Teddy Tjahjono Bicara Regulasi Lisensi Pelatih dan Wasit untuk Liga Putri Indonesia
Wila Wildayanti August 12, 2026 03:33 PM

MUHAMMAD ALIF AZIZ MARDIANSYAH/BOLASPORT.COM
CEO Indonesia Women's League, Teddy Tjahjono, berbicara soal regulasi pelatih lisensi untuk Liga Putri Indonesia dan juga bicara soal wasit perempuan yang akan pimpin kompetisi.

BOLASPORT.COM - CEO Indonesia Women's League, Teddy Tjahjono, mengungkapkan regulasi ketat terkait lisensi pelatih dan keterlibatan wasit wanita jelang bergulirnya Liga Putri Indonesia yang bakal bergulir pada 17 Oktober 2026.

Liga Putri Indonesia atau Indonesia Women's League (IWL) dipastikan bakal bergulir di Stadion Soemantri Brodjonegoro, Jakarta, yang dimulai pada 17 Oktober 2026 hingga akhir Januari 2027.

Kompetisi Indonesia Women's League ini dipastikan menjadi kabar baik setelah Liga Putri terakhir kali digelar pada 2019 lalu.

Untuk itu, kompetisi ini baru akan diikuti oleh enam tim terlebih dahulu yakni Persija Jakarta, Persita Tangerang, Dewa United, Garudayaksa, Persikad Depok, dan FC Bekasi City.

Jelang menghadapi kompetisi resmi ini, Teddy Tjahjono pun mengungkapkan beberapa regulasi yang akan jadi pegangan untuk gelaran Indonesia Women's League musim ini.

Teddy Tjahjono mengatakan bahwa untuk lisensi pelatih pasti I.League sebagai operator kompetisi akan mengikuti aturan yang ada dari AFC.

Oleh karena itu, untuk pelatih kepala harus memiliki lisensi A AFC, karena ini merupapkan lisensi satu tingkat di bawah lisensi tertinggi AFC Pro.

Namun, untuk memberikan kemudahan dan memberikan ruang buat perempuan agar lebih berkembang, PSSI dipastikan akan memberikan jalur khusus percepatan.

Hal ini karena I.League juga mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh FIFA sejak 19 Maret lalu, bahwa setiap tim harus menyertakan setidaknya satu pelatih kepala atau asisten perempuan dalam turnamen perempuan.

Aturan ini mulai berlaku tahun ini, setiam tim yang berpartisipasi dalam kompetisi wanita FIFA harus memastikan bahwa pelatih kepala atau setidaknya satu asisen pelatih adalah perempuan, bahwa setidaknya satu staf medis adalah perempuan, dan bahwa setidaknya dua ofisial yang duduk di bangku cadangan tim adalah perempuan.

Ini berlaku untuk semua turnamen junior dan senior, kompetisi nasional, dan kompetisi klub.

Langkah penting ini merupakan bagian dari pendekatan jangka panjang FIFA, yang menggabungkan kemajuan hukum dengan investasi berlanjutan dalam pengembangan pelatih.

Untuk itu, Teddy pun memastikan bahwa di Liga Putri Indonesia ini dipastikan akan ada pelatih perempuan, dan apabila ia menjadi pelatih I.League tak masalah lisensinya B.

Walaupun dengan catatan ada percepatan ke A, dan mantan Direktur PT Persib Bandung Bermartabat tersebut mengatakan bahwa PSSI akan memudahkan para pemain agar percepatan untuk bisa naik level ke Lisensi A.

"Pelatih kepala harus A (AFC). Kalau putri kita berikan keleluasaan untukturun satu level (Lisensi B) untuk head coach, tapi diwajibkan untuk percepatan ke A," ujar Teddy Tjahjono kepada awak media termasuk BolaSport.com, Selasa (12/8/2026).

"PSSI sudah memberikan jalur khusus percepatan. Asisten pelatih harus B, tapi kalau putri boleh C," tegasnya.

"Kita mengutamakan supaya tetap ada putrinya di tim."

Tak hanya soal lisensi, satu hal yang menarik perhatian adalah kewajiban klub untuk menyertakan pelatih wanita di dalam jajaran staf.

Hal ini bukan tanpa alasan, Teddy menegaskan bahwa keberadaan sosok perempuan di tim pelatih adalah bagian dari implementasi safeguarding.

Ia ingin memastikan bahwa Liga Putri Indonesia benar-benar bebas dari praktik perundungan atau bullying hingga pelecehan seksual (sexual harassment).

"Wajib. Termasuk safeguarding itu wajib," kata Teddy Tjahjono.

"Karena kondisi khusus perempuan tadi, kita menghindari adanya pelecehan (sexual harassment), bullying, dan lain-lain. Jadi ada penerapan safeguarding-nya juga," jelasnya.

Semangat pemberdayaan perempuan ini juga merambah ke sektor pengadil lapangan dan manajemen klub.

Teddy mendorong agar posisi-posisi strategis dalam pertandingan, mulai dari wasit hingga Match Commissioner, diisi oleh tenaga perempuan.

"Sebisa mungkin dimaksimalkan putri, begitu juga Match Commissioner, termasuk pengurus klubnya kita dorong putri," ungkap Teddy.

PSSI sendiri tidak tinggal diam untuk memenuhi kebutuhan tenaga profesional perempuan ini.

Menurut Teddy, pihaknya tengah berkomunikasi dengan PSSI untuk membuka keran pendidikan khusus bagi para ofisial wanita.

"Makanya obrolan dengan PSSI akan ada Coach Educator Program dan lain-lain supaya memperbanyak ofisial dan manajemen putri," tuturnya.

Dengan aturan ini, Liga Putri Indonesia diharapkan tidak hanya melahirkan talenta hebat di atas lapangan, tetapi juga menjadi pionir dalam tata kelola sepak bola putri yang profesional dan aman di Tanah Air.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.