan dengan baik," katanya.
Menurut Mas Dar, upaya menjaga keamanan pangan harus dilakukan secara bersama-sama. Kepatuhan terhadap ketentuan konsumsi makanan, termasuk memastikan makanan dikonsumsi dalam batas waktu yang telah ditentukan, menjadi salah satu langkah penting dalam mencegah risiko yang tidak diinginkan.
BGN juga mengingatkan peserta didik agar tidak membawa pulang makanan MBG untuk dikonsumsi di rumah. Langkah tersebut dilakukan karena kondisi dan kualitas makanan setelah berada di luar pengawasan penyelenggara tidak dapat dipastikan, sehingga berpotensi menimbulkan risiko keamanan pangan.
Komitmen nol toleransi terhadap kasus keracunan menjadi bagian dari upaya BGN untuk memastikan MBG tidak sekadar memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga memberikan rasa aman kepada seluruh penerima manfaat.





