Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup, Pakistan Turun Tangan Jadi Mediator
Muhammad Hadi August 12, 2026 04:24 PM

Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup, Pakistan Turun Tangan Jadi Mediator

SERAMBI NEWS.COM – Iran kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sebelum Amerika Serikat (AS) memenuhi sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran.

Penegasan tersebut disampaikan ketika Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi melakukan kunjungan ke Teheran.

Kunjungan itu berlangsung di tengah upaya Islamabad menjadi mediator untuk membantu mengakhiri konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel.

Dikutip SerambiNews melalui Al Jazeera, Rabu (12/8/2026), Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang baru diangkat, Mohsen Rezaei, menyampaikan posisi tersebut saat bertemu dengan Duta Besar China untuk Iran Cong Peiwu.

Menurut Rezaei, Washington harus menghentikan kampanye militernya terhadap Iran serta membebaskan aset Iran yang masih dibekukan di luar negeri.

Tanpa langkah tersebut, Iran menyatakan tidak akan membuka kembali jalur perairan strategis yang menjadi salah satu jalur utama perdagangan energi dunia.

“Selama AS tidak mengubah perilakunya dan menerima syarat-syarat Iran, Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali,” kata Rezaei, menurut laporan media Iran.

Baca juga: Trump Pusing Serangan Militer ke Iran Tak Mempan, Andalkan Sanksi Ekonomi untuk Tekan Teheran

Iran Ajukan Syarat Pembukaan Hormuz

Rezaei kemudian mempertegas posisi Iran melalui unggahan di media sosial X.

Ia meminta AS menghentikan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Iran juga menuntut adanya gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk di Gaza dan Lebanon.

“Pesan Iran jelas,” tulis Rezaei.

Menurutnya, Selat Hormuz baru akan dibuka setelah AS mengakhiri perang dan blokade, membebaskan aset Iran yang dibekukan, serta menyetujui gencatan senjata di seluruh kawasan.

“Sampai semua persyaratan terpenuhi, Selat akan tetap ditutup,” tegasnya.

Hingga laporan tersebut dibuat, belum ada tanggapan langsung dari pemerintah AS mengenai pernyataan Rezaei.

Selat Hormuz memiliki posisi strategis karena menjadi jalur penting bagi perdagangan minyak dan gas dunia.

Gangguan terhadap jalur tersebut dapat berdampak terhadap pasokan energi dan harga minyak global.

Baca juga: Trump Diam-Diam Ganti Pesawat di Turki Hindari Ancaman Iran, Keamanan Air Force One Dipertanyakan

Pakistan Berusaha Menjadi Mediator

Di tengah kebuntuan tersebut, Pakistan berupaya memainkan peran sebagai mediator.

Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Teheran.

Pertemuan tersebut membahas berbagai isu, mulai dari hubungan politik, ekonomi, perdagangan, budaya hingga keamanan.

Kunjungan Naqvi berlangsung ketika Islamabad berupaya membantu mencari jalan keluar dari konflik yang semakin meluas.

Pakistan memiliki hubungan dengan Iran sekaligus hubungan strategis dengan sejumlah negara yang terlibat dalam konflik.

Karena itu, Islamabad dinilai memiliki ruang untuk menjalankan peran diplomatik.

Selain Pakistan, Qatar juga ikut terlibat dalam upaya mediasi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari mengatakan pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz telah memasuki tahap lanjut.

“Kami telah mendengar pernyataan positif dari kedua ibu kota dalam beberapa hari terakhir,” kata al-Ansari.

Menurutnya, prioritas utama adalah membuka kembali Selat Hormuz, mempertahankan gencatan senjata, dan mendorong proses menuju negosiasi.

Namun, Iran menegaskan bahwa kesepakatan dengan Oman mengenai rute pelayaran tidak otomatis berarti Selat Hormuz akan dibuka kembali.

Baca juga: Parlemen Iran Godok Aturan Baru, Kapal Negara Musuh Dilarang Masuk Teluk

Iran Disebut Ingin Meningkatkan Tekanan

Mantan diplomat senior AS Alan Eyre mengatakan keputusan Iran mempertahankan penutupan Selat Hormuz merupakan bagian dari strategi untuk meningkatkan tekanan terhadap Washington.

Menurut Eyre, Iran sebenarnya telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai jalur bagi kapal yang masuk dan keluar dari selat tersebut.

Namun, Teheran belum menerapkan kesepakatan itu karena masih ingin menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan.

“Meskipun mereka telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai jalur kapal yang masuk dan keluar selat, mereka belum ingin mengaktifkan dan menerapkannya karena mereka ingin meningkatkan tekanan pada Amerika Serikat,” kata Eyre kepada Al Jazeera.

Ia mengatakan Iran juga berusaha membangun kembali kemampuan pencegahan strategis agar serangan terhadap negaranya tidak kembali terjadi.

“Yang mereka coba lakukan adalah membangun kembali pencegahan strategis untuk mencegah serangan di masa depan,” ujarnya.

Baca juga: Terungkap! Ancaman Iran Bikin Trump Diam-Diam Ganti Pesawat di Turki, Air Force One Jadi Umpan

AS dan Houthi Lancarkan Serangan

Ketegangan juga terjadi di jalur perairan lain yang menghubungkan kawasan Teluk dan Laut Merah.

Pada Selasa, Komando Pusat AS mengatakan sebuah helikopter MH-60 Angkatan Laut AS menembakkan dua rudal Hellfire untuk melumpuhkan sistem kemudi sebuah kapal kargo berbendera Panama di Teluk Oman.

Menurut AS, kapal tersebut telah mengabaikan peringatan berulang kali untuk berhenti karena dianggap melanggar blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran.

Sementara itu, di ujung selatan Laut Merah, empat awak kapal dilaporkan tewas dalam serangan yang diduga dilakukan kelompok Houthi terhadap sebuah kapal kargo kecil di Selat Bab al-Mandeb.

Kementerian Transportasi Yaman juga melaporkan dua petugas penyelamat dari kelompok militer anti-Houthi tewas dalam insiden tersebut.

Kapal yang diserang disebut bernama Tihamah dan berasal dari Mesir.

Jika terkonfirmasi, serangan tersebut akan menjadi salah satu serangan pertama Houthi terhadap kapal sejak perang terhadap Iran dimulai pada akhir Februari.

Namun, nama kapal tersebut tidak disebutkan dan belum ada tanggapan langsung dari pemerintah Arab Saudi.

Baca juga: VIDEO Rusia Kerahkan Kekuatan Nuklir ke Iran di Tengah Perang AS-Teheran Memanas

Konflik Terus Meluas

Konflik yang bermula dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari kini telah meluas ke sejumlah wilayah di Timur Tengah.

Iran dilaporkan telah menyerang aset dan infrastruktur AS di Oman, Yordania, Kuwait, Israel, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

Di Iran, sedikitnya 3.527 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 27.000 lainnya terluka.

Setidaknya 18 warga negara AS juga dilaporkan meninggal dunia.

Konflik turut berdampak terhadap Lebanon.

Kelompok Hizbullah yang didukung Iran telah melancarkan serangan terhadap Israel, sementara pasukan Israel melakukan serangan hampir setiap hari di Lebanon.

Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut eskalasi militer terbaru Israel sejak 2 Maret telah menewaskan lebih dari 4.300 orang dan melukai lebih dari 12.000 lainnya.

Di Israel, sedikitnya 60 orang dilaporkan tewas dalam serangan yang dilakukan Iran dan Hizbullah.

Dengan Iran yang masih mempertahankan syarat pembukaan Selat Hormuz dan AS yang belum menunjukkan kesediaan memenuhi tuntutan Teheran, upaya diplomasi menghadapi tantangan besar.

Kehadiran Pakistan sebagai mediator serta pembicaraan Iran-Oman dan Qatar memberi ruang bagi diplomasi.

Namun, selama tuntutan kedua pihak belum menemukan titik temu, Selat Hormuz berpotensi tetap menjadi salah satu pusat ketegangan utama dalam konflik Timur Tengah.

Baca juga: VIDEO - Trump Naik Truk Katering demi Hindari Ancaman Iran di Turki

(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.