TRIBUNNEWS.COM – Ekonom senior Ferry Latuhihin mengkritisi pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II yang mencapai 5,29 persen menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis beberapa waktu lalu.
Pertumbuhan triwulan II lebih kecil daripada triwulan I yang mencapai 5,61 persen. Meski demikian, Ferry menyebut penurunan dari 5,61 menjadi 5,29 sebenarnya sangatlah besar.
Sebagai contoh, Ferry menyebut Jepang sebagai negara modern perlu berusaha “mati-matian” agar bisa mendapatkan pertumbuhan 1 persen.
Oleh karena itu, Ferry menilai pertumbuhan 5,29 persen bukanlah angka yang buruk. Meski demikian, dia mempertanyakan satu hal di balik pertumbuhan itu.
“Yang jadi pertanyaan adalah kualitasnya. Apakah pertumbuhan setinggi itu menciptakan lapangan kerja atau tidak? Apakah bisa mengangkat income masyarakat? Apakah bisa mengurangi kemiskinan,” kata Ferry dalam siniar di kanal YouTube miliknya, Senin, (10/8/2026).
“Kalau kita tahu 5,29 itu hanya menciptakan 24.000 lapangan kerja. Apa artinya? Artinya tidak sanggup menciptakan lapangan kerja.”
Dia menyebut jumlah kelas menengah di Indonesia terus turun dari 57,3 juta pada tahun 2019 menjadi 46,7 juta pada tahun 2026.
Menurut Ferry, fenomena ekonomi itu disebut immiserizing growth atau pertumbuhan yang justru memiskinkan rakyat. Istilah tersebut dikenalkan pertama kali oleh ekonom Jagdish Bhagwati tahun 1957.
“Bisa dikatakan bahwa immiserizing growth terjadi kepada negara kita. Artinya pertumbuhan tidak berkualitas, tidak mengangkat orang keluar dari jurang kemiskinan, tidak mengangkat income per capita secara signifikan, tidak mengangkat daya beli masyarakat kita,” ujarnya.
Mantan ekonom PT Danareksa itu menyampaikan immiserizing growth juga terlihat dari labor force atau angkatan kerja Indonesia yang 40 persennya bekerja di sektor formal, sedangkan 60 persennya di sektor informal. Dia menilai ekonomi Indonesia “sangat primitif”.
Lalu, dia menyinggung penurunan kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Menurut dia, ketika Orde Baru jatuh, kontribusinya mencapai 30 persen, tetapi sekarang hanya 18,5 persen.
Baca juga: Ekonom CORE Ragukan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II 2026 Capai 5,29 Persen
Mengenai pertumbuhan 5,29 persen, Ferry berkata angka itu juga masih didominasi oleh belanja pemerintah yang naiknya hampir 16 persen.
“PDB kita masih didominasi konsumsi yang besarnya di triwulan II mencapai 53,3 persen, sementara investasi masih 29 persen. Ini tidak bisa mengangkat pertumbuhan ekonomi ke 6 persen seperti yang dijanjikan [Menteri Keuangan] Purbaya Yudhi Sadewa,” ucap ekonom bergaya rocker itu.
Ferry mengklaim agar ekonomi tumbuh 6 persen, diperlukan porsi investasi yang lebih tinggi, setidaknya 38 hingga 40 persen dalam PDB Indonesia.
Dia menyebut ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Hal itu juga diperlihatkan oleh hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting beberapa waktu lalu yang menyebut kepuasan publik terhadap kondisi ekonomi turun dari 40 persen menjadi 15,7 persen.
Menurut dia, masalah ekonomi Indonesia disebabkan oleh problem institusional. Dia mengklaim tidak ada kepastian hukum sehingga regulasi berubah-ubah dan membuat pihak asing kurang tertarik berinvestasi di Indonesia.
Kemudian, dia berkata para elite politik yang menjadi pengambil keputusan hanya mementingkan diri sendiri.
“Birokrasi sangat gendut. Kita lihat bagaimana jumlah menteri dan wakil-wakilnya sampai 110 orang. Tidak ada negara lain yang menyaingi kita,” kata Ferry menyindir.
Dia berharap Presiden Prabowo Subianto agar meniru negara-negara seperti Jepang, Vietnam, dan Filipina yang menurunkan pajak demi bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
“Bukan ngejar-ngejar pajak, misalnya menurunkan Babinsa TNI, Polri, sampai ke desa-desa untuk mengejar-ngejar. Itu kelakukan yang buruk,” katanya.
BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu yang sebesar 5,12 persen.
Baca juga: Anggota Komisi XI DPR Soroti Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II, Nilai Ada Perlambatan
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, mengatakan perekonomian Indonesia pada triwulan II 2026 berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan sebesar Rp3.576,2 triliun.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II tahun 2026 bila dibandingkan dengan triwulan II tahun 2025 atau secara year on year tumbuh sebesar 5,29 persen, bila dibandingkan dengan triwulan 1 tahun 2026 atau secara quartal to quartal tumbuh sebesar 3,73 persen," ujar Edy saat rilis BPS, Rabu (5/8/2026).
BPS mencatat industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar pada triwulan II 2026 dengan kontribusi 0,90 persen.
Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh sektor perdagangan dengan sumber pertumbuhan 0,83 persen, konstruksi sebesar 0,62 persen, serta informasi dan komunikasi sebesar 0,48 persen.
Kinerja sektor-sektor tersebut menjadi penopang utama sehingga ekonomi Indonesia mampu tumbuh lebih tinggi pada triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor ekonomi mencatat pertumbuhan positif. Hanya sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami kontraksi.
Lima lapangan usaha terbesar, yakni industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, serta pertambangan, masih menjadi penopang utama perekonomian nasional dengan kontribusi mencapai 63,73 persen terhadap total PDB Indonesia.
"Total ke-5 lapangan usaha tersebut mencakup sekitar 63,73 persen dari total PDB Indonesia. Lapangan usaha yang tumbuh tinggi yaitu yang pertama pengadaan listrik dan gas masih tumbuh sebesar 10,81 persen peningkatan ini disebabkan oleh peningkatan penjualan listrik untuk semua segmen konsumen utamanya segmen rumah tangga bisnis dan industri," ujar Eddy.
Di posisi berikutnya, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 10,60 persen. Pertumbuhan ini didukung meningkatnya tingkat okupansi hotel dan membaiknya kinerja jasa boga, seiring semakin luasnya jangkauan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi tumbuh 6,97 persen, didorong semakin luasnya pemanfaatan layanan telekomunikasi di berbagai sektor, seperti kesehatan, pendidikan, perdagangan, dan layanan lainnya.
(Tribunnews/Febri/Nitis Hawaroh)