‘Satu Salah, Salah Semua’, Begini Kerasnya Penggemblengan 32 Paskibraka Cirebon di ‘Desa Bahagia’
taufik ismail August 12, 2026 01:11 PM

 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - "Satu salah, salah semua.” Kalimat itu menggambarkan kerasnya penggemblengan 32 calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Cirebon 2026 yang kini menjalani pemusatan di program yang disebut ‘Desa Bahagia’.

Di tempat tersebut, para calon Paskibraka tidak lagi hanya dituntut mampu baris-berbaris dengan baik.

Mereka harus menjadi satu kesatuan pasukan yang kompak, disiplin, memiliki mental kuat, serta mampu menjalankan setiap rangkaian prosesi tanpa kesalahan.

Kepala Kesbangpol Kota Cirebon, Eli Haryati mengatakan, tahapan pemusatan menjadi fase penting bagi 32 calon Paskibraka sebelum menjalankan tugas pada upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2026.

“Kalau pada awal tahap seleksi yang dicari adalah siapa yang memenuhi syarat, nah, pada pemusatan ini calon Paskibraka sudah lebih fokus menjadi bagaimana 32 orang ini menjadi satu kesatuan pasukan,” ujar Eli saat diwawancarai di kantornya, Rabu (12/8/2026).

Menurut Eli, kekompakan menjadi kunci. Sebab, dalam tugas Paskibraka, gerakan setiap anggota harus berjalan seragam.

“Soalnya kalau tidak jadi satu kesatuan pasukan, satu salah, yang sudah, salah semua,” ucapnya.

Dari 212 Pendaftar, Hanya 32 yang Terpilih

Perjalanan 32 calon Paskibraka tersebut dimulai dari proses seleksi yang cukup ketat.

Kesbangpol Kota Cirebon mencatat sebanyak 212 siswa dari 19 SMA, SMK, dan MA negeri maupun swasta mendaftar akun untuk mengikuti seleksi calon Paskibraka 2026.

Dari jumlah tersebut, terdiri atas 104 peserta putra dan 108 peserta putri. Sebanyak 182 peserta kemudian melengkapi berkas persyaratan. 

Setelah dilakukan verifikasi, 88 siswa putra dan 94 siswa putri dinyatakan lulus seleksi administrasi.

Namun, tidak seluruh peserta berhasil melanjutkan ke tahap berikutnya. Sebanyak 11 peserta dinyatakan tidak lulus seleksi administrasi, sementara 19 peserta lainnya tidak melengkapi berkas pendaftaran.

Dalam proses seleksi tersebut, panitia bahkan sempat memperpanjang masa pendaftaran.

Eli menjelaskan, perpanjangan dilakukan karena jumlah pendaftar putri yang memenuhi persyaratan tinggi badan masih belum mencukupi kebutuhan Paskibraka Kota Cirebon.

“Untuk pendaftar putri yang tinggi badannya memenuhi persyaratan masih kurang dari jumlah kebutuhan Paskibraka di Kota Cirebon,” kata dia.

Perpanjangan pendaftaran kemudian dilakukan pada 30 Maret hingga 3 April 2026.

Hasil akhirnya, sebanyak 32 peserta terpilih untuk menjadi calon Paskibraka tingkat Kota Cirebon.

Selain itu, dua peserta dikirim untuk mengikuti proses seleksi Paskibraka tingkat Jawa Barat.

Masuk ‘Desa Bahagia’

Setelah melewati tahapan seleksi, para calon Paskibraka menjalani pra-diklatsar, Persami atau Perkemahan Sabtu Minggu, hingga masuk tahap pemusatan.

Kini mereka menjalani pemusatan dengan sistem yang disebut ‘Desa Bahagia’.

Istilah atau nama simbolis Desa Bahagia sendiri merupakan lokasi pemusatan pendidikan, pelatihan, dan karantina tempat para calon Paskibraka tinggal bersama sebelum bertugas.

Di Kota Cirebon, Desa Bahagia terpusat di sebuah hotel di Jalan Pamitan Kota Cirebon. 

Sementara untuk latihannya dipusatkan di lapangan Stadion Bima Kota Cirebon.

Dalam sistem tersebut, para peserta tinggal bersama di satu lokasi dan menjalani aktivitas secara teratur.

Pola pembinaan itu diarahkan untuk membentuk karakter, kedisiplinan, kebersamaan, kepemimpinan, serta pengamalan nilai-nilai Pancasila.

“Di Desa Bahagia ini, dalam pemusatan Diklatsar Paskibraka, peserta tinggal bersama di satu lokasi dan dengan menerapkan sistem Desa Bahagia,” katanya.

Menurutnya, pada fase ini kemampuan individu bukan lagi menjadi satu-satunya ukuran. Justru kekompakan seluruh anggota pasukan menjadi hal yang sangat menentukan.

“Pada hari-hari terakhir ini yang sangat menentukan bukan lagi kemampuan individu, tetapi kekompakan, ketepatan gerakan, disiplin, stamina, mental, dan kemampuan mengikuti seluruh rangkaian prosesi tanpa ada kesalahan,” ujarnya.

Tak Cuma Baris-Berbaris

Eli mengatakan, pembinaan di ‘Desa Bahagia’ tidak hanya berfokus pada latihan fisik dan teknik kepaskibrakaan.

Para siswa juga ditempa dari sisi karakter dan mental. Kedisiplinan menjadi salah satu hal utama yang ditanamkan, mulai dari ketepatan waktu, kerapian, kepatuhan terhadap aturan hingga pembiasaan menjalankan jadwal secara tertib.

“Paskibraka itu tidak hanya dinilai dari kemampuan fisik, tetapi juga sikap dan karakter. Menekankan disiplin, tanggung jawab, persatuan, dan kerja keras,” ucap Eli.

Mental peserta juga dilatih agar berani dan percaya diri ketika harus tampil di hadapan banyak orang.

Mereka juga dibiasakan berkonsentrasi dalam tekanan karena nantinya harus menjalankan tugas di hadapan pejabat dan masyarakat.

“Melatih konsentrasi di bawah tekanan, di depan orang-orang, di depan pejabat, masyarakat. Menumbuhkan rasa tanggung jawab sebagai wakil pelajar Kota Cirebon,” kata dia.

Selain itu, pembinaan ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan turut diberikan.

Materi tersebut disampaikan pada malam hari dengan menghadirkan alumni Purna Paskibraka, kepala SKPD hingga camat.

Sementara pada siang hari, para peserta fokus menjalani latihan tata upacara dan kepaskibrakaan.

Paskibraka Cirebon Dilarang Makan Pedas dan Minum Es

Di tengah latihan yang padat, kondisi kesehatan para calon Paskibraka juga menjadi perhatian.

Kesbangpol bersama jajaran panitia dan pelatih bekerja sama dengan tim kesehatan serta PSC 119 untuk memantau kondisi fisik peserta.

Pola makan, tidur, dan kebugaran peserta juga diatur. Bahkan, selama menjalani pemusatan, para calon Paskibraka tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan pedas maupun minuman es.

“Tidak boleh yang namanya makan pedas, makan es, itu tidak boleh,” katanya.

Keluarga yang datang menjenguk pun diminta memperhatikan makanan yang dibawa.

“Bu, jangan yang pedas, jangan yang es,” ujar Eli, menirukan pesan kepada keluarga peserta.

Buah-buahan seperti pisang justru menjadi salah satu pilihan makanan yang diperbolehkan.

Selain menjaga pola makan, kondisi peserta juga terus dipantau selama latihan.

Jika ada peserta yang mengalami kelelahan atau cedera, tim kesehatan akan segera memberikan perhatian.

“Selalu didampingi oleh PSC 119. Jadi kita selalu melihat, ‘Wah, itu kayaknya ada anak ada mau lelah nih.’ Atau ada kayaknya terkilir atau apa, itu selalu dipantau,” ucapnya.

Disiplin Jadi Tantangan Terberat

Dari seluruh rangkaian pembinaan tersebut, Eli menyebut disiplin menjadi tantangan yang paling berat bagi para siswa.

Sebab, kehidupan mereka selama pemusatan berbeda dengan keseharian sebelum mengikuti pembinaan Paskibraka.

Mereka harus bangun pagi, mengikuti aktivitas bersama, hingga menjalankan setiap kegiatan sesuai jadwal.

“Tantangan terberat mungkin disiplin, kalau menurut saya,” kata Eli.

Menurutnya, kedisiplinan bukan hanya soal mengikuti perintah pelatih, tetapi juga membiasakan diri menghargai waktu dan menjalankan tanggung jawab.

Meski menerapkan aturan tegas, panitia tetap memperlakukan para peserta sebagai anak-anak yang membutuhkan pendampingan.

“Kita menerapkan disiplin tegas, tapi mereka itu tetap adalah anak-anak. Jadi tetap kita perlakukan sebagai orang tua yang mengayomi anak-anaknya,” katanya.

Bukan Sekadar Tugas 17 Agustus

Eli berharap pengalaman menjadi Paskibraka tidak berhenti ketika tugas pengibaran dan penurunan bendera pada 17 Agustus selesai.

Menurutnya, para siswa yang berhasil lolos seleksi merupakan pelajar terpilih yang telah melewati persaingan ketat dengan ratusan peserta lainnya.

“Lulus seleksi menjadi calon Paskibraka, khususnya Paskibraka tahun 2026 ini di Kota Cirebon, mereka adalah anak-anak yang beruntung, anak-anak yang membanggakan,” ujarnya.

Ia menilai pengalaman tersebut akan menjadi kenangan seumur hidup bagi para siswa sekaligus kebanggaan bagi keluarga dan sekolah.

“Ini akan menjadi pengalaman seumur hidup yang akan dikenang, baik oleh dirinya, nanti kepada orang tuanya membanggakan, mungkin masyarakat, sekolah,” ucap dia.

Eli berharap nilai disiplin, semangat, kepemimpinan dan rela berkorban yang diperoleh selama menjadi Paskibraka dapat terus dibawa hingga mereka dewasa.

“Harapan saya, selesai Paskibraka, tanamkan sifat semangat, kemudian sifat kepemimpinan, sifat disiplin untuk meraih cita-cita,” jelasnya.

Ia juga berharap para calon pemimpin masa depan tersebut kelak memiliki keberanian untuk mengabdi kepada masyarakat.

“Harapan saya dengan gemblengan Paskibraka ini, tentu saja menjadi pemimpin atau menjadi pelaku yang amanah. Yang punya jiwa disiplin, semangat, rela berkorban,” katanya.

Baca juga: Kapolres Kuningan Terima Kunjungan Silaturahmi dan Beri Motivasi Kepada 36 Anggota Paskibraka 2026

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.