BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kepala Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Bangka Belitung Kombes Pol Norul Hidayat memilih cara tak biasa untuk menghapus praktik pungutan liar (pungli) di lingkungan lembaga pendidikan calon anggota Polri yang dipimpinnya.
Alih-alih membiarkan persoalan kesejahteraan menjadi alasan pembenaran pungli, ia membangun kegiatan pertanian dan peternakan sebagai sumber penghasilan yang halal.
Langkah tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya Norul membangun budaya integritas di SPN Lubuk Buntar, Bangka Belitung.
Atas komitmen itu, Norul dianugerahi Hoegeng Awards 2026 kategori Polisi Berintegritas oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Norul mengungkapkan, menghapus pungli merupakan salah satu keputusan paling berat yang diambil sejak dipercaya menjadi Kepala SPN pada Desember 2023.
Menurut dia, persoalan tersebut tidak cukup hanya diselesaikan dengan larangan, tetapi harus disertai alternatif yang dapat menjawab persoalan kesejahteraan.
"Yang jelas, menghapus pungli di SPN," kata Norul saat berbincang dalam Dialog Ruang Tengah, Selasa (11/8/2026), ketika ditanya keputusan tersulit selama memimpin SPN.
Menurutnya, menghapus pungli menjadi berat karena praktik tersebut berkaitan dengan kesejahteraan. Karena itu, ketika pola lama dihentikan, harus ada cara yang baik untuk menggantikannya.
Salah satunya dilakukan melalui program berkebun dan beternak. Norul mengaitkan langkah itu dengan program ketahanan pangan pemerintah sekaligus upaya mengubah pola pikir mengenai cara memperoleh penghasilan.
Baca juga: Pesan Kombes Norul : Polisi Wajib Tolak Perintah Pimpinan Jika Salah
"Kita mencoba mengganti pola pikir yang tadinya melakukan pungli dengan kegiatan berkebun," ujarnya.
Di SPN, sektor pertanian dan peternakan kemudian dikembangkan dalam sebuah sistem yang saling berkaitan. Pakan untuk hewan ternak diolah sendiri, sementara kotoran ayam dimanfaatkan kembali untuk pertanian.
Dengan demikian, kegiatan peternakan dan perkebunan membentuk sebuah siklus yang dapat menekan biaya produksi.
Norul mengakui hasil dari program tersebut belum maksimal. Namun, baginya, arah yang dibangun jauh lebih penting, yakni memastikan kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi melalui kegiatan yang halal.
"Usaha untuk mengarah ke sana sudah penting, yang penting halal. Untuk makan sehari-hari saya rasa sudah cukup," katanya.
Langkah menghapus pungli tersebut tidak berdiri sendiri. Sejak awal menjabat Kepala SPN, Norul mengaku fokus membangun karakter personel dan peserta didik.
Ia ingin calon anggota Polri memahami bahwa profesi yang mereka pilih merupakan tugas mulia dengan tanggung jawab besar kepada masyarakat.
Norul mengatakan, rumor mengenai biaya besar untuk menjadi anggota Polri menjadi tantangan tersendiri bagi lembaga pendidikan. Karena itu, pembentukan karakter dilakukan sejak peserta didik pertama kali masuk pendidikan.
Dalam proses pendidikan, aspek akademik, jasmani, serta mental dan kepribadian menjadi penilaian yang tidak dapat dipisahkan.
Menurut Norul, peserta didik yang memiliki kemampuan akademik bagus tetapi memiliki mental dan kepribadian buruk tetap tidak dapat dinyatakan berhasil.
Pembentukan karakter dilakukan melalui tiga tahapan, mulai dari masa Dasar Bhayangkara, pengisian ilmu kepolisian, hingga pembulatan atau latihan kerja.
Pada tahap awal, pola pikir peserta didik diarahkan dari masyarakat sipil menjadi seorang Bhayangkara dengan menanamkan nilai Tribrata dan Catur Prasetya.
Pembinaan moral juga dilakukan melalui kegiatan rohani dan pembahasan kasus-kasus yang terjadi di lapangan. Peserta didik diajak melihat persoalan seperti tawuran maupun pungli, kemudian menilai tindakan yang benar dan salah.
Bagi Norul, pendidikan tersebut harus menghasilkan polisi yang memiliki tiga fondasi utama, yakni moralitas, literasi, dan integritas.
Ketiganya harus berjalan beriringan agar seorang anggota Polri tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat.
Integritas, kata dia, juga berarti berani menolak perintah pimpinan apabila perintah tersebut salah. Sebab, polisi merupakan penegak kebenaran dan tidak boleh menjalankan sesuatu yang bertentangan dengan aturan.
Norul sendiri mengaku memegang pesan sederhana dari orang tuanya sejak awal menjadi polisi: jangan melakukan pungli dan jangan suka melakukan kekerasan. Pesan tersebut terus ia pegang sepanjang perjalanan kariernya.
Ia bergabung dengan jajaran Polda Bangka Belitung sejak 2016 setelah menyelesaikan pendidikan Sespimmen Polri. Sebelum menjadi Kepala SPN, ia pernah bertugas di bidang SDM, lalu lintas, Bimas, dan Pamovit.
Hoegeng Awards 2026 menjadi penghargaan yang tidak pernah ia sangka. Norul mengaku tidak pernah mendaftarkan dirinya karena proses nominasi dilakukan oleh masyarakat. Ia baru mengetahui dirinya masuk nominasi setelah menjalani proses wawancara.
Bagi Norul, penghargaan tersebut bukan alasan untuk mengubah prinsip, melainkan menjadi motivasi untuk mempertahankan apa yang selama ini dikerjakan. Ia percaya bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan baik akan dinilai dengan sendirinya, meski tidak selalu terlihat oleh publik.
"Kewajiban kita bekerja baik. Biarlah hak orang lain untuk menilai," ujarnya.
Kini, selain memastikan pendidikan calon anggota Polri berjalan baik, Norul ingin nilai integritas yang ditanamkan di SPN terus melekat hingga para peserta didik memasuki masa dinas dan bahkan sampai pensiun.
Menurutnya, kebanggaan terbesar bukan hanya ketika berhasil melantik seorang anggota Polri tepat waktu. Kemuliaan yang sesungguhnya adalah ketika nilai moralitas yang ditanamkan selama pendidikan tetap dijaga sepanjang pengabdian.
"Jaga marwahnya," pesan Norul kepada para anggota Polri yang pernah dididiknya. (Bangkapos.com/Fitri Wahyuni)