Awfia Nafisa Pelajar Asal Bener Meriah, Menyemai Masa Depan Puisi Gayo
Mawaddatul Husna August 12, 2026 01:54 PM

TribunGayo.com, BANDA ACEH - Di usia yang baru 14 tahun, Awfia Nafisa telah menunjukkan sesuatu yang tidak biasa.

Ia datang dari sebuah ruang pendidikan di MTsN Simpang Tiga Redelong, Bener Meriah, Provinsi Aceh membawa puisi sebagai cara untuk membaca dunia, menyuarakan perasaan, sekaligus merawat bahasa dan kebudayaan Gayo.

Bagi Awfia, puisi bukan sekadar rangkaian kata. Di tangannya, puisi menjadi ruang untuk bertumbuh. Prestasinya mulai berbicara.

Ia meraih Juara 3 Puisi Gayo tingkat Kabupaten Bener Meriah, kemudian melangkah lebih jauh dengan meraih Juara 1 Puisi Daerah tingkat Provinsi Aceh. 

Prestasi itu mengantarkannya menjadi utusan Kabupaten Bener Meriah dan Provinsi Aceh dalam Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Nasional di Jakarta, pada cabang puisi daerah.

Awfia Masuk Nominasi 50 Penulis Puisi Terbaik Nasional

Tidak berhenti di sana. Pada tahun 2026, nama Awfia Nafisa juga masuk dalam nominasi 50 penulis puisi terbaik tingkat nasional.

Rangkaian prestasi tersebut memperlihatkan bahwa bakat Awfia bukan muncul secara kebetulan.

Ada keberanian untuk belajar, ketekunan untuk berlatih dan yang paling penting, ada kecintaan kepada bahasa serta dunia sastra.

Darah seni mengalir dalam tubuh Awfia dari sang ayah, Hamdani, seorang Ceh Didong Gayo di Bener Meriah.

Hamdani tidak hanya mengenal dunia seni tradisi, tetapi juga berprofesi sebagai jurnalis.

Dari lingkungan keluarga inilah Awfia tumbuh dalam suasana yang dekat dengan kata, cerita, tradisi, dan ekspresi kebudayaan.

Didong dan puisi memang memiliki bentuk yang berbeda, tetapi keduanya bertemu pada satu hal: kekuatan kata.

Barangkali dari sanalah Awfia belajar bahwa kata-kata bukan sekadar bunyi.

Kata dapat menjadi ingatan, dapat menjadi identitas, dan dapat menjadi jalan untuk menyampaikan suara sebuah generasi.

Yang menarik, kemampuan Awfia tidak hanya berada pada bahasa dan sastra daerah. Ia juga mahir berbahasa Inggris.

Dalam Airlangga Competition 2026, kemampuan tersebut membawanya meraih medali emas.

Ada sesuatu yang penting dari perjalanan Awfia.

Ia tidak sedang meninggalkan Gayo ketika memasuki dunia nasional. Sebaliknya, ia membawa Gayo bersamanya.

Ketika ia membacakan puisi daerah di panggung kompetisi, yang hadir bukan hanya seorang anak berusia 14 tahun. 

Di dalam suaranya ikut tumbuh bahasa, tradisi, alam, dan ingatan Tanah Gayo.

Inilah yang membuat perjalanan Awfia layak mendapat perhatian.

Generasi muda seperti dirinya diperlukan untuk memastikan bahasa dan sastra daerah tidak berhenti sebagai warisan masa lalu. 

Awfia adalah salah satu dari generasi itu.

Dukungan Besar dari Orang Tua

Di balik langkah Awfia, ada dukungan besar dari kedua orang tuanya.

Dukungan keluarga menjadi fondasi penting bagi anak yang sedang menemukan jalan kreatifnya.

Ketika seorang anak diberi ruang untuk membaca, menulis, tampil, berkompetisi, dan mengembangkan kemampuan, sesungguhnya keluarga sedang membantu membangun kepercayaan dirinya.

Awfia beruntung memiliki rumah yang memberikan ruang tersebut.

Sementara sang ayah, Hamdani, hadir dengan pengalaman seni dan jurnalistiknya, bersama-sama memberikan dukungan agar bakat Awfia dapat tumbuh dengan baik.

Hari ini ia masih 14 tahun. Tetapi dari usianya yang belia itu, sebuah suara sudah mulai terdengar.

Suara seorang penyair muda dari Tanah Gayo. (*)

Baca juga: LK Ara, Penyair Gayo Terima Penghargaan Penyair Adiluhung Hari Puisi Indonesia

Baca juga: Buku Puisi Taufiq Ismail Versi Korea Diserahkan pada Pembukaan BIDF 2026 di Busan

Baca juga: Baca Puisi di Pasar Gintung, Ruang Ekonomi jadi Ruang Kebudayaan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.